FIFA Minta Maaf soal Rencana Privatisasi Piala Dunia tapi Infantino Tetap Didukung

2 jam yang lalu 4
FIFA Minta Maaf soal Rencana Privatisasi Piala Dunia tapi Infantino Tetap Didukung Presiden FIFA Gianni Infantino.(Anadolu Agency/Mustafa Yalçın )

FEDERASI Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas polemik nan dipicu oleh rencana pembukaan pengelolaan upaya Piala Dunia kepada investasi swasta. Meski mengakui adanya kesalahan prosedural nan fatal, jejeran petinggi FIFA tetap menegaskan support penuh mereka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino nan sekarang tengah menghadapi tekanan dahsyat untuk menanggalkan jabatannya.

Keputusan tersebut diambil menyusul pertemuan krisis nan digelar jejeran ketua FIFA di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat. Pertemuan darurat ini merupakan respons atas gelombang kritik masif terhadap proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial nan akhirnya diputuskan untuk dibatalkan.

Dukungan di Tengah Tekanan Mundur

Dalam pernyataan resmi pascapertemuan, Sekretaris Jenderal FIFA beserta personil Dewan Manajemen FIFA memberikan pembelaan terhadap kepemimpinan Infantino. Mereka menegaskan bahwa laki-laki asal Swiss tersebut tetap memegang legitimasi kuat sebagai nakhoda organisasi sepak bola tertinggi bumi tersebut.

"Para peserta pertemuan menegaskan kembali support penuh kepada Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai satu-satunya pejabat nan dipilih oleh 211 asosiasi personil FIFA," bunyi pernyataan resmi tersebut.

Kendati demikian, FIFA mengakui adanya kekeliruan dalam penyusunan proposal FFE. Organisasi tersebut menyadari bahwa proses tersebut semestinya melibatkan pemangku kepentingan secara lebih luas dan tidak memberikan kesan mengesampingkan Dewan FIFA serta asosiasi anggota.

Permintaan maaf secara umum juga telah dikirimkan melalui surat terpisah kepada Dewan FIFA dan seluruh asosiasi anggota. FIFA berjanji bakal melakukan perbaikan tata kelola secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Valuasi Fantastis dan Penolakan Konfederasi

Kontroversi ini berakar dari pendapat Infantino untuk membentuk FFE sebagai anak upaya komersial baru. Entitas ini diproyeksikan menangani turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub dengan valuasi mencapai US$20 miliar (sekitar Rp320 triliun).

Melalui skema investasi swasta, FIFA menargetkan penghimpunan biaya segar hingga US$4,2 miliar. Jika disetujui, setiap asosiasi personil dijanjikan menerima pembayaran satu kali sebesar US$20 juta (sekitar Rp320 miliar) pada awal 2027, serta lonjakan alokasi pendanaan periode 2027-2030.

Namun, tawaran finansial tersebut justru memicu reaksi keras. UEFA dan CONCACAF menjadi pihak nan paling vokal menentang rencana "privatisasi" upaya kejuaraan FIFA tersebut. Tekanan politik apalagi datang dari luar lapangan hijau, di mana tokoh seperti PM Inggris Andy Burnham dan PM Kanada Mark Carney secara terbuka menyatakan lenyap kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.

Nasib Proposal FFE

Menghadapi resistensi nan begitu kuat, Infantino akhirnya menarik proposal tersebut. FIFA memastikan bahwa proyek FFE sekarang sepenuhnya dihentikan dan tidak lagi masuk dalam pertimbangan organisasi.

"Evaluasi sekarang bakal dilakukan dan laporannya bakal disampaikan kepada Dewan FIFA pada pertemuan berikutnya nan telah dijadwalkan," tulis pernyataan FIFA lebih lanjut.

Situasi ini menjadi ujian terberat bagi Infantino setelah satu dasawarsa memimpin. Padahal, posisinya sempat dianggap sangat kokoh pasca-kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dengan format baru 48 peserta. Kini, masa depan kepemimpinannya menjadi tanda tanya besar seiring meningkatnya tuntutan reformasi di tubuh FIFA. (AFP/I-1)

Selengkapnya