Disinformasi Nuklir Iran: Kutipan Palsu Sesatkan Media, Netanyahu, Politisi

58 menit yang lalu 2
 Kutipan Palsu Sesatkan Media, Netanyahu, Politisi Disinformasi nuklir Iran.(Dok Istimewa)

SATU penyebaran disinformasi dunia nan terorganisasi berhasil menyesatkan para pemimpin bumi dan organisasi buletin internasional. Berawal dari unggahan anonim di media sosial, suatu kutipan tiruan nan diklaim berasal dari komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, sempat memicu ketegangan diplomatik serius mengenai ambisi nuklir Teheran.

Kutipan tersebut mengeklaim bahwa Vahidi berjanji Iran tidak bakal pernah melepaskan ambisi senjata nuklirnya selama Israel dan Amerika Serikat tetap memilikinya. Namun, penelusuran mendalam menunjukkan tidak ada bukti pernyataan tersebut pernah diucapkan dan Iran secara konsisten menyatakan program nuklirnya bermaksud sipil.

Kronologi Penyebaran Hoaks

Disinformasi itu pertama kali muncul pada pagi hari tanggal 5 Agustus melalui akun anonim di India melalui platform X. Akun tersebut, nan mempunyai 175.000 pengikut, sebelumnya sering dikritik lantaran menyebarkan konten tiruan dan Islamofobia. Unggahan itu disertai gambar Jenderal Vahidi dan ilustrasi awan jamur nuklir hasil rekayasa kepintaran buatan (AI).

Hanya dalam hitungan jam, narasi ini menyebar luas:

  • Akun Israel: Akun terkenal Mossad Commentary (yang tidak mempunyai hubungan resmi dengan intelijen Israel) menyebarkan klaim tersebut untuk mempertegas narasi bahwa Iran tidak bisa diajak bernegosiasi.
  • Media Massa: Channel 14 di Israel menyiarkan quote tersebut sebagai deklarasi publik pertama Iran mengenai peledak nuklir.
  • Pidato Kenegaraan: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memasukkan quote tiruan ini ke dalam pidatonya di pemakaman nasional Mount Herzl, Yerusalem.
  • Politisi AS: Di Amerika Serikat, Duta Besar PBB era Trump, Mike Waltz, dan Senator Rick Scott dari Florida turut membagikan ulang quote tersebut. Fox News apalagi sempat mengangkatnya dalam obrolan berbareng mantan komandan militer.

Upaya Mengganggu Negosiasi Damai

Para mahir menyebut kejadian itu sebagai narrative laundering atau pencucian narasi. Darren L. Linvill dari Media Forensics Hub di Clemson University menjelaskan bahwa strategi ini bermaksud menyemai ketidakejujuran melalui beragam sumber hingga tampak autentik.

"Kutipan ini jelas dirancang untuk memecah belah negosiasi perdamaian," ujar Linvill. Momentum penyebaran hoaks ini terjadi hanya tiga hari setelah Presiden Trump menyatakan penghentian serangan terhadap Iran guna memberi kesempatan pada jalur diplomasi.

Respons Iran dan Klarifikasi

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah keras klaim tersebut dan menyebutnya sebagai banjir kebohongan untuk membenarkan agresi militer. Jenderal Vahidi sendiri, nan menjabat sejak Maret, diketahui tidak pernah mengeluarkan pernyataan mengenai program nuklir dalam kapabilitas resminya baru-baru ini.

Meski Fox News akhirnya mengeluarkan penjelasan bahwa quote tersebut tidak terverifikasi dan tidak akurat serta Mike Waltz menghapus unggahannya, akibat dari disinformasi ini telanjur meluas. Hingga saat ini, ribuan unggahan nan memperlakukan quote tiruan tersebut sebagai kebenaran tetap beredar di internet, menunjukkan sungguh rentannya debat publik mengenai perang dan tenteram terhadap manipulasi digital. (New York Times/I-2)

Selengkapnya