Google Tarik Fitur AI Google Earth, Seberapa Bahaya Gambar Rekayasanya?

58 menit yang lalu 2
Google Tarik Fitur AI Google Earth, Seberapa Bahaya Gambar Rekayasanya? Ilustrasi: Pengunjung sedang memandang peta Google Earth Paris, Prancis, pada sebuah aktivitas di Museum Seni Whitney, New York(TIMOTHY A. CLARY / AFP)

RAKSAKSA teknologi Google resmi menarik kembali fitur visualisasi kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) pada jasa Google Earth pada Jumat (31/7), hanya sehari setelah diluncurkan. Langkah ini diambil usai gelombang penolakan keras dari master verifikasi digital dan peneliti nan menilai fitur tersebut membahayakan kebenaran informasi.

Fitur create image nan memadukan teknologi AI Nano Banana 2 itu sebelumnya memungkinkan pengguna merekayasa gambaran satelit, peta 3D, dan foto udara menjadi visual baru dalam hitungan detik. Langkah Google nan menyematkan kreator gambar otomatis di platform rujukan utama pemeriksaan kebenaran bumi tersebut memicu kecaman luas.

"Kami menyadari masyarakat mempunyai kepercayaan nan tinggi terhadap Google Earth sebagai referensi bumi nan andal. Kami menarik kembali fitur ini selagi kami menerapkan batas pengaman nan lebih kuat," ujar ahli bicara Google merespons polemik tersebut.

Kekhawatiran para master terbukti beralasan. Dalam uji coba independent, fitur tersebut sanggup memproduksi gambaran satelit tiruan dengan perincian presisi nan berpotensi memicu krisis geopolitik, seperti rekayasa ledakan di Paris, letak akomodasi nuklir di Iran, kawah peledak di Rusia, hingga pemandangan kamp militer di Suriah.

Pakar investigasi digital Henk Van Ess menyindir keras langkah Google nan dinilai merusak kredibilitas platformnya sendiri.

"Google menghabiskan waktu 20 tahun untuk membangun rujukan nan dipercaya dunia. Hari ini mereka menambahkan tombol nan membikin hal-hal rekayasa," tegas Henk Van Ess.

Peringatan senada disampaikan Executive Director Centre for Information Resilience Ross Burley. Ia menyoroti ancaman manipulasi visual nan dapat meruntuhkan legitimasi pemetaan satelit.

"Kepercayaan terhadap gambaran satelit memerlukan waktu puluhan tahun untuk dibangun dan dapat rusak tak berbekas hanya dalam semalam," ujar Ross Burley.

Ancamannya dianggap makin krusial mengingat gambaran satelit buatan sering kali memicu kekacauan nyata. Insiden foto AI ledakan gedung Pentagon pada 2023 lampau tercatat sempat mengguncang pasar saham dunia secara mendadak.

Merespons potensi kekacauan info nan dapat meluas, Google akhirnya menghapus opsi tombol rekayasa gambar tersebut dari seluruh jaringan jasa Google Earth. (AFP/P-4)

Selengkapnya