Dishut Kaltim Alokasikan Dana Karbon FCPF Rp19 Miliar untuk Mitigasi Karhutla

18 jam yang lalu 21
Dishut Kaltim Alokasikan Dana Karbon FCPF Rp19 Miliar untuk Mitigasi Karhutla im Brigade Karhutla UPTD KPHP Bongan berbareng Regu MPA Kampung Deraya melaksanakan ground check dan pemadaman Karhutla di Kampung Lemper, Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (11/8/2026).(Dok Dishut Kaltim)

Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Timur mengoptimalkan pemanfaatan skema pendanaan karbon dari Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) sekitar Rp19 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat mitigasi dan operasional penanganan darurat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishut Kalimantan Timur (Kaltim), Rusmadi, menjelaskan bahwa alokasi biaya karbon FCPF diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan esensial petugas dan relawan di garis depan. Fokus utama penggunaan biaya ini adalah support operasional guna mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran nan diprediksi terjadi pada September.

"Dana ini difokuskan pada support operasional untuk mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran," ujar Rusmadi di Samarinda, Selasa (18/8).

Tantangan Luas Wilayah dan Keterbatasan Personel

Pengawasan area rimba di Kaltim menghadapi tantangan besar mengingat luasnya nan mencapai sekitar 7,8 juta hektare. Saat ini, jumlah Polisi Kehutanan (Polhut) nan dimiliki wilayah sangat terbatas, ialah hanya 94 personel. Rasio ini dinilai tidak sebanding dengan luas wilayah nan kudu dilindungi dari ancaman pembalakan liar, perambahan, pertambangan ilegal, hingga karhutla.

Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, Dishut Kaltim memobilisasi partisipasi masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengawasan di tingkat tapak. Berdasarkan info terkini, pemerintah wilayah telah menyiagakan:

  • Lebih dari 1.700 orang dalam Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP).
  • 5.814 personil Masyarakat Peduli Api (MPA) di beragam wilayah.
  • Ratusan personel Satgas dan Brigade Pengendalian Karhutla.

Sinergi antara masyarakat, TNI, dan Polri menjadi pilar utama dalam menjaga ekosistem di "Benua Etam". Pemerintah juga telah memfasilitasi relawan dengan perlengkapan standar seperti busana anti-api, topi, obat-obatan, dan peralatan teknis lainnya untuk menjamin keselamatan saat bertugas.

Strategi Hadapi Puncak Kemarau

Menghadapi tantangan geografis dan krisis sumber air saat puncak kemarau, petugas menempatkan tandon lipat di sejumlah area rawan karhutla. Selain tim darat, operasi udara menggunakan helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) disiapkan untuk menjangkau titik api nan susah diakses.

Langkah antisipatif ini semakin diperketat menyusul terjadinya dua kali kejadian kebakaran di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, nan merupakan bagian dari area Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selengkapnya