Dirjenbun Kementan Pastikan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Dirjenbun Kementan Ali Jamil menghadiri FGD Perkebunan: Kondisi Sosial Ekonomi Pekebun dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat nan digelar DPN HKTI berbareng Pemuda Tani HKTI di Jakarta, Selasa (30/6/2026). Foto: Ist

JAKARTA - Komoditas perkebunan di Indonesia tetap mempunyai potensi besar untuk digenjot pengembangannya. Terbukti berasas info Badan Pusat Statistik (BPS) Juni 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat mencapai 164,24 alias tertinggi di seluruh subsektor lainnya.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjenbun Kementan) Ali Jamil mengatakan, sektor perkebunan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Berkaca pada sejarah, masyarakat nan mempunyai tanaman perkebunan justru bisa memperkuat ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi.

Baca juga: Pemerintah Terus Dorong Pemberdayaan Petani Kelapa Sawit

"Jangan menganggap perkebunan sebagai sektor nan rendah. Saat krisis 1998, masyarakat nan mempunyai tanaman perkebunan tetap bisa bertahan. Artinya, sektor ini mempunyai daya tahan ekonomi nan sangat kuat," ujar Ali dalam FGD Perkebunan: Kondisi Sosial Ekonomi Pekebun dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat nan digelar DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) berbareng Pemuda Tani HKTI di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Berdasarkan info BPS, subsektor perkebunan dijalankan oleh 10,87 juta rumah tangga upaya pertanian (potret makro perkebunan). "Maka, krusial memberdayakan, melindungi dan membimbing petani. Butuh kerja keras lantaran memang lebih dari 90 persen pelaku upaya perkebunan adalah petani rakyat sehingga perlu penguatan. Komoditas perkebunan kita potensinya sangat besar, luasannya, hasil produktivitasnya bagus. Permasalahan krusialnya adalah hasilnya tetap didominasi raw material, rantai pasok belum terintegrasi dengan baik," ungkapnya.

Dalam forum nan sama, Mudi, Sekjen DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyampaikan kekhawatirannya di tengah besarnya potensi komoditas perkebunan. Sejumlah komoditas strategis tetap menghadapi tantangan izin nan menekan, salah satunya tembakau.

"Tembakau adalah satu-satunya tanaman jagoan petani saat musim kemarau. Kontribusinya sangat besar bagi penerimaan negara, menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah. Tapi, berkali-kali ancaman patokan di tingkat nasional nan mau mematikan sumber penghidupan petani, mulai dari penyeragaman bungkusan rokok, pembatasan kadar nikotin dan tar, sampai pelarangan bahan tambahan. Bagaimana bisa hilirisasi tembakau terwujud jika tidak ada perlindungan?" ujar Mudi.

Selengkapnya