Dominasi Gen Z pada Pemilu 2029 Dorong Kampanye Politik Berbasis Data dan AI

1 jam yang lalu 3
Dominasi Gen Z pada Pemilu 2029 Dorong Kampanye Politik Berbasis Data dan AI ilustrasi(Antara)

Menjelang Pemilu 2029, komposisi pemilih Indonesia diperkirakan bakal mengalami perubahan besar. Sekitar 65% pemilih diproyeksikan berasal dari Generasi Z, golongan nan tumbuh di era digital dan sangat berkawan dengan gawai serta media sosial. Perubahan demografi ini mendorong para calon legislatif untuk meninggalkan pola kampanye konvensional dan mulai mengangkat pendekatan nan lebih sesuai dengan karakter pemilih muda.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z banyak membentuk opini melalui ruang digital. Percakapan politik nan dulu berjalan secara langsung sekarang lebih banyak terjadi di media sosial, dengan dinamika rumor nan dapat berubah sangat sigap dan berbeda di setiap wilayah pemilihan. Kondisi tersebut membikin pemetaan perilaku pemilih menjadi semakin kompleks.

Di sisi lain, info pendukung strategi politik juga tersebar di beragam sumber, mulai dari hasil pemilu di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS), info sosial ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS), hingga percakapan publik di media massa dan media sosial. Mengolah seluruh info tersebut secara manual dinilai tidak lagi efektif bagi kandidat maupun tim pemenangan.

Situasi itu mendorong berkembangnya pemanfaatan teknologi politik (political tech) di Indonesia. Salah satunya adalah platform berbasis kepintaran buatan (AI) nan dikembangkan untuk membantu calon personil DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dalam memetakan kondisi elektoral di wilayah pemilihannya melalui kajian berbasis data.

CEO Voxstream Wahyu Permana mengatakan perubahan karakter pemilih membikin pendekatan berbasis info menjadi semakin penting. Menurutnya, kandidat memerlukan instrumen nan bisa membaca dinamika perilaku pemilih muda secara objektif sehingga strategi kampanye dapat disusun secara lebih tepat sasaran.

"Komposisi pemilih saat ini didominasi Generasi Z nan mempunyai tingkat keterpaparan tinggi terhadap gawai dan media sosial. Karena itu, calon legislatif perlu menerapkan strategi kampanye nan lebih sesuai dengan karakter mereka agar pesan politik dapat diterima secara efektif," ujar Wahyu dalam keterangannya, Rabu (5/8).

Ia menjelaskan platform tersebut mengintegrasikan info dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), BPS, pemberitaan media, serta percakapan di beragam media sosial. Data tersebut kemudian diolah menjadi beragam indikator, seperti tingkat elektabilitas, sentimen publik, pemetaan pesaing di wilayah pemilihan nan sama, hingga pedoman bunyi nan dipetakan sampai tingkat TPS. Platform juga menyediakan simulasi beragam skenario politik untuk memperkirakan kesempatan perolehan kursi.

"Seluruh hasil kajian dirangkum dalam Indeks Daya Saing dengan skala 0 hingga 100. Indeks tersebut memberikan gambaran mengenai posisi kandidat, mulai dari kategori lemah hingga sangat kuat, dan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan info terbaru selama masa kampanye," jelasnya.

Pemanfaatan analitik info dalam politik sebenarnya telah lama diterapkan di beragam negara dengan sistem kerakyatan maju. Teknologi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pedoman pemilih sekaligus menyusun strategi komunikasi nan sesuai dengan karakter masyarakat di masing-masing wilayah. 

Di Indonesia, penggunaan teknologi serupa sekarang mulai berkembang dan dapat dimanfaatkan langsung oleh kandidat, termasuk mereka nan baru pertama kali mengikuti kontestasi politik. Bagi calon legislatif pemula nan belum mempunyai pedoman support pribadi, platform tersebut juga menyediakan kajian nan merujuk pada kekuatan partai politik di wilayah pemilihan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu kandidat menyusun strategi kampanye secara lebih realistis sejak tahap awal.

Kehadiran teknologi berbasis info dinilai berpotensi mengubah pola kejuaraan politik menjadi lebih substantif. Dengan akses terhadap info nan lebih terukur, persaingan diharapkan tidak lagi hanya bertumpu pada besarnya sumber daya, tetapi juga pada kualitas program, rekam jejak, serta keahlian kandidat memahami kebutuhan pemilih. Efektivitas pendekatan tersebut bakal menjadi salah satu aspek nan menarik untuk diamati pada Pemilu 2029. (E-3)

Selengkapnya