Dampak El Nino, Tujuh Daerah di NTB Masuk Status Awas Kekeringan

1 jam yang lalu 3
Dampak El Nino, Tujuh Daerah di NTB Masuk Status Awas Kekeringan Seorang penduduk melintasi pematang sawah nan kering akibat tandus di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (28/7/2026).(ANTARA/Sugiharto Purnama)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan tujuh dari sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berada dalam status Awas kekeringan meteorologis. Kondisi tandus ekstrem ini diperparah oleh kejadian El Nino nan kian menguat dengan indeks intensitas mencapai +2,26 derajat Celsius.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di NTB apalagi mencatatkan deret Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan lama nan sangat panjang.

"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua wilayah itu masuk kategori kekeringan ekstrem lantaran sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Suci di Mataram, Sabtu (1/8).

Suci memaparkan, tujuh wilayah nan sekarang memegang level tertinggi peringatan awal kekeringan meteorologis tersebut meliputi:

  1. Kabupaten Lombok Timur
  2. Kabupaten Lombok Utara
  3. Kabupaten Sumbawa Barat
  4. Kabupaten Sumbawa
  5. Kabupaten Dompu
  6. Kabupaten Bima
  7. Kota Bima

Secara keseluruhan, terdapat 17 kecamatan nan tersebar di tujuh kabupaten/kota tersebut nan mengalami akibat kekeringan paling parah akibat akumulasi penguatan El Nino selama musim tandus tahun ini.

Proyeksi Hujan Rendah

Berdasarkan kajian suasana BMKG, penguatan El Nino diperkirakan tetap bakal memperkuat dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, kejadian Indian Ocean Dipole (IOD) alias Dipol Samudra Hindia nan saat ini berada pada fase netral, diproyeksikan bakal bergeser menuju fase positif sepanjang September hingga Desember 2026.

Pada akhir Juli 2026, akumulasi curah hujan di wilayah NTB secara umum berada pada kategori sangat rendah, ialah berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi pada periode tersebut hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, dengan besaran 19 milimeter per dasarian.

Untuk dasarian I Agustus 2026 (periode 1–10 Agustus), BMKG memperkirakan probabilitas keterjadian hujan tetap sangat minim. Peluang munculnya hujan tercatat kurang dari 10 persen di seluruh cakupan wilayah NTB.

Waspada Kebakaran Lahan dan Krisis Air Bersih

Menyikapi eskalasi kekeringan ini, BMKG mengimbau pemerintah wilayah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta pemukiman. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan maupun meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

"Sehubungan hari tanpa hujan nan kian panjang dan wilayah nan masuk status hati-hati kekeringan meteorologi juga semakin banyak, maka kami minta masyarakat dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih," pungkas Suci.

(Ant/P-4)

Selengkapnya