ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menyiapkan beragam langkah antisipasi menghadapi potensi akibat El Nino pada musim tandus 2026. Meski kekeringan mulai terjadi di sejumlah wilayah, pemerintah memastikan kondisinya tetap terkendali dibandingkan periode El Nino sebelumnya.
Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi mengatakan, pengalaman saat El Nino 2015 menjadi pelajaran krusial bagi pemerintah. Kala itu, luas lahan pertanian nan mengalami puso mencapai 217 ribu hektare. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kejadian El Nino pada 2023 maupun kondisi saat ini.
"(El Nino Tahun) 2015 itu puso 217 ribu hektare alias 1,5% dari luas panen. Nah untuk 2023 kemarin itu terjadi kekeringan akibat El Nino terjadi puso 49 ribu hektare alias 0,4%," kata Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
"Nah insyaallah, walaupun tetap kudu waspada, hati-hati di 2026, per hari ini datanya nan terjadi kekeringan 12 ribu hektare saja. Jadi tetap insyaallah terkendali aman," sambungnya.
Ia menjelaskan, pemerintah menggunakan info prakiraan suasana dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), serta International Research Institute for Climate and Society (IRI) sebagai referensi dalam menyusun langkah antisipasi hingga Maret 2027.
"Itu kondisinya sudah bisa memprediksi sampai Maret tahun depan 2027, dari info NOAA 2006 dan IRI 2026. Itu nan kami pakai referensi untuk info global," ucap dia.
Dalam paparannya, Suwandi juga menampilkan diagram perkembangan El Nino dan La Nina periode 2014-Maret 2027. Berdasarkan proyeksi tersebut, kondisi suasana diperkirakan tetap berada dalam fase El Nino lemah hingga sedang, sehingga pemerintah memilih memperkuat langkah mitigasi sejak dini.
Selain itu, berasas info BMKG, menunjukkan musim tandus 2026 mulai berjalan sejak April di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), kemudian meluas ke beragam wilayah lain dengan puncak musim tandus diperkirakan terjadi pada Agustus.
"Data BMKG menunjukkan musim tandus 2026 ini mulai April kemarin di wilayah NTT, menyebar ke beberapa daerah, puncaknya diprediksi Agustus dimulai dari Sumatra, Jawa, sebagian Bali, dan NTT. Tentunya sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian pula ada di Papua," jelas Suwandi.
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI berbareng Eselon I Kementerian Pertanian (Kementan) di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasri Rizky) Foto: (CNBC Indonesia/Martyasri Rizky)
Ia juga menjelaskan awal musim tandus diperkirakan dimulai pada Juni di sekitar 198 Zona Musim (ZOM) alias sekitar 31,6% wilayah Indonesia, kemudian meluas pada Juli di 66 ZOM lainnya.
Suwandi mengatakan, akibat El Nino berpotensi dirasakan seluruh subsektor pertanian, terutama tanaman pangan nan sangat berjuntai pada kesiapan air. Risiko nan muncul antara lain penurunan luas tanam, produksi hingga meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
"Ciri utama El Nino jika ekstrem biasanya kebakaran lahan alias rimba alias gambut, dan berasap. Kondisi sekarang terpantau dari kementerian Kehutanan pun itu tidak begitu signifikan alias banyak," katanya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kementan menerapkan tiga strategi utama, ialah antisipasi sebelum tandus terjadi, penyesuaian saat tandus berlangsung, serta mitigasi andaikan akibat sudah muncul.
"Kami sudah melakukan beberapa langkah antisipasi. Kemudian penyesuaian itu saat terjadinya tandus dengan efisiensi penggunaan air penerapan teknologi budidaya" tutur dia.
"Jadi budidaya padi sistem macak-macak, jika di Jawa airnya nyemek-nyemek, nggak bisa banyak-banyak begitu sehingga efisien lantaran keterbatasan air," lanjutnya.
Ia merinci, strategi antisipasi meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan sarana produksi, hingga penguatan prasarana air. Sementara strategi penyesuaian dilakukan melalui penggunaan irigasi intermiten, varietas padi tahan kering, pengaturan pola tanam, hingga pengendalian (benih)penyakit dan penyakit. Adapun mitigasi dilakukan melalui asuransi pertanian, pengelolaan akibat produksi, serta support pemerintah kepada petani terdampak.
"Ini sudah rutin, baik itu puso akibat kekeringan, puso akibat banjir, maupun puso terhadap serangan (benih)penyakit penyakit. Selalu pengarahan Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) juga kasih support bibit gratis," ujar dia.
Suwandi juga mengungkapkan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah mengirim surat kepada seluruh kepala wilayah sejak 9 Maret 2026 untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
"Termasuk membentuk alias menghidupkan kembali brigade kekeringan. Jadi selama ini sudah ada brigade kekeringan, jika hujan ke brigade kebanjiran, dan lain sebagainya. Ini kita aktifkan lagi untuk siap-siap, terutama daerah-daerah nan langganan kekeringan kami mapping," kata Suwandi.
Selain pemetaan wilayah rawan kekeringan, pemerintah juga mengoptimalkan pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur dangkal, pompanisasi, perpipaan hingga irigasi perpompaan.
Lebih lanjut, Suwandi mengatakan koordinasi lintas kementerian terus diperkuat. Bahkan, Kementan telah meminta BMKG menyiapkan modifikasi cuaca alias hujan buatan di wilayah nan diperkirakan mengalami kekeringan.
Di sisi sarana produksi, Kementan juga memperkuat kesiapan perangkat dan mesin pertanian (alsintan). Total alsintan prapanen nan disiapkan mencapai 94.767 unit pada 2026, meningkat dari 69.460 unit pada 2025. Jumlah tersebut terdiri dari traktor roda dua dan roda empat, traktor crawler, pompa air, handsprayer hingga rice transplanter.
"Bapak Menteri Pertanian (sudah beri perintah) agar segera dipasang pompa-pompa sebelum bulan Juli-Agustus. Ini sedang mengejar ke arah itu," ungkapnya.
Tak hanya itu, pada 2026 pemerintah juga mengalokasikan pembangunan dan rehabilitasi prasarana sumber daya air nan meliputi 17.400 unit irigasi perpompaan, 3.500 unit irigasi perpipaan, 3.700 unit gedung konservasi, pemeliharaan 9.000 unit jaringan irigasi tersier, serta penyediaan sekitar 57.300 unit pompa air nan bakal didistribusikan ke daerah-daerah rawan kekeringan.
(wur)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·