ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, melempar sinyal ancaman kepada para pesaing mereka di Piala Dunia 2026, termasuk Swedia, musuh di babak 32 besar.
Menjelang laga babak 32 besar melawan Swedia pada Selasa (30/6) waktu setempat, Deschamps menegaskan bahwa Les Bleus tidak bakal mengubah style main menyerang mereka nan agresif.
"Kami mempunyai kapabilitas untuk menebar bahaya, dan saya mau kami mempertahankan perihal itu," ujar Deschamps, seperti dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertandingan ini sekaligus menandai kembalinya Deschamps ke dalam kamp training Prancis di Dallas, setelah sempat mengambil izin bersungkawa menyusul wafatnya sang ibu pada pekan lalu. Deschamps mengaku sangat tersentuh dengan besarnya gelombang support nan dia terima dari seluruh komponen tim.
Prancis melaju ke fase gugur dengan status juara grup nan sangat meyakinkan lewat torehan 10 gol hanya dalam tiga pertandingan.
Meski ketajaman lini serang mereka luar biasa, tak sedikit pengamat nan mengkritik rapuhnya lini pertahanan Prancis nan dinilai terlalu banyak memberikan ruang bagi lawan. Namun, Deschamps langsung pasang badan.
"Kami mencetak 10 gol di fase grup dan semestinya bisa lebih. Kami memang memberikan terlalu banyak kesempatan bagi lawan, dan saya tahu beberapa orang bertanya-tanya: apakah kami bisa terus bermain seperti ini? Namun, kami melakukan perihal nan sama empat tahun lampau di Qatar, dan tim lain juga melakukannya," jelas Deschamps.
"Saat kami menguasai bola, kami tidak punya masalah. Saat kehilangan bola, kami kudu bermain efisien. Namun, keahlian kami menciptakan ancaman adalah sebuah kekuatan besar, dan saya tidak bakal mengubahnya," tambahnya.
Deschamps juga menambahkan bahwa status tim favorit nan melekat pada Prancis tidak bakal membikin anak asuhnya jemawa. Bagi dia, babak 32 besar ini adalah awal dari kejuaraan nan baru.
Sebelum laga melawan Norwegia lalu, skuad Prancis sebenarnya sempat mengusulkan permohonan kepada FIFA untuk mengenakan ban lengan hitam sebagai corak belasungkawa terhadap ibu Deschamps. Namun, permohonan tersebut ditolak mentah-mentah oleh FIFA.
Menanggapi perihal itu, Deschamps mengaku sama sekali tidak ambil pusing dengan keputusan rigid dari FIFA tersebut.
"Jujur, keputusan itu tidak mengubah banyak perihal bagi saya. Saya tidak butuh simbol ban lengan itu. Melihat apa nan dilakukan para pemain, staf, serta semua pesan (belasungkawa) nan saya terima, itu sudah jauh dari cukup bagi saya," ungkapnya emosional.
Gelandang jagoan Prancis, Adrien Rabiot, menegaskan bahwa seluruh penggawa Les Bleus sekarang mempunyai motivasi berlipat dobel untuk mempersembahkan trofi bagi sang pelatih.
"Sangat tidak mudah untuk bersungkawa di tengah kondisi seperti ini, tetapi inilah sepak bola dan ini adalah Piala Dunia. Kami sangat bersatu, kami tahu apa nan sedang dia lalui, dan kami bakal mencoba memberikannya sesuatu untuk dirayakan. Itu adalah perihal paling minimal nan bisa kami lakukan," kata Rabiot.
Terkait kekuatan lawan, Deschamps memberikan pujian kepada skuad Swedia nan dinilainya sebagai tim nan solid dengan lini serang kelas dunia.
"Mereka tim nan sangat mengandalkan bentuk dengan keahlian nan bagus, dan di lini serang mereka punya banyak kualitas. Mereka punya tiga penyerang nan sangat bagus dan bermain di klub-klub besar Eropa. Kami juga kudu mewaspadai situasi bola meninggal serta lemparan ke dalam nan jauh," analisisnya.
Menghadapi agenda padat turnamen, kondisi kebugaran skuad Prancis terbilang cukup aman. Hanya striker Marcus Thuram nan dipastikan tidakhadir lantaran masalah otot minor.
Sementara gelandang jangkar N'Golo Kanté dikabarkan siap memulai laga dari bangku cadangan, dan bek tengah William Saliba dipastikan tetap turun mengawal lini pertahanan meski kondisinya belum pulih 100 persen dari cedera punggung.
(wiw/jun)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·