loading...
Jelang Muktamar ke-35 NU, Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) menyerukan perubahan mendasar dalam kepemimpinan dan tata kelola organisasi. Seruan. Foto/SindoNews
JAKARTA - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) menyerukan perubahan mendasar dalam kepemimpinan dan tata kelola organisasi. Seruan tersebut mengemuka dalam Halaqah Jam'iyyah Nahdlatul Ulama berjudul “Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)” nan digelar di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Halaqah menjadi forum konsolidasi bagi sejumlah pengurus syuriyah, tanfidziyah, serta pengasuh pondok pesantren untuk membahas masa depan NU sekaligus mendorong agar Muktamar ke-35 menjadi momentum memperkuat integritas organisasi.
Salah satu sorotan utama adalah sistem penentuan ketua PBNU melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Ketua FUN, KH Mujib Qulyubi, menilai AHWA dibentuk untuk memastikan NU mendapatkan figur kepemimpinan ustadz nan ideal.
Baca juga: Jelang Muktamar Ke-35 NU, Forum Ulama Nahdliyin Serukan Tolak 'Serangan Fajar'
“Agar NU dipimpin oleh pasangan Rais Aam dan Ketua Umum nan bisa memimpin para kiai, aktivis, akademisi dan golongan ahli nan saat ini memenuhi struktur NU di semua tingkatan,” ujar KH Mujib dalam keterangan tertulis pada Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, pemimpin NU ke depan kudu mempunyai keahlian berinteraksi secara luwes dengan umat sekaligus bisa mengonsolidasikan beragam sumber daya organisasi. “Mudah-mudahan bakal terpilih pemimpin nan luwes dalam berinteraksi dengan umat dan mempunyai skill dalam mengkonsolidasikan sumber daya di NU,” katanya.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·