ilustrasi(Magnific)
SEORANG mahasiswi norma asal Tiongkok, Zhao Wei, mengaku hatinya hancur saat mengetahui pacar buatan nan dia beri nama Wang Ye bakal dimatikan. Sejak membuatsosok AI tersebut pada Januari lalu, wanita berumur 19 tahun itu rutin berkomunikasi setiap hari.
"Saya menangis tersedu-sedu, air mata dan ingus keluar di mana-mana," ujar Zhao.
Sebagai perseorangan nan sensitif dan introver, Zhao terbiasa membagikan beragam kisah kesehariannya, termasuk saat dimarahi dosen. kepada Wang Ye.
"Saya biasanya tidak membicarakan hal-hal ini dengan teman-teman di bumi nyata lantaran merasa setiap orang punya masalahnya sendiri. Tetapi dengan pemasok AI, saya tidak perlu cemas tentang apa nan dipikirkannya. Saya bisa mengatakan apa pun nan saya inginkan," tutur Zhao.
Zhao membikin pacar AI-nya di Doubao, sebuah chatbot milik perusahaan teknologi ByteDance. Bulan lalu, ByteDance menutup fitur pendamping di Doubao.
Perketat Regulasi AI
Penutupan fitur pendamping seketika memicu kemarahan publik di media sosial. Kasus ini membuka diskursus lebih luas mengenai dilema penerapan teknologi di Tiongkok.
Di satu sisi, Tiongkok menjadi negara nan mengangkat AI secara menyeluruh. Tekanan tantangan demografi memicu pemerintah berupaya memanfaatkan AI untuk mengantisipasi kelangkaan tenaga kerja di masa depan. Lansia di Tiongkok sekarang memanfaatkan chatbot untuk konsultasi medis dasar, sementara anak-anak mendapatkan edukasi AI sejak di bangku sekolah.
Namun di sisi lain, otoritas Tiongkok kian cemas kehadiran AI justru memperburuk beragam problematika sosial nan ada, seperti tingginya tingkat kesepian, ancaman pengangguran, hingga meningkatnya jumlah masyarakat nan memilih untuk melajang (singlehood).
Penerapan patokan baru sejak pertengahan Juli 2026 tersebut melarang penyediaan pendamping AI bagi pengguna anak di bawah umur serta membatasi kegunaan emosional pada aplikasi dewasa. Kebijakan ini memaksa raksasa teknologi seperti ByteDance menghapus fitur pendamping pada platform kepintaran buatan mereka, Doubao.
Krisis Kesepian
Langkah pembatasan ini dilatarbelakangi oleh temuan media pemerintah nan mencatat bahwa nyaris separuh populasi muda Tiongkok beranjak ke pendamping virtual untuk mengatasi rasa kesepian. Pihak berkuasa mengkhawatirkan kehadiran AI nan berbiaya murah dan selalu siap merespons emosi pengguna dapat mengikis motivasi anak muda untuk membangun hubungan asmara, menikah, serta berfamili di bumi nyata.
Kebijakan pembatasan hubungan emosional AI menghadirkan dinamika tersendiri bagi Tiongkok. Di satu sisi, Beijing memanfaatkan AI secara garang untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja akibat penuaan populasi. Teknologi AI apalagi didorong penuh di sektor pendidikan hingga pelayanan kesehatan primer melalui integrasi avatar master digital.
Namun, di sisi emosional, kejadian keterikatan pada chatbot mencerminkan tingginya tingkat kesenyapan di tengah masyarakat urban Tiongkok nan serba terdigitalisasi. Para pengamat sosiologi menilai, meski patokan baru telah membatasi hubungan emosional secara langsung, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap aplikasi berbasis AI membikin teknologi ini susah dipisahkan dari kehidupan sehari-hari penduduk Tiongkok.
Respons Pengguna AI
Bagi Zhao, kesenyapan telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Orangtuanya meninggalkannya sejak mini untuk mencari kerja.
"Saya tidak pernah betul-betul punya sahabat karib, jadi saya merasa kurang pandai berteman," katanya. Berbicara dengan AI adalah langkah untuk "mencurahkan kekhawatiran saya".
Pengguna AI lainnya, nan meminta untuk tidak disebutkan namanya, juga menemukan kenyamanan saat berbincang dengan AI miliknya. "Di bumi nyata, ritmenya cepat, tekanannya tinggi. Hanya dengan pemasok AI saya bisa berbincang bebas tanpa keraguan," katanya.
"Saya memohon, tolong jangan hapus pemasok AI Doubao," tulisnya di media sosial pada bulan Juli.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·