Dampak AI pada Pekerjaan: Mengapa Manajer dan Pengacara Justru Semakin Dibutuhkan?

1 jam yang lalu 3
 Mengapa Manajer dan Pengacara Justru Semakin Dibutuhkan? Ilustrasi.(Magnific)

BANYAK prediksi awal mengenai kepintaran buatan (AI) menggambarkan masa depan nan suram bagi para ahli kerah putih. Peringkat akibat sering kali menempatkan manajer, analis keuangan, hingga pengacara di daftar teratas pekerjaan nan rentan digantikan oleh mesin.

Namun, info lapangan terbaru justru menunjukkan anomali nan mengejutkan. Profesi nan dianggap paling berisiko ini justru mengalami pertumbuhan, sementara peran administratif nan dianggap aman mulai menghilang.

Ekonom Gad Levanon baru-baru ini menguji teori kerentanan AI menggunakan info ketenagakerjaan pemerintah dari dua tahun terakhir. Temuannya, nan dipublikasikan pekan lalu, mematahkan narasi konvensional. Peran nan selama ini diberi label akibat tinggi--seperti manajemen, teknik, sains, dan hukum--terus berekspansi, apalagi dalam beberapa kasus mengalami percepatan pertumbuhan.

Anomali Data: Pertumbuhan vs Kontraksi

Sebaliknya, pekerjaan nan sebelumnya tidak dianggap sangat rentan, termasuk staf pencatatan (records clerks), pembukuan (bookkeepers), dan staf jasa pelanggan, justru mengalami kontraksi alias penyusutan nan cepat. Levanon melakukan kajian mendalam untuk memastikan apakah penurunan ini hanya pengaruh samping dari industri nan sedang lesu.

Hasilnya tetap konsisten: pekerjaan klerikal alias administratif tidak menyusut lantaran sektor industrinya sedang kesulitan. Pekerjaan tersebut menyusut justru di dalam sektor-sektor saat peran manajerial sedang berkembang pesat. Hal ini menunjukkan ada pergeseran struktural dalam langkah perusahaan mengalokasikan sumber daya manusia mereka di era AI.

Kategori Pekerjaan Status Saat Ini Alasan Utama
Manajemen, Hukum, Sains Tumbuh/Ekspansi Membutuhkan tanggung jawab, penilaian manusia, dan kepemimpinan.
Administrasi, Pembukuan, CS Menyusut/Kontraksi Proses berbasis patokan nan mudah diotomatisasi secara end-to-end.

Tugas vs Tanggung Jawab

Mengapa prediksi awal meleset? Para mahir menunjuk pada perbedaan mendasar antara tugas dan tanggung jawab. Rudy DeFelice, Executive Vice President dan Global Head of AI Strategy di Harbor Global, menjelaskan bahwa AI saat ini memang bisa mengotomatisasi sebagian tugas profesional, tetapi tidak bisa mengambil alih tanggung jawab nan menyertainya.

"Ada perbedaan antara tugas nan dilakukan seorang ahli dan tanggung jawab nan datang dengan tugas-tugas tersebut," ujar DeFelice. Senada dengan perihal itu, Sheldon Arora, CEO StaffDNA, menyatakan bahwa peran klerikal berakibat langsung lantaran melibatkan proses standar berbasis patokan nan relatif mudah diotomatisasi sepenuhnya. Namun, untuk peran manajerial, perusahaan tidak bakal mengganti seluruh pekerjaan hanya lantaran AI bisa menyelesaikan sebagian mini pekerjaan mereka.

Insight Utama: AI tidak menggantikan pekerjaan nan memerlukan thought leadership, manajemen tim, dan pengalaman spesifik pekerjaan seperti kedokteran alias hukum. Paparan AI tingkat menengah tidak berfaedah penggantian manusia secara total.

Masa Depan Keterampilan Manusia

Meskipun peran manajerial tumbuh, kekhawatiran tetap menghantui lapisan manajemen menengah. Jeff McMillan, CEO McMillanAI, mencatat bahwa gelombang teknologi baru membikin banyak pekerja mempertanyakan nilai masa depan mereka di dalam organisasi. Ketidakpastian ini diperkirakan bakal terus bersambung seiring AI merasuk lebih dalam ke operasional upaya standar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Namun, Kelly Heuer dari Project Management Institute memberikan pandangan optimistis. Menurutnya, manajer, analis, dan pengacara mengandalkan keahlian nan tidak tergerus oleh otomatisasi, yaitu:

  • Pemikiran kritis tingkat tinggi (Critical thinking).
  • Manajemen pemangku kepentingan nan kuat (Stakeholders management).
  • Penilaian manusia nan tajam (Human judgement).

Keterampilan-keterampilan inilah nan membantu para ahli menavigasi ketidakpastian dan mengubah prioritas strategis menjadi hasil nan berakibat nyata, sesuatu nan hingga saat ini belum bisa direplikasi oleh algoritma AI manapun. (Inc/I-2)

Selengkapnya