Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian dunia nan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, pergerakan suku bunga, perubahan nilai tukar, hingga perubahan kebijakan di beragam negara membikin pengelolaan kekayaan menjadi semakin kompleks.
Dalam situasi seperti ini, pengguna tidak hanya memerlukan akses terhadap produk keuangan, tetapi juga wawasan nan mendalam dan relevan untuk membantu mereka mengambil keputusan nan tepat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World. Forum ini menghadirkan para master dari Bank DBS Indonesia dan beragam bagian untuk membahas lanskap ekonomi dan geopolitik global, strategi menavigasi pasar Asia dan Amerika Serikat, kesempatan bisnis, serta pendekatan pengelolaan kekayaan di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia.
Untuk itu, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengungkapkan pihaknya menyiapkan beragam strategi dalam membantu pengguna menghadapi tantangan tersebut.
"Tentunya Bank DBS Indonesia datang melalui relationship manager (RM) nan juga diperlengkapi dengan beragam insights," ungkap Melfrida, dalam DBS Insight Forum 2026 dengan tema "A New Lens on a Multipolar World", Rabu (15/7/2026).
Dia memaparkan, DBS Bank Ltd (Bank DBS) mempunyai Chief Investment Officer (CIO) nan beraksi di Singapura. Mereka bekerja untuk memberikan wawasan nan relevan dari kacamata dunia bagi pengguna sebelum mengambil keputusan.
"Insights oleh CIO kami kemudian diolah oleh para RM disertai dengan pengetahuan mereka mengenai preferensi dan tujuan finansial setiap nasabah. Sehingga ketika mereka memberikan solusi kepada nasabah, advisory tersebut sudah lebih tajam dan insightful," ungkap Melfrida.
Tak hanya itu, Bank DBS Indonesia membantu pengguna dengan fitur nudges nan dipersonalisasi. Fitur berbasis Artificial Intelligence (AI) dan analitik info ini digunakan untuk memberikan wawasan, rekomendasi, serta notifikasi finansial nan sangat disesuaikan dengan kebiasaan, riwayat transaksi, dan profil akibat masing-masing nasabah.
"Sehingga kita melakukan nudges itu dibantu dengan AI juga, dibantu juga dengan machine learning. Sehingga relevan dan actionable," tambah dia.
Sementara itu, ketika terjadi tantangan ketiga, ialah momentum kebijakan dari AS, Bank DBS Indonesia juga langsung melakukan online webinar dengan para pengguna untuk mengantisipasi perihal tersebut. Melfrida mencontohkan peristiwa ini sempat terjadi pada masa Lebaran 2025, ialah ketika terjadi perang antara Rusia dan Ukraina.
"Itu juga dalam satu sampai dua hari kita langsung melakukan online webinar untuk memberikan insights kepada pengguna sehingga mereka lebih tenang menghadapi situasi nan tidak menentu," jelasnya.
Tak hanya pengguna perorangan, tantangan juga dihadapi oleh pengguna korporasi. Dalam kesempatan nan sama, Institutional Banking Director PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin menjelaskan tantangan tersebut berbeda dengan pengguna perorangan.
"Faktornya apa, sih? Misalnya interest rate, terus jika perusahaan itu bergerak di bagian nan ada hubungannya dengan commodity, ya pasti tergantung nilai komoditas juga," ungkap dia.
Kebijakan dari pemerintah pun turut menentukan dan membikin situasi semakin kompleks bagi pengguna korporasi. Selain itu, kejuaraan antar negara, seperti ekspor dan impor. Terakhir adalah penemuan dan transformasi.
"Jadi, baik di bumi perbankan maupun di korporasi, dan of course di level perorangan dan family pun itu bakal terdampak cukup signifikan," tambah Seho.
Tantangan terhadap pasar juga dipaparkan oleh Head of Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia Ronny Setiawan, khususnya pada 2026. Menurut dia, awal 2026 merupakan momen nan unik karena pasar meletakkan ekspektasi terhadap kebijakan suku kembang AS. Hal ini membawa perubahan alias shifting paradigma di pasar.
"Jadi ada perubahan, shifting di market paradigm gitu. Kenapa market itu berubah? Salah satunya ada kejadian apa? Kalau last year kita punya Trump tariff, tahun ini kita ada Iran war," jelas dia.
Ronny juga menjelaskan waktu nan tepat untuk melakukan wealth structuring alias pengorganisasian aset serta kekayaan secara strategis. Di mana kekayaan tersebut bukan hanya untuk investasi.
Menurut dia, sebelum seseorang melakukan wealth structuring perlu untuk memahami dulu tujuannya. Seseorang tak perlu FOMO alias ikut-ikutan ketika menemukan seseorang berinvestasi di bitcoin alias emas.
"Jadi, I think setiap perseorangan punya lifestyle sendiri, experience sendiri nan berbeda-beda. Tapi nan kudu dilihat itu, jangan FOMO. Itu nan pertama, ya," ungkap Ronny.
Selain itu, perlunya melakukan alokasi portofolio. Alokasi portofolio dilakukan untuk mengantisipasi beragam kebutuhan seperti adanya keadaan darurat alias untuk jangka menengah dan jangka panjang.
"Kita itu jika kita main bola, itu ada defender, mid-fielder, attacker. Maksudnya apa? Karena portofolio juga sama, memerlukan defender. Misalnya apa? Uang tunai," terang Ronny.
Berbagai pembahasan dalam DBS Insights Forum 2026 menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian pasar dan perubahan lanskap ekonomi global, pengguna memerlukan kombinasi antara wawasan nan mendalam, perencanaan nan matang, dan strategi nan sesuai dengan tujuan finansial masing-masing.
Melalui forum ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan beragam perspektif dari para master untuk membantu pengguna memahami dinamika pasar, mengelola risiko, sekaligus menangkap kesempatan pertumbuhan jangka panjang.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client datang sebagai mitra tepercaya dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan.
Dengan support insights dari Best Chief Investment Office by The Assets nan mendalam serta pandangan strategis dari para pakar, pengguna dapat mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri. Beragam solusi pengelolaan kekayaan nan komprehensif pun dihadirkan untuk membantu pengguna menavigasi beragam kondisi pasar, mengoptimalkan kesempatan investasi, serta mewujudkan tujuan finansial jangka panjang mereka.
Komitmen tersebut turut tercermin melalui beragam pengakuan nan diraih Bank DBS Indonesia. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari Finance Asia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

46 menit yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·