Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Fase 2A nan bakal menghubungkan Bundaran HI sampai ke Jakarta Kota diproyeksikan tidak hanya berakibat pada peningkatan mobilitas masyarakat semata. Lebih dari itu, proyek ini berpotensi mengerek nilai properti nan berada di sepanjang jalur modal transportasi tersebut.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus menuturkan, selama ini pembangunan transportasi umum hanya dinilai sebagai corak solusi mengatasi kemacetan semata. Padahal, peran transporasi umum pada masa mendatang bakal bertambah, ialah sebagai aspek utama nilai properti. Tren seperti ini telah terjadi di kota besar di Singapura, Hongkong, dan juga Tokyo.
"MRT Fase 2 nan lagi dibangun dari Bundaran HI ke Kota ini 2A-nya tuh, Bundaran HI sampai kota, kelak lanjutannya dari Kota ke Ancol. Tapi ini sampai kota dulu aja jaraknya sekitar 5,8 kilometer itu semua underground ya, sasaran population-nya 2029," ujar dia dalam Media Briefing CBRE Indonesia, Rabu (22/7/2026).
Dirinya memandang, keberhasilan pembangunan MRT Fase 1 dengan rute dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI telah menjadi bukti bahwa keberadaan prasarana transportasi umum nan memadai bisa meningkatkan daya tarik di area tersebut. Hal serupa juga diyakini bakal terjadi saat MRT tersambung hingga Jakarta Kota dan diteruskan ke area Ancol.
Kini, lanjut Anton, konektivitas menjadi salah satu aspek krusial selain posisi letak properti. Mengingat, masyarakat sudah mempunyai pertimbangan mendapatkan akses kemudahan menuju tempat kerja alias lainnya menggunakan transportasi publik. Dengan kata lain, mereka tidak hanya memandang sekadar kedekatan geografis.
"Nah kelak jika kita nyambung sampai ke Kota bakal bisa dibayangkan gimana konektivitas itu bakal membantu. Jadi dari Selatan sampai ke Utara lah di Kota dan gimana kelak wilayah sekitar itu lagi-lagi bakal naik gitu, mendongkrak value dari properti nan ada," jelasnya.
Anton melanjutkan, proyek MRT Fase 2A tentu berpotensi menjadi aspek utama dalam pengembangan wilayah sekitar Jakarta Kota. Selama ini, area tersebut mempunyai imej nan terkesan sunyi di malam hari dengan dipenuhi bangunan-bangunan tua.
Padahal, Jakarta Kota, terutama area Kota Tua, menyimpan potensi nan begitu besar sebagai destinasi komersial, hiburan, dan wisata jika ditata dan dikembangkan dengan baik. Bila berkaca dari pengalaman di lingkup global, sudah banyak area heritage alias kota tua nan bisa dikembangkan menjadi pusat perekonomian berkah support transportasi publik nan berkualitas.
"Jadi potensi Kota Tua nan kelak menjadi ujung dari MRT Fase 2 ini sangat-sangat potensial sekali. Dengan belum ada ini (MRT) aja juga kan Kota Tua jadi tempat tujuan ini kan wisata," pungkas dia.
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·