ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih banyak bank sentral berencana untuk mengurangi kepemilikan dolar mereka daripada meningkatkannya selama beberapa dasawarsa ke depan. Ini merupakan pertama kalinya terjadi di dunia, menurut survei dunia terbaru nan dirilis Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), Selasa.
Fenomena ini mencerminkan peningkatan akibat politik mengenai dengan mata duit AS. Temuan muncul di tengah perang Timur Tengah nan sebagian dimulai oleh AS, nan mengacaukan pasar daya global.
Fakta baru tersebut juga terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mencari langkah baru untuk memberlakukan tarif. Perlu diketahui tarif membikin bumi menyoroti agenda kebijakan luar negeri Amerika nan semakin tidak dapat diprediksi.
"Ini adalah pertama kalinya survei tersebut menemukan kemauan untuk mengurangi alokasi dolar melampaui niat untuk meningkatkannya sejak survei tersebut mulai mencatat niat investasi bank sentral pada tahun 2023," bunyi laporan tersebut, dimuat CNN International, Rabu (1/7/2026).
Survei ini dilakukan antara bulan Maret dan Mei. Ada sekitar 74 bank sentral di seluruh bumi nan ditelusuri.
Survei semakin memperkuat indikasi de-dolarisasi di dunia, nan mencakup pengurangan penggunaan dolar AS dalam perdagangan dunia dan transaksi keuangan, termasuk pengurangan permintaan terhadap mata duit tersebut dan nilainya. Menurut JPMorgan, pangsa dolar AS dalam persediaan devisa bank sentral turun ke level terendah dalam dua dasawarsa terakhir.
"Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghalang investasi dalam dolar, mencerminkan peran AS nan dianggap meningkatkan akibat geopolitik," demikian temuan laporan OMFIF.
Meski begitu, laporan tersebut mencatat bahwa dolar "masih mendominasi portofolio dan diperkirakan bakal terus demikian untuk masa mendatang". Dolar AS tetap berada di sekitar 58% dari alokasi bank sentral selama lima tahun terakhir.
Namun, de-dolarisasi nan "bertahap" membikin bank sentral beranjak ke Euro dan renminbi alis Yen China. Di mana nyaris semua bank sentral nan disurvei beranggapan bahwa renminbi memberikan diversifikasi sementara dua pertiga mengatakan euro telah menjadi lebih menarik untuk digunakan dalam perdagangan global, naik dari 43% tahun lalu.
Permintaan untuk mata duit alternatif, termasuk Dolar Singapura, Won Korea Selatan (Korsel), dan Rand Afrika Selatan (Afsel) juga meningkat. Sementara itu, peningkatan akibat geopolitik mendorong peningkatan permintaan emas, apalagi ketika harganya telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu.
"Pergeseran ini didorong oleh perlindungan terhadap akibat geopolitik dan meningkatnya keraguan tentang stabilitas sistem moneter internasional," demikian temuan laporan tersebut.
"Emas telah menjadi pusat strategi untuk mengelola aset negara," tambahnya menyebut sekitar 51% bank sentral menyebut perlindungan terhadap akibat geopolitik, naik 11% dari tahun 2024.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·