ESDM Beberkan Penyebab Sektor Tambang Terkontraksi di Kuartal II-2026

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan sejumlah aspek nan menyebabkan sektor pertambangan mengalami kontraksi pada kuartal II 2026. Salah satunya disebabkan oleh penurunan drastis produksi tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) akibat kejadian longsor.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Tri Winarno mengatakan penurunan produksi PTFI memberikan akibat signifikan terhadap keahlian sektor pertambangan secara keseluruhan.

"Gini jika mengenai dengan tembaga memang lantaran produksi Freeport turun drastis lantaran longsoran itu nan pertama," ujar Tri di Kementerian ESDM, dikutip Jumat (7/8/2026).

Meski demikian, kontraksi nan terlihat dalam info produksi tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sektor pertambangan. Menurutnya, keahlian sektor tambang relatif tetap terjaga lantaran terdongkrak kenaikan nilai komoditas.

"Jadi poinnya jika misalnya dari sisi nilai uangnya itu nyaris sama tetapi secara produksi kita turun. Kenapa? Karena secara nilai naik gitu lho. Clear?," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan lapangan upaya pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,64% pada kuartal II 2026. Adapun, kontraksi tersebut terutama dipicu oleh penurunan produksi bijih logam sebesar 9,4%.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menjelaskan kondisi itu terjadi lantaran operasional tambang Grasberg di Papua Tengah belum sepenuhnya pulih pasca kejadian longsor dan aliran lumpur nan terjadi pada September 2025.

"Lapangan upaya pertambangan kontraksi 1,64% disebabkan bijih logam turun 9,4%. Belum pulihnya tambang grasberg blok F di Provinsi Papua Tengah pasca aliran longsor September 2025," ujarnya.

Selain itu, produksi batu bara dan lignit juga turun 1,41% seiring penataan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan serta stabilitas nilai di pasar internasional.

Ia juga menjelaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi nan signifikan di wilayah Maluku-Papua dipengaruhi oleh keahlian sektor pertambangan di Papua Tengah. Wilayah tersebut mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDRB Papua Tengah, ialah 27,26%, dengan aktivitas pertambangan Freeport sebagai penopang utama ekonomi.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya