Dua Penjaga Perdamaian PBB Asal Ethiopia Gugur Disergap di Sudan Selatan

2 jam yang lalu 4
Dua Penjaga Perdamaian PBB Asal Ethiopia Gugur Disergap di Sudan Selatan Gambar pengungsi di Sudan.(Xinhua/Wang Guansen)

DUA petugas penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan gugur setelah patroli rutin mereka disergap oleh golongan bersenjata tak dikenal di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan. Insiden mematikan ini memicu kecaman keras dari otoritas internasional di tengah situasi keamanan nan kian tidak stabil di wilayah tersebut.

Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) mengonfirmasi bahwa serangan terjadi saat personel mereka tengah melakukan perjalanan menuju Pajut. Berdasarkan pernyataan resmi UNMISS melalui platform X pada Senin (24/8), penyergapan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dari pihak penjaga perdamaian maupun staf pendukung.

Petugas nan gugur dalam menjalankan tugas tersebut dikonfirmasi berasal dari Ethiopia. Selain dua korban jiwa, serangan ini juga menyebabkan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka dengan rincian sebagai berikut:

Kategori Korban Jumlah Keterangan
Gugur (Penjaga Perdamaian) 2 Warga negara Ethiopia
Luka-luka (Penjaga Perdamaian) 3 Personel UNMISS
Luka-luka (Kepolisian Sudan Selatan) 2 Personel lokal
Luka-luka (Staf Sipil) 2 Pegawai sipil PBB

Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konvensi pers menyatakan bahwa serangan ini tampaknya telah ditargetkan secara sengaja terhadap konvoi PBB. "Ini adalah bagian dari patroli rutin nan dilakukan PBB untuk membantu mengatasi situasi keamanan nan tetap belum stabil di wilayah tersebut," ujar Dujarric.

Kecaman Internasional dan Konteks Konflik

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras serangan tersebut dan mendesak pihak berkuasa untuk segera mengidentifikasi pelaku. PBB saat ini tengah berupaya mengumpulkan info lebih lanjut mengenai dalang di kembali penyergapan di Jonglei tersebut.

Situasi di area ini diperumit oleh bentrok nan lebih luas di negara tetangga, Sudan, nan telah dilanda pertempuran sengit antara Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan angkatan bersenjata Sudan sejak musim semi 2023. Meskipun militer Sudan dilaporkan sukses merebut kembali Ibu Kota Khartoum pada 2025, kelompok-kelompok pemberontak justru menggencarkan serangan di wilayah selatan dan barat, termasuk Darfur dan Kordofan.

Pada April 2025, golongan pemberontak apalagi mengumumkan pembentukan pemerintahan sendiri di wilayah nan mereka kuasai. Ketegangan ini terus memicu saling tuduh antara kedua belah pihak mengenai pembunuhan penduduk sipil dan gangguan terhadap misi kemanusiaan internasional di wilayah perbatasan Sudan dan Sudan Selatan. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-1)

Selengkapnya