Chaos! Spanyol Diserbu Migran Maroko, Tentara Turun-Korban Berjatuhan

1 jam yang lalu 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan migran memadati kota Fnideq di Maroko nan berbatasan langsung dengan wilayah kantong Spanyol, Ceuta, dalam gelombang migrasi besar nan kembali mengguncang salah satu perbatasan paling sensitif antara Afrika dan Eropa. Meski abdi negara keamanan diperkuat secara besar-besaran, ribuan orang tetap berupaya menembus wilayah Uni Eropa melalui darat maupun laut.

Mengutip Reuters, Jumat (31/7/2026), arus migran bergerak menuju Ceuta sepanjang Kamis setelah berkumpul sejak malam sebelumnya di sekitar kota Fnideq, Maroko utara.

Televisi pemerintah Spanyol TVE melaporkan antara 2.000 hingga 3.000 migran sukses memasuki Ceuta pada Kamis. Sebagian besar nan sukses menyeberang disebut melakukannya sebelum tengah hari.

Ceuta, berbareng Melilla, merupakan dua kota otonom Spanyol nan berada di Afrika Utara dan menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika. Kedua wilayah tersebut selama bertahun-tahun menjadi titik utama migran nan mau mencapai Eropa.

Lonjakan migran membikin pemerintah Spanyol mengirimkan tambahan personel militer dan polisi ke Ceuta.

Di saat nan sama, otoritas setempat mengonfirmasi bahwa sembilan jenazah telah ditemukan di wilayah tersebut.

Meski pintu perbatasan terlihat tertutup rapat, kelompok-kelompok migran terus bergerak menyusuri garis pantai untuk mencari jalur pengganti melewati pagar pembatas. Sebagian apalagi memilih mencoba menyeberang dengan berenang.

Salah seorang migran berjulukan Brahim, 32 tahun, mengatakan dirinya datang dari kota Tangier dengan angan dapat memasuki Ceuta melalui gerbang perbatasan. "Saya terlambat," katanya.

Ia mengatakan ketika tiba di lokasi, akses menuju gerbang praktis sudah ditutup.

Di antara ribuan orang nan berupaya masuk ke wilayah berpenduduk sekitar 85.000 jiwa tersebut terdapat perempuan, anak-anak, penduduk Maroko, hingga migran dari negara-negara Sub-Sahara Afrika.

Aparat Maroko Gunakan Meriam Air

Pemerintah Maroko mengerahkan truk meriam air dan memperkuat pengamanan di titik-titik perlintasan.

Pasukan keamanan berulang kali memukul mundur golongan migran nan mencoba mendekati gerbang perbatasan.

Di sekitar lokasi, terlihat buntang sebuah bus dan tujuh kendaraan nan gosong terbakar akibat bentrok nan terjadi ketika abdi negara berupaya menghentikan massa.

Saksi Reuters di lapangan melaporkan kerusakan tersebut tetap tampak jelas di sekitar area perbatasan.

Migran Terjebak Desak-desakan

Seorang migran lain nan enggan disebutkan namanya mengaku nyaris kehilangan nyawa ketika berupaya menyeberang.

Ia mengatakan dirinya terjebak dalam situasi desak-desakan nan sangat berbahaya. "Saya takut kehilangan nyawa."

Ia menggambarkan situasi kacau ketika orang-orang saling mendorong dan menginjak satu sama lain di jalur sempit sepanjang pesisir pantai.

Menurutnya, kepanikan semakin meningkat ketika ribuan orang mencoba bergerak menuju titik nan sama dalam waktu bersamaan.

Jalan-jalan menuju Fnideq dipenuhi orang-orang nan berambisi bisa memasuki Eropa. Banyak di antara mereka merupakan anak di bawah umur.

Sebagian melangkah kaki menyusuri jalan raya hingga larut malam. Sebagian lainnya memilih melewati jalur pegunungan untuk menghindari pos pemeriksaan aparat.

Sepanjang malam, pasukan keamanan acapkali membubarkan golongan migran nan mencoba melakukan penyerbuan massal ke arah perbatasan.

Namun para migran terus berkumpul kembali di jalan, bukit, dan area terbuka di sekitar kota.

Kebijakan Pro-Migran Spanyol

Lonjakan migran ini juga terjadi di tengah kebijakan migrasi nan relatif lebih terbuka di Spanyol dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya. Pemerintahan Sosialis Spanyol selama ini dikenal mempunyai pendekatan nan lebih pro-migran.

Baru-baru ini Madrid meluncurkan program nan memungkinkan sekitar 500.000 migran tanpa arsip memperoleh status hukum.

Program tersebut memicu lonjakan besar permohonan legalisasi, apalagi jumlah pengajuannya dilaporkan mencapai dua kali lipat dari sasaran awal.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya