Hadapi EUDR, TFCA-Sumatra dan SCOPI Dorong Kesiapan Petani Kopi Terapkan Traceability

1 jam yang lalu 3
Hadapi EUDR, TFCA-Sumatra dan SCOPI Dorong Kesiapan Petani Kopi Terapkan Traceability Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatera), Yayasan KEHATI, berbareng Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) menggelar Webinar Cita Rasa Konservasi: Meracik Kopi, Profit, dan Kelestarian Hutan Episode 4 berjudul "Keterlacakan P(MI/Yose Hendra)

SISTEM keterlacakan (traceability) menjadi prasyarat baru nan tak bisa dihindari jika kopi Indonesia mau tetap kompetitif di pasar global. Seiring mulai diberlakukannya European Union Deforestation Regulation (EUDR) pada 30 Desember 2026 bagi operator serta pedagang besar dan menengah, dan 30 Juni 2027 bagi upaya mikro dan kecil, setiap produk kopi nan diekspor kudu dapat ditelusuri asal-usulnya serta dibuktikan tidak berasal dari area hasil deforestasi.

Menjawab tantangan tersebut, Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatra), Yayasan KEHATI, berbareng Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) menggelar Webinar Cita Rasa Konservasi: Meracik Kopi, Profit, dan Kelestarian Hutan Episode 4 berjudul "Keterlacakan Produk (Traceability)", Rabu (5/8), secara hybrid dari Rumah KEHATI, Jakarta.

Webinar ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan praktisi untuk membahas strategi membangun sistem keterlacakan nan bisa meningkatkan daya saing kopi Indonesia sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Lebih dari 100 peserta dari beragam wilayah mengikuti obrolan secara luring maupun daring. Beragam tantangan penerapan traceability di lapangan mengemuka, mulai dari regulasi, digitalisasi data, verifikasi geolokasi, hingga kesiapan petani dan pelaku upaya dalam memenuhi tuntutan pasar internasional. Diskusi dipandu oleh Sophia Mega, influencer kopi nan aktif mendorong penguatan ekosistem kopi berkelanjutan.

Direktur Program TFCA-Sumatra, Samedi, saat membuka webinar menegaskan bahwa penerapan traceability bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi masa depan industri kopi nasional.

"Keterlacakan alias traceability ini menjadi krusial terutama untuk komoditas kopi, lantaran selain memastikan legalitas lahan, juga berangkaian dengan mutu kopi serta kesejahteraan petani," ujar Samedi.

Founder Java Kirana, Noverian Aditya (Eri), menjelaskan pengalaman mendampingi pelaku upaya (off-taker) dan petani dalam menghadapi tuntutan rantai pasok global, termasuk penerapan EUDR. Menurutnya, izin tersebut bukan dimaksudkan untuk membebani petani, melainkan menjadi instrumen untuk memastikan komoditas kopi diproduksi tanpa mendorong deforestasi.

"Secara penerapan di lapangan, tantangannya adalah petani belum bisa memandang EUDR dari perspektif pandang pembeli (buyer), lantaran bagi mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tetap menjadi tantangan," kata Noverian.

Ia menjelaskan bahwa Java Kirana berkedudukan sebagai ecosystem enabler nan mendampingi petani melalui pemetaan kondisi di lapangan, identifikasi kebutuhan, hingga penyusunan langkah-langkah agar bisa memenuhi standar keberlanjutan dan mengakses pasar nan lebih luas.

Co-Founder dan Board Member Koltiva, Ainu Rofiq, memaparkan gimana digitalisasi serta verifikasi geolokasi dapat memperkuat sistem keterlacakan kopi Indonesia sekaligus membuka akses pasar ekspor.

Menurut Ainu, faedah traceability tidak hanya dirasakan dari sisi kepatuhan terhadap izin (compliance), tetapi juga meningkatkan pengendalian mutu (quality control) dan kepercayaan pasar.

"Akses pasar saat ini semakin menghargai kopi single origin dan specialty. Untuk mendukung perihal tersebut dibutuhkan platform nan bisa menjamin keterlacakan produk, sehingga traceability menjadi sangat penting," ujarnya.

Sementara itu, Bryant Hartanto dari Konsorsium Pundi Sumatra–Telapak memaparkan konsep sistem traceability nan bakal diterapkan para mitra TFCA-Sumatra pada Siklus Hibah X. Sistem tersebut diharapkan bisa memperkuat tata kelola rantai pasok kopi berkelanjutan, mendukung perlindungan hutan, sekaligus meningkatkan akses pasar dan nilai tambah bagi petani.

Menurut Bryant, traceability mempunyai makna nan jauh lebih luas daripada sekadar teknologi.

"Traceability bukan sekadar tentang baris nomor di layar komputer alias kode QR di kembali bungkusan kopi. Ia adalah perangkat untuk bercerita dengan jujur kepada bumi tentang keringat petani nan merawat tanaman kopinya di lereng gunung," ungkapnya.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Madya Direktorat Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Doris Monica Sari Turnip, menjelaskan beragam langkah pemerintah dalam memperkuat penerapan traceability pada komoditas perkebunan.

Ia memaparkan sasaran nasional pengembangan sistem keterlacakan, peningkatan kapabilitas petani dan pelaku usaha, serta penguatan penerapan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai instrumen legalitas lahan dan keberlanjutan.

Menurut Doris, pemerintah sekarang membuka kesempatan kerjasama nan lebih luas dalam proses pendataan dan pemetaan kebun kopi.

"Percepatan nan dilakukan pemerintah adalah memungkinkan tahapan pendataan dan pemetaan STDB dilakukan oleh pihak di luar pemerintah. Mitra pembangunan, industri pengolahan, maupun buyer sekarang dapat berkontribusi dalam proses tersebut. Langkah ini diharapkan mempercepat peningkatan jumlah info STDB pada komoditas kopi," jelasnya.

Melalui webinar ini, TFCA-Sumatra dan SCOPI berambisi semakin banyak pemangku kepentingan memahami bahwa traceability bukan semata-mata persyaratan untuk memenuhi izin pasar internasional, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan industri kopi Indonesia.

Sistem keterlacakan nan kuat diyakini bakal meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar global, sekaligus memastikan praktik produksi nan bertanggung jawab terhadap lingkungan, menjaga kelestarian hutan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian Cita Rasa Konservasi: Meracik Kopi, Profit, dan Kelestarian Hutan, sebuah forum pembelajaran dan kerjasama nan terus dihadirkan TFCA-Sumatera berbareng SCOPI untuk mendorong terwujudnya sektor kopi Indonesia nan produktif, berkekuatan saing, dan berkelanjutan. (YH/E-4)

Selengkapnya