Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman virus langka sekarang menggemparkan Amerika Serikat (AS). Hal ini mengenai kasus pertama virus Bourbon terdeteksi di negara bagian New York.
Hingga kini, virus tersebut belum mempunyai vaksin maupun obat. Hal tersebut memicu kekhawatiran para intelektual lantaran jangkitan nan ditularkan melalui gigitan kutu lone star tersebut, selama ini banyak luput dari diagnosis.
Menurut studi Stony Brook Medicine nan dirilis bulan lalu, virus Bourbon berpotensi menjadi tantangan baru bagi bumi kesehatan andaikan penyebarannya terus meningkat. Para peneliti menilai virus ini kemungkinan sudah beredar lebih luas lantaran gejalanya sangat mirip dengan penyakit lain nan juga ditularkan melalui gigitan kutu.
"Virus Bourbon bisa segera mulai menyulitkan pemeriksaan jika penyebarannya meningkat pada musim panas ini dan tahun-tahun mendatang," tulis para peneliti dalam laporan tersebut, seperti dikutip RT, Senin (3/8/2026).
Virus Bourbon pertama kali diidentifikasi pada 2014 di Bourbon County, Kansas, nan kemudian menjadi asal penamaannya. Hingga kini, baru enam kasus jangkitan pada manusia nan tercatat, sebagian besar terjadi di wilayah tengah AS, dengan pasien pertama nan terdiagnosis pada 2014 dilaporkan meninggal dunia.
Infeksi virus Bourbon dapat memicu demam, kelelahan, ruam, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, hingga muntah. Karena gejalanya menyerupai sejumlah penyakit lain nan ditularkan kutu, jangkitan virus ini kerap susah dikenali pada tahap awal.
Dalam penelitian tersebut, intelektual menganalisis sampel darah dari 107 pasien nan mengalami demam dan indikasi lain setelah digigit kutu di Suffolk County sepanjang 2019-2024. Hasilnya, dua orang mempunyai antibodi virus Bourbon, termasuk seorang laki-laki berumur 67 tahun asal Long Island nan menjadi kasus pertama terkonfirmasi di New York.
Pasien tersebut awalnya diduga menderita penyakit Lyme. Ia kemudian mendapat terapi antibiotik doksisiklin.
Namun, keluhan berupa kelelahan berat dan sakit kepala tidak kunjung membaik hingga akhirnya pemeriksaan lanjutan menunjukkan kadar antibodi virus Bourbon meningkat delapan kali lipat dalam waktu satu bulan, nan mengonfirmasi jangkitan tersebut. Meski sempat dirawat di rumah sakit, pasien akhirnya pulih sepenuhnya.
Profesor Stony Brook Medicine sekaligus Direktur Tick-Borne Disease Clinic, Dr. Luis Marcos, mengatakan populasi kutu lone star nan terus bertambah di New York dan wilayah timur laut AS membikin virus Bourbon kemungkinan lebih umum daripada nan diperkirakan.
"Ada banyak kutu lone star di New York dan wilayah Timur Laut. Populasi kutu ini padat, dan ketika seseorang terinfeksi virus Bourbon, gejalanya mirip dengan jangkitan lain nan ditularkan melalui kutu," ujarnya.
"Oleh lantaran itu, virus Bourbon kemungkinan lebih banyak tersebar di wilayah kita daripada nan kita duga, dan kasus-kasus lainnya kemungkinan besar tidak terdiagnosis," tambahnya.
Ia juga menegaskan hingga sekarang belum tersedia tes diagnostik komersial, sehingga sampel pasien nan dicurigai terinfeksi kudu dikirim ke Dinas Kesehatan Negara Bagian New York untuk pemeriksaan khusus. Karena itu, para peneliti mendesak peningkatan pengawasan dan kapabilitas pengetesan agar pengembangan perangkat pemeriksaan maupun terapi nan efektif dapat dipercepat.
Kutu lone star merupakan araknida pengisap darah berwarna cokelat kemerahan nan dikenal agresif. Kutu betina dewasa mempunyai karakter unik berupa satu titik putih di punggungnya, sementara nimfa dan betina dewasa menjadi tahap nan paling sering menggigit manusia.
Selain virus Bourbon, jenis ini juga dapat menularkanehrlichiosis, virus Heartland, tularemia, serta dikaitkan dengan sindrom alfa-gal nan menyebabkan alergi terhadap daging merah. Bernama ilimiah Amblyomma americanum, kutu ini ditemukan di wilayah tenggara dan timur AS.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·