Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dinilai mempunyai kesempatan besar mencetak mesin ekspor baru di luar komoditas jagoan seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan nikel. Komoditas perkebunan seperti kopi, pala, cokelat, hingga kelapa disebut berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekspor sekaligus mendongkrak ekonomi nasional.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan Indonesia mempunyai kelebihan sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia. Selain itu, permintaan terhadap komoditas cokelat dan kelapa juga terus meningkat, terutama dari negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.
Menurutnya, komoditas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan ekspor baru dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan nan pada kuartal II-2026 hanya tumbuh 2,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).
"Sektor ini kudu mendapat perhatian serius. Kalau pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan bisa didorong lebih tinggi, ditambah dengan sektor manufaktur, Indonesia bisa tumbuh secara berkepanjangan di atas 5,5%, apalagi menembus 6%," kata Asmoro kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2026).
Ia menilai penguatan ekspor komoditas nontradisional menjadi semakin krusial di tengah upaya Indonesia membalikkan kondisi neraca perdagangan nan dalam dua bulan terakhir mengalami defisit.
Momentum tersebut dinilai semakin terbuka seiring meredanya nilai minyak mentah dunia. Berdasarkan info Refinitiv per Kamis (13/8/2026) pukul 09.55 WIB, nilai minyak Brent berada di level US$87,95 per barel, turun dari kisaran US$90-100 per barel nan terjadi pada akhir kuartal I dan kuartal II tahun ini.
Andry memperkirakan nilai minyak bakal bergerak pada level keseimbangan di kisaran US$70-80 per barel. Jika kondisi tersebut bertahan, tekanan impor daya Indonesia berpotensi berkurang.
"Kalau itu bisa dipertahankan, mestinya beban impor kita menjadi relatif lebih ringan ke depan," ujarnya.
Karena itu, dia menilai pemerintah perlu memanfaatkan momentum penurunan nilai minyak untuk mengakselerasi pertumbuhan ekspor.
"Sekarang tinggal gimana menjaga agar ekspor kita terus tumbuh di tengah kesempatan nan sebenarnya cukup besar," kata Andry.
Sebagai informasi, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan selama dua bulan beruntun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Juni 2026 defisit sebesar US$450 juta, setelah pada Mei 2026 mengalami defisit nan lebih besar ialah US$1,61 miliar.
Kondisi tersebut turut memperlebar defisit net ekspor dalam komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 menjadi minus 0,78%, dibandingkan minus 0,02% pada periode nan sama tahun lalu.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

56 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·