DBS Insights Forum Ungkap Peluang Investasi di Tengah Rivalitas Global

50 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian ekonomi dunia nan dipicu oleh perubahan geopolitik, arah kebijakan suku bunga, serta volatilitas pasar finansial menuntut penanammodal untuk mengambil keputusan secara lebih sigap dan terukur. Menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, nan mempertemukan master geopolitik, hubungan internasional, dan investasi untuk membahas prospek ekonomi Indonesia, arah kebijakan, serta strategi investasi nan relevan di semester II-2026.

Forum ini menghadirkan Dino Patti Djalal, Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sejumlah manajer investasi terkemuka, serta para master dari Bank DBS Indonesia. Mereka membagikan pandangan mengenai akibat perkembangan geopolitik dan kebijakan dunia terhadap ekonomi Indonesia, sekaligus mengidentifikasi kesempatan investasi di tengah dinamika pasar nan terus berkembang.

Dalam forum tersebut, Dino mengungkapkan bahwa kondisi geopolitik dunia nan tetap bergejolak, seperti situasi keamanan di Timur Tengah hingga rivalitas antar negara besar, tetap perlu diwaspadai dan disikapi dengan bijak. Kendati demikian, sejauh ini geopolitik Indonesia tetap tergolong di posisi aman.

"Banyak konflik, banyak perang, untuk kita semua itu memprihatinkan, tapi not one is aimed at us. Jadi crossfire-nya kita enggak di tengah sana tuh," ungkap Dino dalam aktivitas DBS Insights Forum 2026: "A New Lens on a Multipolar World" di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Dalam sesi nan mengangkat tema "Navigating US-Asia Market Regime", Dino menekankan jika Indonesia bukan sasaran langsung dari beragam ketegangan tersebut. Namun, dia mengingatkan, bahwa tantangan terbesar bukan lagi soal keamanan, melainkan gimana Indonesia bisa menjaga kepercayaan pasar. Dalam perihal ini, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan nan bisa memberikan rasa kondusif bagi investor. Sebab, penanammodal bakal mencari negara nan paling kondusif untuk menempatkan modalnya.

"Menurut saya, kondusif kita lihat dari S&P. Kemarin kita tetap di BBB gitu, ya, dan gambaran kita bagus, but we don't have enough artikulasi keluar. Jadi jika saya mau tanya misalnya, untuk IMF menjelaskan alias Bank Dunia, siapa orang Indonesia nan sekarang ini ada nan bisa keluar menjelaskan dengan logis dan charming dan artikulatif? Saya belum memandang tuh," sambungnya.

Pada sesi nan sama, Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo menuturkan, terdapat tiga perubahan besar nan saat ini memengaruhi arah investasi global. Pertama adalah inflasi nan terjadi saat ini berbeda dengan 10 tahun terakhir dan ini otomatis bakal berakibat terhadap suku bunga.

"Jadi kita saat ini memandang bahwa tren untuk suku kembang tampaknya relatif bakal lebih tinggi dibanding rata-rata 10 tahun terakhir. Nah, impact-nya apa jika suku kembang ini tinggi? Maka impact-nya adalah terhadap perihal lain termasuk juga dengan pertumbuhan ekonomi. Kalau inflasinya terlalu tinggi, otomatis banyak sekali duit beredar dan itu memengaruhi jumlah investasi dan juga mempengaruhi produk apa nan kita bakal investasi," ungkap dia.

Kedua, perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kepintaran buatan menjadi salah satu tren nan kudu diperhatikan di dalam bumi makro saat ini. Pasalnya, penggunaan AI dapat mengubah lanskap suatu industri seperti perbankan, manufaktur, hingga robotika.

"Contohnya, kita lihat sendiri banyak industri seperti perbankan contohnya itu banyak sekali menggunakan AI untuk membantu verifikasi alias assessment terhadap para pengguna termasuk kebutuhan-kebutuhannya," jelas Djoko.

Ketiga, perubahan berasal dari fragmentasi geopolitik nan didorong oleh perang berkepanjangan nan berakibat pada gangguan rantai pasok energi. Dari situ, strategi investasi nan diusung Bank DBS Indonesia, lanjut Djoko, tidak hanya konsentrasi kepada teknologi, melainkan pada instrumen-instrumen nan memanfaatkan suku kembang tinggi seperti obligasi.

Dalam kesempatan nan sama, Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, Laurentia Amica Darmawan menyatakan, penanammodal perlu menyadari bahwa era pendanaan murah kemungkinan sudah berakhir. Hal ini ditandai oleh kenaikan imbal hasil obligasi di Jepang alias negara-negara G7 nan kemudian menjadi sinyal bahwa biaya pendanaan (cost of fund) di pasar dunia bakal tetap tinggi.

Amica melanjutkan, kebutuhan investasi AI nan diperkirakan mencapai US$ 700 miliar-US$ 800 miliar pada 2026 diperkirakan bakal banyak ditopang oleh publikasi obligasi. Melihat kondisi tersebut, dia menilai strategi investasi oleh tiap penanammodal kudu kembali berfokus pada esensial perusahaan. Di sini, para penanammodal disarankan memilih emiten nan mempunyai neraca finansial kuat, arus kas nan sehat, kelebihan kompetitif, serta keahlian mempertahankan margin untung secara berkelanjutan.

"Jadi makanya everything is goes back to the esensial at the current moment di mana kita mencarinya adalah company nan dengan strong balance sheet kemudian juga dengan pricing power, competitive advantage dan cash flow nan juga lumayan strong," tukas Amica.

Tidak ketinggalan, Chief Economist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan menilai, Asia tetap menjanjikan secara jangka panjang. Mengingat, Asia tidak hanya berjuntai ke Tiongkok dikarenakan mempunyai sumber pertumbuhan nan saling melengkapi.

Sebagai gambaran, ada empat tema utama nan bakal menjadi motor pertumbuhan kawasan, antara lain teknologi dan AI, energi, pertumbuhan ekonomi domestik, serta diversifikasi pedoman manufaktur melalui strategi China Plus One. Dari segi AI, Korea Selatan serta Taiwan dinilai menjadi penerima faedah terbesar melalui industri semikonduktor dan memori.

Sedangkan untuk transisi energi, Tiongkok memimpin pengembangan daya terbarukan dan baterai, kemudian Korea unggul dalam teknologi kelistrikan, serta Indonesia mempunyai posisi strategis sebagai produsen mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi domestik di Indonesia, India, dan Tiongkok serta perpindahan pedoman manufaktur ke area ASEAN diperkirakan bakal terus membuka kesempatan investasi baru di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia.

"Tema besar nan terakhir adalah diversifikasi manufacturer mengenai dengan strategi China Plus One. Ini ASEAN diuntungkan lantaran mempunyai pedoman manufaktur nan sudah mumpuni, India juga tentunya," tandas dia.

Melihat beragam perubahan tersebut, Direktur Consumer Banking PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, menegaskan bahwa penanammodal perlu mempunyai pemahaman nan lebih mendalam terhadap dinamika pasar sekaligus keahlian untuk menangkap kesempatan di tengah volatilitas nan terjadi.

Menurutnya, persaingan pengaruh ekonomi dan politik antarnegara besar tetap bakal berjalan dan berpotensi menciptakan akibat baru bagi pasar global. Karena itu, penanammodal perlu membangun strategi nan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga pada pengelolaan akibat nan berkelanjutan.

Dalam konteks itulah Bank DBS Indonesia menghadirkan DBS Insights Forum sebagai wadah untuk membantu pengguna memperoleh perspektif nan lebih luas dalam mengambil keputusan keuangan.

"Mulai dari menavigasi pasar Amerika Serikat, Asia, dan Indonesia hingga menyeimbangkan kekayaan pribadi dan bisnis, serta mempersiapkan legacy dan menciptakan akibat nan berfaedah bagi masyarakat," tutur Melfrida.

Sebagai bagian dari komitmennya mendampingi pengguna di tengah ketidakpastian global, DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client datang sebagai mitra tepercaya dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan. Didukung insights tajam dari Best Chief Investment Office by The Assets serta pandangan strategis para master membantu pengguna mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri. Beragam solusi pengelolaan kekayaan nan komprehensif pun dihadirkan untuk membantu pengguna menavigasi dinamika pasar, mengoptimalkan kesempatan investasi, serta mewujudkan tujuan finansial jangka panjang.

Komitmen tersebut turut tercermin melalui beragam pengakuan nan diraih Bank DBS Indonesia. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya