Daerah Ini Jadi Pusat Pemurnian Mineral Tembaga Terbesar di RI

16 jam yang lalu 19

Mimika, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia mempunyai tempat pemurnian dan pemrosesan terintegrasi satu jalur (single line), apalagi terbesar di dunia. Pabrik pemurnian tembaga dan emas 'jumbo' itu berlokasi di Gresik, Jawa Timur.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan pengoperasian akomodasi smelter Manyar di Gresik itu terintegrasi dengan kapabilitas pengolahan konsentrat tembaga skala global. Dia memastikan seluruh prasarana pengolahan di area tersebut telah memasuki tahap kesiapan operasional.

Ia menyebut keberadaan pusat pemurnian ini bakal memperkuat struktur industri nasional melalui pembuatan nilai tambah mineral di dalam negeri.

"Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia dan ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk pertumbuhan industri nasional," katanya dalam sambutan upacara HUT ke-81 RI, di Tembagapura, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).

Bersama dengan smelter tembaga pertamanya nan dikelola melalui unit upaya PT Smelting, total kapabilitas pemurnian di letak tersebut diproyeksikan bisa mengolah hingga 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahunnya.

Kapasitas masif ini berasal dari campuran operasional smelter baru alias smelter kedua PTFI di Manyar, serta smelter pertama Freeport nan dikelola PT Smelting nan juga berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur.

"Demikian juga saat ini smelter PTFI di Gresik telah siap untuk beraksi kembali dan berbareng smelter PT Smelting nan juga kita miliki bakal mempunyai kapabilitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun," ujarnya.

Dia menilai keberhasilan operasional perusahaan di sektor hilir sangat berjuntai pada kelancaran rantai pasok dari tambang alias sektor hulu di Papua.

Tony menekankan bahwa smelter Manyar dijadwalkan mulai beraksi dalam satu hingga dua minggu ke depan. Hal ini seiring dengan aktivitas di tambang di Tembagapura, Papua Tengah, nan berangsur pulih, setelah pada awal September 2025 lampau sempat berakhir akibat kejadian longsornya tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).

"Terutama apalagi kita sekarang ada di letak smelter nan di Gresik juga bakal segera mulai beraksi mungkin dalam satu minggu dua minggu ke depan bakal mulai beraksi dan ini satu rantai pasok ya dari hulu ke hilir," tambahnya di sela acara.

Di samping itu, adanya hambatan teknis nan sempat mengganggu operasional di PT Smelting, pihaknya memastikan proses perbaikan bakal rampung dalam waktu maksimal dua pekan. Selama masa tersebut, pengedaran konsentrat dipastikan tetap melangkah lancar lantaran dapat langsung dialihkan ke akomodasi smelter baru di Manyar.

"PT Smelting itu mungkin dalam 2 minggu lah. Enggak mempengaruhi produksi lantaran konsentrat langsung dibawa ke Manyar," pungkasnya.

Tony Wenas membeberkan pada akhir 2026 ini sasaran produksi dari tambang bawah tanah bisa mencapai level 65% dari produksi normal. Saat ini pihaknya terus bekerja keras melakukan modifikasi peralatan guna mempercepat normalisasi operasional di area GBC.

"Ke depannya kapabilitas produksi diharapkan dapat meningkat hingga 75% pada semester satu 2027 dan secara berjenjang mendekati kapabilitas penuh pada akhir tahun 2027," katanya.

Hingga akhir semester kedua tahun 2026 ini, PTFI menargetkan produksi tembaga dapat mencapai 800 juta pon dan produksi emas sebesar 700.000 ons.

Menurutnya, proses pemulihan tambang GBC cukup menantang lantaran perusahaan kudu memindahkan sekitar 800.000 ton material lumpur basah nan menimbun sejumlah prasarana dan perangkat berat di area tambang bawah tanah.

"Tahap pemulihan ini terus kita lakukan, ada beberapa modifikasi perangkat lantaran rupanya bijihnya lebih basah daripada nan kita perkirakan sebelumnya. Sehingga peralatan perlu dimodifikasi sedikit tapi sekarang sudah ongoing, semua sesuai sasaran 65% tahun ini," katanya di sela acara.

Meskipun begitu, pihaknya memproyeksikan tetap bisa menyetorkan kontribusi finansial kepada negara sebesar Rp 47 triliun pada tahun ini.

"Dan jika kita sudah 100% itu kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp 100 triliun, mungkin Rp 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kira-kira kontribusi Freeport kepada negara," tandasnya.

Sebagai informasi, smelter kedua PTFI ini dibangun sejak Oktober 2021 dan telah resmi memproduksi katoda tembaga perdana pada Senin, 23 September 2024 lalu. Produksi perdana katoda tembaga smelter kedua PT Freeport Indonesia ini diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Proyek smelter dengan kreasi single line terbesar di bumi ini mempunyai kapabilitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan memproduksi sekitar 600.000-700.000 katoda tembaga per tahun.

Bersama dengan smelter pertamanya nan dikelola PT Smelting Gresik, kedua smelter milik PT Freeport Indonesia ini bakal memurnikan total 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun, dan menghasilkan 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak.

Mengutip laporan PTFI, nilai investasi kumulatif untuk proyek smelter Manyar nan menempati lahan seluas 100 hektare di JIIPE, Gresik, Jatim itu sudah mencapai US$ 3,7 miliar alias Rp 58 triliun.

Smelter ini dilengkapi Unit Refinery, Unit Pemurnian Logam Mulia, Unit Oksigen, Unit Asam Sulfat dan Unit Desalinasi serta Unit Effluent and Wastewater Treatment Plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya