DBS Insights Forum: Pelaku Pasar Tetap Optimistis pada Indonesia

7 jam yang lalu 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian ekonomi dunia tetap membayangi para investor. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir terdapat beragam tantangan seperti tekanan geopolitik, perubahan arah kebijakan fiskal maupun moneter, hingga dinamika domestik nan mempengaruhi keputusan para pelaku pasar.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya dalam DBS Insights Forum 2026: "A New Lens on a Multipolar World", pada sesi nan berjudul "Indonesia: Built on Strong Fundamentals". Sebagai informasi, DBS Insights Forum 2026 merupakan forum obrolan nan mempertemukan master geopolitik, hubungan internasional, dan investasi untuk membahas prospek ekonomi Indonesia, arah kebijakan, serta strategi investasi nan relevan di semester II 2026.

DBS Insights Forum 2026 menghadirkan sejumlah master terkini, manajer investasi terkemuka, serta master dari Bank DBS Indonesia untuk berbagi perspektif strategis nan membantu pelaku upaya dan penanammodal dalam memahami beragam perubahan kebijakan dan rantai pasok serta implikasinya pada prospek ekonomi Indonesia.

Melalui forum tersebut, Yunarto menjelaskan bahwa setiap pemimpin tentu mau mengedepankan kepentingan nasional dan pertumbuhan ekonomi di negaranya. Namun, tantangan bagi pemimpin saat ini adalah menjaga keseimbangan kebijakan nan berpihak pada domestik sekaligus menarik investasi asing.

"Pada masa transisi, biasanya economic growth bakal agak dikorbankan. nan kita lihat saat ini adalah Pak Prabowo sepertinya mau keduanya. Di satu sisi, dia nan berbincang national interest dengan kemudian sedikit mulai memberlakukan beberapa kebijakan capital control, seperti DSI dan lain-lain," kata dia dalam aktivitas DBS Insights Forum 2026 pada sesi nan berjudul "Indonesia: Built on Strong Fundamentals", Rabu (15/7/2026).

Di sisi lain, Yunarto menyebut, perhatian besar nan ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri dan upaya reindustrialisasi mencerminkan kemauan pemerintah agar nilai tambah dari produk tersebut betul-betul dinikmati Indonesia.

Pendekatan tersebut dinilai mempunyai kemiripan dengan kebijakan proteksionis nan diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meski dalam skala berbeda. Hanya saja, kebijakan itu berpotensi memengaruhi negara-negara nan selama ini mempunyai peran besar dalam industrialisasi Indonesia, terutama di sektor sumber daya alam seperti nikel dan timah.

Dalam kesempatan nan sama, Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry menganggap Indonesia tetap mempunyai aspek esensial nan membikin rasa optimisme tetap terjaga dalam kondisi saat ini. Di antaranya adalah kesiapan sumber daya alam nan melimpah, tingginya konsumsi domestik, keberadaan bingkisan demografi, hingga keberlanjutan hilirisasi industri.

"Kalau kita lihat, aspek dari dunia mengenai dengan geopolitical tension, entah itu di Timur Tengah, entah itu di Eropa Timur, entah itu di Asia, lambat laun itu juga kecenderungan bakal mulai ada settlement dan di domestik sendiri, kami memandang beragam rumor nan sempat menjadi perhatian juga mulai mereda," terang dia.

Berkaca dari situ, sekarang penanammodal sudah mulai mempunyai lanskap nan jelas dalam menyusun strategi investasi. Secara keseluruhan, Bank DBS Indonesia tetap optimistis dengan prospek jangka menengah Indonesia.

Untuk saat ini, Bank DBS Indonesia memandang bahwa volatilitas pasar nan terjadi belakangan ini tetap berangkaian dengan ketidakpastian geopolitik dan penyesuaian arah kebijakan fiskal domestik. Ke depannya, perkembangan shopping pemerintah (government spending) di tengah kenaikan suku kembang referensi juga bakal banyak dibahas oleh pelaku pasar.

Lebih lanjut, perkembangan teknologi kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) diyakini bisa menjadi katalis baru bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar di dunia, sehingga berkesempatan mendapatkan faedah dari meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk industri AI dan pusat data.

Sementara itu, Investment Director PT Trimegah Asset Management, Darma Yudha menuturkan, lesunya keahlian pasar modal Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir justru membikin valuasi pasar menjadi menarik.

Darma mengaku, berasas pengalamannya berkecimpung nyaris 17 tahun di pasar modal, saat ini merupakan salah satu periode paling berat bagi pasar sejak krisis tahun 2008 silam. Walau demikian, dia menganggap pasar saham bergerak berasas persepsi dan kredibilitas, sehingga dua aspek ini nan tetap ditunggu perkembangannya.

"Jadi sebenarnya kalau time horizon-nya untuk lebih dari 1 tahun untuk bisa perform dari market equity, ini sangat besar, ini tetap ada overhang, contoh MSCI kelak tetap bulan November, kita tetap tunggu juga, walaupun development-nya udah lebih bagus ya, sekarang dari bursa, OJK udah kooperatif, tapi tetap kita tunggu juga perkembangan lebih lanjut," ungkap Darma.

Darma menambahkan, keputusan S&P Global Ratings nan mempertahankan ranking Indonesia tentu menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi. Kendati begitu, para penanammodal tetap perlu mencermati potensi kenaikan suku kembang referensi The Fed nan tetap dapat memicu volatilitas di negara-negara emerging market seperti Indonesia.

Maka dari itu, Trimegah Asset Management tetap merekomendasikan penanammodal untuk memperbanyak porsi obligasi berdurasi pendek. Strategi ini dinilai lebih bisa untuk menjaga stabilitas portofolio dibandingkan obligasi tenor panjang selama ketidakpastian pasar tetap berlangsung.

Tak ketinggalan, Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Edi Kusnadi memaparkan, saat ini tetap banyak saham dengan valuasi murah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan, esensial dari saham-saham tersebut tetap tergolong solid.

Oleh karena itu, tren koreksi keahlian pasar saham sebenarnya dapat menjadi momentum nan tepat bagi penanammodal untuk melakukan akumulasi investasi pada saham-saham nan dinilai punya valuasi murah dan prospek positif secara jangka panjang. Edi juga menyarankan penanammodal untuk mencari sektor-sektor saham nan risikonya paling minim sebagai langkah awal.

"Masih banyak banget emiten nan perform tahun ini. Hampir semua sektor itu positif earning growth tahun lampau itu negatif jadi harusnya IHSG turunnya tahun lalu, naiknya tahun ini, tapi keacak-acak sama speculative stocks dan policy confidence gitu ya. Kurang lebih seperti itu," kata dia.

Edi melanjutkan, Batavia Prosperindo Aset Manajemen merekomendasikan sektor-sektor nan terbilang cukup defensif, seperti konsumer dan perawatan kesehatan (healthcare). Sektor ini dinilai cukup tahan banting di tengah beragam tantangan nan terjadi di pasar. Terlebih, pertumbuhan ekonomi nasional tetap memperkuat di kisaran 5% dan tidak semua sektor turut merasakan pertumbuhan sebesar itu.

Beragam pandangan nan mengemuka dalam DBS Insights Forum 2026 menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan ekonomi, dan volatilitas pasar, penanammodal tetap dapat menemukan kesempatan dengan memahami beragam dinamika nan memengaruhi perekonomian dan pasar keuangan. Karena itu, akses terhadap wawasan nan relevan dan perspektif dari para master menjadi semakin krusial dalam membantu penanammodal mengambil keputusan nan lebih terukur.

Melalui DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, Bank DBS Indonesia menghadirkan beragam perspektif dari master geopolitik, ekonomi, dan investasi guna membantu pengguna serta penanammodal memahami perubahan lanskap global, mengidentifikasi peluang, dan mengantisipasi akibat di tengah tatanan ekonomi nan terus berkembang.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client datang sebagai mitra tepercaya dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan. Dengan support insights tajam dari Best Chief Investment Office by The Assets serta pandangan strategis dari para pakar, pengguna dapat mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri. Beragam solusi pengelolaan kekayaan nan komprehensif pun dihadirkan untuk membantu pengguna menavigasi dinamika pasar, mengoptimalkan kesempatan investasi, serta mewujudkan tujuan finansial jangka panjang.

Komitmen tersebut turut tercermin melalui beragam pengakuan nan diraih Bank DBS Indonesia. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya