Dari Lapak Mama-Mama, Negara Membaca Ekonomi Rakyat

59 menit yang lalu 2
Dari Lapak Mama-Mama, Negara Membaca Ekonomi Rakyat Yuli Bana, 50, menunggu pembeli di lapaknya di Pasar Kasih, Kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (27/7/2026). Pedagang di pasar tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga menjadi bagian dari degub ekonomi daerah.(MI/Palce Amalo)

MINGGU (26/7) malam sekitar pukul 21.00 Wita, Yuliana Jun, 48, melangkah menuju pelataran Pasar Kasih di Kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak bungsunya, Iksan, 8, sudah tertidur di atas tikar lapaknya.

Di sana, pedagang perantara sibuk menurunkan sayur-mayur dan hasil bumi lainnya nan diangkut dengan mobil pikap dari beragam desa di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan.

Pedagang eceran, termasuk Yuliana, menunggu proses pembongkaran selesai. Malam itu, dia membeli sawi putih, sawi manis, salada air, pakcoy, daun sereh, daun kemangi, dan kacang nasi dengan modal bervariasi mulai dari Rp30 ribu sampai Rp50 ribu, dengan total shopping sekitar Rp350 ribu.

Satu per satu sayuran dimasukkan ke dalam karung, lampau dia memanggulnya menuju lapaknya nan berjarak sekitar 250 meter dari letak pelataran pasar. 

Di perspektif lapak, Iksan tetap terlelap di atas tikar. Sepulang sekolah, Iksan nyaris setiap hari menemani ibunya berdagang sampai larut malam. Yuliana menyimpan karung sayuran untuk dijual keesokan harinya lampau membangunkan anaknya. Mereka pulang ke rumah jelang pukul 23.00 Wita.

Setiap malam, dia menjalani rutinitas itu tanpa jeda. Keesokan paginya, setelah mengantar Iksan ke sekolah, dia kembali ke pasar, membuka lapak dan menata sayuran sembari menunggu pembeli.

Dari hasil penjualan keesokan harinya, Yuliana mengaku memperoleh untung bersih rata-rata Rp100 ribu per hari. Dari untung itu, dia tetap kudu bayar retribusi pasar sebesar Rp7.000 per hari, serta mencicil pinjaman modal di koperasi.

Namun, untung sebesar itu tidak selalu diperoleh dengan mudah. Tidak semua sayuran lenyap terjual setiap hari. Sebagian menjadi layu dan akhirnya dijual kembali sebagai pakan ternak dengan nilai lebih murah, tetapi kerugian dari satu jenis sayuran biasanya tetap dapat ditutupi oleh untung dari jenis sayuran nan lain.

"Saya pinjam modal Rp500 ribu dengan angsuran harian Rp25 ribu selama 28 hari. Kalau pinjam Rp1 juta, angsuran Rp50 ribu per hari," jelas wanita asal Kabupaten Manggarai Timur tersebut.

Beberapa lorong dari lapak Yuliana, Yuli Bana, 50, sibuk menata peralatan dagangannya di meja kayu. Dia menjual jagung biji, kacang hijau, kunyit, kacang tanah, labu dan umbi-umbian. Barang dagangan itu didatangkan dari Pasar Tradisional Camplong, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. 

Dia sudah tiga tahun berdagang di lapaknya nan disewa berbareng penyimpanan untuk menyimpan stok peralatan dagangan sebesar Rp3.850.000 per tahun. 

"Pendapatan pedagang sangat berjuntai pada pembeli. Kalau pada hari ramai, untung sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu, tetapi kadang untung hanya Rp200 ribu," kata wanita asal Desa To'i, Kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan tersebut. 

Yuliana dan Yuli hanyalah dua dari 325 pedagang nan setiap hari mencari nafkah di Pasar Kasih, pasar induk di Kota Kupang. Mayoritas adalah pelaku upaya mikro nan memperkuat dengan modal sendiri alias pinjaman, bayar retribusi, menyewa lapak dan berambisi peralatan dagangannya lenyap terjual setiap hari. 

Di kembali aktivitas jual beli itu, duit berputar setiap hari, menghidupi family pedagang sekaligus menjadi bagian dari degub ekonomi Kota Kupang. Aktivitas upaya seperti itulah nan sekarang didata Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Ekonomi (SE) 2026 nan berjalan sejak 15 Juni-31 Agustus 2026.

Proses Pendataan Usaha

Tahapan Sensus Ekonomi dimulai pada 1 Mei 2026 dengan pendataan perusahaan besar melalui metode pengisian berdikari secara daring. Selanjutnya, untuk upaya masyarakat, petugas melakukan wawancara secara langsung dengan mendatangi rumah maupun letak usaha.

Kepala BPS NTT Matamira B Kale mengatakan SE 2026 meliputi seluruh aktivitas usaha, mulai dari upaya mikro, kecil, menengah sampai upaya besar. Pendataan dilakukan di tempat tinggal pemilik upaya untuk menghindari terjadinya pendataan dobel serta upaya nan terlewatkan. 

"Kalau usahanya tidak mempunyai tempat tetap seperti pedagang keliling, kami mendatangi rumahnya. Dengan begitu, setiap upaya hanya didata satu kali," sebutnya.

Data SE 2016 memperlihatkan struktur upaya di NTT didominasi pelaku upaya mikro dan kecil. Dari 432.673 unit upaya nan tercatat, sebanyak 430.312 unit (99,45%) merupakan upaya mikro dan kecil. Sisanya, 2.362 unit (0,55%) merupakan upaya menengah dan besar.  

Bagi Matamira, kekuasaan upaya mikro dan mini menggambarkan sebagian besar ekonomi NTT tetap bertumpu pada upaya berskala kecil. Karena itu, hasil sensus ini menjadi salah satu injakan pemerintah dalam menyusun kebijakan, mulai dari pengembangan UMKM, investasi, hingga program pemberdayaan masyarakat.

Ia pun membujuk masyarakat menerima kehadiran petugas sensus dan memberikan info nan betul agar hasil sensus betul-betul mencerminkan kondisi perekonomian di lapangan.

Denyut Ekonomi Kota

Saat malam kian larut, mobil pikap bergantian memasuki Pasar Kasih untuk membongkar hasil bumi. Sayur-mayur, umbi-umbian, rempah dan peralatan dagangan lainnya, kemudian beranjak ke lapak-lapak pedagang sebelum dibawa pulang pembeli.

Arus komoditas itu menjadikan Pasar Kasih sebagai salah satu simpul pengedaran kebutuhan pangan bagi masyarakat Kota Kupang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kota Kupang, Alfred Lakabela menyebut Kota Kupang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangannya sendiri. Sebagai kota jasa, sebagian besar kebutuhan pokok berasal dari wilayah lain di NTT. 

"Pasokan pangan dari wilayah lain menjadi penopang utama perdagangan di kota ini," jelasnya.

Menurut Alfred, perdagangan di Kota Kupang hidup lantaran pasokan hasil bumi dari beragam wilayah terus mengalir tanpa putus. 

Data Deperindag Kota Kupang mencatat terdapat 5.957 industri mini dan menengah (IKM) nan bergerak di beragam sektor, mulai dari pengolahan makanan, mebel, pertukangan hingga industri rumah tangga. Di luar itu, terdapat 2.005 upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nan bergerak di bagian perdagangan dan jasa.

Pada 2025, Pemerintah Kota Kupang menyalurkan support kepada 95 IKM berupa kompresor angin, mesin serut kayu, dan mesin steam cuci motor. Sementara 133 UMKM menerima gerobak, cool box, meja portable, container booth, dan meja lipat untuk menunjang aktivitas upaya mereka.

Saat sebagian besar penduduk Kota Kupang terlelap, Yuliana kembali bersiap membeli sayuran untuk dagangan besok hari. Besok pagi, dia kembali menunggu pembeli, lampau malam harinya mengulang rutinitas nan sama.

Melalui SE 2026, keseharian Yuliana Jun dan ribuan pelaku upaya mikro nan selama ini berjalan di lorong-lorong pasar sekarang menjadi bagian dari potret perekonomian Indonesia. Dari lapak sederhana mereka, negara membaca degub ekonomi rakyat. (PO/E-4)

Selengkapnya