Geger "Perang Saudara" Sasar Warga, 25 Orang Dibantai Pakai Parang

55 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia -Setidaknya 25 orang dilaporkan tewas mengenaskan dalam sebuah serangan mendadak pada malam hari di sebuah desa di negara bagian Plateau tengah, Nigeria. Insiden mematikan ini telah memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat mengenai potensi kekerasan jawaban di wilayah nan memang dikenal rawan bentrok tersebut.

Mengutip Reuters, Rabu (19/08/2026), peristiwa kelam ini kembali menyoroti krisis ketidakamanan nan terus mengakar di negara bagian Plateau. Ketegangan antara organisasi petani dan golongan peternak sering kali memuncak dan berubah menjadi kekerasan jawaban sadis bak "perang saudara", nan secara konstan membikin banyak penduduk tewas, terlantar, hingga kehilangan tempat tinggal.

Anggota majelis nan mewakili wilayah tersebut, Lemun Le'an Iliya, mengonfirmasi bahwa 23 orang tewas secara seketika dalam serangan tersebut. Sementara satu korban lainnya meninggal menyusul saat sedang dirawat di rumah sakit.

Laporan dari penduduk setempat kemudian memperburuk berita tersebut dengan menyatakan bahwa ada satu tambahan korban lagi nan tewas. Hingga buletin diturunkan, total korban meninggal secara resmi mencapai setidaknya 25 orang.

Masih merujuk laman nan sama, Iliya membeberkan kengerian pada malam itu, di mana para penyerang bergerak dengan beringas dari satu rumah ke rumah lainnya untuk membantai para masyarakat hanya dengan menggunakan parang. Tragedi ini menjadi semakin memilukan lantaran kebanyakan dari total korban jiwa nan bertumbangan rupanya adalah golongan wanita dan anak-anak nan tidak berdaya.

Merespons tragedi ini, Juru Bicara Kepolisian Plateau, Alfred Alabo, mengonfirmasi kepada wartawan bahwa abdi negara penegak norma sekarang tengah dikerahkan langsung menuju area kejadian. Pihak kepolisian berjanji bakal segera mengeluarkan pernyataan resmi setelah melakukan penilaian situasi secara menyeluruh di lapangan.

Sementara itu, kegeraman publik memuncak akibat lambatnya penanganan pihak berwenang. Kelompok lokal Mwaghavul Youth Movement secara terbuka menuduh polisi telah kandas total dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi organisasi nan rentan dan menuntut pemerintah agar segera melakukan peninjauan ulang terhadap sistem keamanan di wilayah berdarah tersebut.

"Penghancuran organisasi nan berulang, pembunuhan penduduk tak berdosa, pembakaran rumah, dan perusakan lahan pertanian tidak dapat terus diperlakukan sebagai kejadian biasa," tegas Juru Bicara Mwaghavul Youth Movement, Tubwot Joël Sunday.

Sebagai informasi, wilayah Plateau nan terletak persis di Sabuk Tengah Nigeria ini memang telah lama dicekik oleh rentetan kekerasan berdarah. Insiden-insiden fatal tersebut umumnya mengenai langsung dengan sengketa lahan, kewenangan penggembalaan, dan perebutan sumber daya, nan sering kali kian diperparah oleh adanya lembah perpecahan etnis dan agama.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya