Eropa Tiba-Tiba Punya Aliansi Pertahanan Baru, Jadi Saingan NATO?

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ukraina berbareng sejumlah sekutu utama di Eropa resmi meluncurkan koalisi pertahanan udara baru. Koalisi itu bermaksud mengembangkan sistem rudal anti-balistik generasi baru sebagai pengganti nan lebih murah dibandingkan sistem Patriot buatan Amerika Serikat (AS).

Langkah ini diambil ketika serangan rudal balistik Rusia ke wilayah Ukraina semakin intensif dan persediaan amunisi pertahanan udara Kyiv terus menipis. Pengumuman tersebut disampaikan dalam pertemuan para pemimpin negara di Paris pada Senin, sebagaimana dimuat Reuters, Selasa (14/7/2026).

Sebanyak 10 negara berbareng sekitar selusin perusahaan industri pertahanan menghadiri pertemuan tersebut untuk melanjutkan pembentukan Integrated Anti-Ballistic Missile Coalition alias Koalisi Rudal Anti-Balistik Terintegrasi. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Ukraina, dan Inggris menegaskan perlunya sistem pertahanan rudal terpadu untuk menghadapi ancaman di masa depan.

"Kami percaya bahwa perlindungan Eropa memerlukan solusi dunia berupa arsitektur pertahanan rudal terpadu untuk mencegah dan mengalahkan ancaman rudal di masa depan," demikian bunyi pernyataan berbareng tersebut, dilansir Reuters.

"Sistem ini bakal melengkapi sistem pertahanan rudal balistik nan sudah ada, termasuk solusi pertahanan Eropa nan telah dimiliki alias bakal diperoleh oleh negara-negara peserta," lanjut pernyataan tersebut menambahkan sistem baru itu tidak bakal menggantikan sistem pertahanan rudal nan telah dimiliki masing-masing negara.

Ukraina Kehabisan Amunisi

Peluncuran koalisi baru ini dilakukan ketika Ukraina menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya serangan rudal balistik Rusia. Dalam sebulan terakhir, Ukraina mengalami kekurangan amunisi untuk sistem pertahanan udaranya sehingga sebagian besar tidak bisa mencegat rudal balistik Rusia nan melaju dengan kecepatan beberapa kali lipat dari kecepatan suara.

Kyiv selama ini terus mendesak negara-negara sekutu agar mengirim lebih banyak sistem pertahanan udara sekaligus mengembangkan sistem anti-rudal buatan Eropa berbareng Ukraina. Di sisi lain, ketika Rusia meningkatkan intensitas serangan rudal ke Ukraina, Kyiv juga memperluas serangan drone ke wilayah Rusia dengan menyasar akomodasi minyak dan industri persenjataan. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghadiri pertemuan berbareng sekitar 25 pemimpin negara dalam forum nan lebih luas berjudul Coalition of the Willing, nan bermaksud menyusun posisi berbareng terhadap Rusia serta menyiapkan agunan keamanan jika kesepakatan tenteram tercapai di masa depan. Pertemuan di Paris berjalan hanya beberapa hari setelah KTT NATO nan berupaya menunjukkan persatuan negara-negara transatlantik serta support jangka panjang terhadap Ukraina.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia meningkatkan serangan ke Kyiv dan wilayah sekitarnya nan menewaskan puluhan orang. Pejabat Ukraina mengatakan serangan rudal dan drone Rusia pada Sabtu lampau menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai banyak lainnya. Sementara itu, Moskow tetap menyatakan hanya menyerang sasaran nan mempunyai nilai militer dan membantah sengaja menargetkan penduduk sipil.

Fokus Proyek "Freyja"

Fokus utama koalisi baru ini adalah proyek "Freyja", ialah upaya Ukraina membangun sistem pertahanan rudal anti-balistik nan didukung negara-negara Eropa dengan biaya lebih rendah dibandingkan Patriot. Menurut Zelenskiy, semakin banyak keahlian Ukraina untuk mencegat rudal balistik Rusia, semakin besar kesempatan Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia kembali ke meja perundingan.

"Semakin banyak keahlian nan dimiliki Ukraina untuk menembak jatuh rudal balistik Rusia, semakin besar kesempatan Putin bakal kembali ke meja perundingan, lantaran argumen terakhirnya dalam perang ini tidak lagi bakal berfungsi," kata Zelensky usai pengumuman tersebut.

"Pekerjaan kami dalam membangun sistem bersama, Freyja, bukan dimaksudkan untuk menggantikan sistem nan ada. Ini adalah langkah untuk melengkapi pertahanan kami, menciptakan perisai kuat bagi seluruh Eropa, serta melakukan semuanya dengan lebih sigap dan biaya nan lebih rendah," ujarnya lagi.

Zelensky kemudian menjelaskan bahwa sistem tersebut bakal dibangun layaknya Lego, ialah menggabungkan skill beragam perusahaan pertahanan Eropa. Ia optimistis sistem tersebut dapat mulai beraksi dalam waktu sekitar 12 bulan sekaligus memungkinkan seluruh negara peserta memproduksi persenjataan tersebut.

Sekitar selusin perusahaan pertahanan Eropa datang dalam pertemuan itu, termasuk Eurosam sebagai produsen sistem SAMP-T, Leonardo, Thales, Saab, hingga perusahaan Ukraina Fire Point. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan proyek tersebut juga bakal mempererat kerja sama industri pertahanan di kawasan.

"Ini juga bakal membantu industri pertahanan kita di Eropa bekerja sama dengan lebih erat dan saling belajar satu sama lain," kata Merz.

Prancis Beri Lisensi Produksi Rudal

Selain membahas proyek Freyja, para peserta juga mendiskusikan upaya memperoleh lebih banyak rudal pencegat Patriot dari AS. Ini pun sekaligus mempercepat penyebaran sistem pertahanan udara SAMP-T buatan Prancis dan Italia. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Ukraina telah memesan sistem SAMP-T generasi terbaru, nan bakal melengkapi pengiriman sistem jenis lama beserta paket rudalnya. Macron juga mengumumkan keputusan krusial Prancis nan mengizinkan Ukraina memproduksi rudal pencegat untuk sistem SAMP-T nan telah dioperasikan Kyiv.

Selain itu, Ukraina juga diberikan izin memproduksi peledak berpemandu presisi serta rudal jelajah jarak jauh SCALP. Langkah tersebut menjadi pertama kalinya Prancis memberikan lisensi keahlian produksi persenjataan kepada Ukraina.

Macron pun turut mengungkapkan bahwa Ukraina bakal menerima 16 pesawat tempur Rafale pada periode 2028-2029. Koalisi tersebut juga mengumumkan rencana menggelar latihan militer berbareng di negara-negara nan berbatasan langsung dengan Ukraina sebagai bagian dari persiapan pembentukan Multinational Force in Ukraine (MNFU) di masa mendatang.

Menurut Macron, langkah tersebut bermaksud menjadikan konsep pasukan multinasional di Ukraina lebih siap diterapkan andaikan diperlukan di kemudian hari.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya