PABOI mengerahkan tim medis untuk menangani korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).(MI/Ardi Teristi)
PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) mengerahkan tim medis untuk menangani korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tingginya kasus patah tulang alias fraktur akibat gempa.
President Indonesia Hip and Knee Society (IHKS) Rizki Rahmadian mengatakan koordinasi penanganan dilakukan beberapa jam setelah info gempa diterima. PABOI berbareng organisasi di bawahnya, termasuk IHKS, Indonesian Orthopaedic Trauma and Reconstruction Society (IOTRS), dan Indonesia Arthroplasty Society (INAMSOS), segera menyiapkan tim medis.
“Beberapa jam setelah kejadian itu kami segera Zoom meeting di PABOI dan seluruh anak organisasi serta bagian di seluruh Indonesia, mengambil konklusi bahwa kita kudu sesegera mungkin berangkat ke sana,” kata Rizki kepada awak media di Hotel Marriott, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (21/8).
Menurut Rizki, respons sigap diperlukan lantaran jumlah master ahli ortopedi di wilayah terdampak terbatas. Saat itu, Ende lebih banyak ditunjang master bedah umum, sedangkan master ahli ortopedi terdekat berada di Labuan Bajo dan Nusa Tenggara Barat.
PABOI memperkirakan korban dengan cedera patah tulang bakal meningkat setelah gempa. Pengalaman penanganan musibah sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan dalam pengerahan tim medis. “Terbayang adalah kasus fraktur bakal sangat banyak sekali. Kalau gempa, kemungkinan besar kasus fraktur sangat banyak,” ujarnya.
Tim medis pertama dari Makassar diberangkatkan pada pagi hari setelah gempa. Tim dari Surabaya kemudian menyusul untuk memperkuat penanganan korban di letak bencana.
PABOI juga menyiapkan pelayanan berkepanjangan dengan mengerahkan bagian dan pusat pendidikan ortopedi di beragam wilayah secara bergiliran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan korban terus berjalan selama masa pemulihan.
Selain penanganan korban bencana, rumor kesehatan tulang dan sendi menjadi pembahasan dalam forum ilmiah internasional IHKS 2026 di Yogyakarta. Forum tersebut diikuti ratusan master dari 15 negara.
Rizki mengatakan perkembangan teknologi ortopedi saat ini diarahkan pada upaya mempertahankan sendi alami pasien selama tetap memungkinkan. Penanganan dapat dilakukan melalui perawatan jaringan tulang rawan hingga operasi invasif minimal alias arthroscopy.
Jika sendi tidak lagi dapat dipertahankan, penggantian sendi dapat dilakukan dengan support teknologi seperti kepintaran buatan dan robotic-assisted surgery.
KETERGANTUNGAN IMPLAN IMPOR
Dalam forum tersebut, master juga membahas ketergantungan Indonesia terhadap produk perangkat kesehatan impor, terutama implan ortopedi. President Indonesian Orthopaedic Trauma Society (IOTRS) Norman Zainal mengatakan ketergantungan terhadap implan impor tetap sangat tinggi. Berdasarkan info nan dipaparkannya, proporsi impor implan medis turun dari 96% pada 2013 menjadi 94% pada 2017 melalui Program Rekayasa Implan Nasional (Prorigna).
Menurut Norman, pengembangan implan dalam negeri menghadapi tantangan berupa kompleksitas produksi nan memerlukan kerjasama lintas disiplin serta support pendanaan.
Pengembangan teknologi, termasuk kepintaran buatan dan pengetahuan rekayasa kedokteran, dinilai perlu diperkuat untuk mendorong produksi implan dalam negeri.
Penyesuaian kurikulum pendidikan kedokteran juga diperlukan agar master dan tenaga mahir di bagian ortopedi mempunyai keahlian memahami pengembangan implan.
“Waktu kami kuliah di kedokteran, kami belajar farmasi untuk membikin obat. Tapi selama sekolah, kita tidak mempelajari gimana membikin implan nan ditanam di badan ini,” kata Norman. (E-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·