Presiden FIFA Gianni Infantino.(FRANCK FIFE / AFP)
KURSI kepemimpinan Gianni Infantino di puncak organisasi sepak bola bumi (FIFA) sekarang berada di ujung tanduk. Tekanan dahsyat mendera laki-laki asal Swiss tersebut setelah kontroversi rencana komersialisasi turnamen Piala Dunia memicu gelombang mosi tidak percaya, ancaman boikot kompetisi, hingga manuver norma dari beragam konfederasi benua.
Di tengah situasi nan kian memanas, Infantino dilaporkan memanggil rapat darurat bagi seluruh staf FIFA nan berjalan di Rabat, Maroko, pada hari Rabu. Langkah ini diambil menyusul kecaman dunia akibat rencana pembentukan perusahaan patungan berjulukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial nan sedianya diproyeksikan mengelola aspek operasional turnamen FIFA, komplit dengan rencana penjualan 20 persen saham kepada penanammodal swasta.
Rencana nan pertama kali dibongkar oleh The Times dan Financial Times pekan lampau itu langsung menuai penolakan masif. Badan sepak bola Eropa (UEFA) berbareng CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bereaksi keras. Bahkan, UEFA sempat melayangkan ancaman boikot terhadap seluruh turnamen resmi FIFA, termasuk Piala Dunia, sebelum akhirnya proyek kontroversial tersebut resmi dibatalkan pada Sabtu lalu.
Dampaknya langsung menghantam internal FIFA. UEFA menyatakan secara terbuka telah "kehilangan kepercayaan" pada kepemimpinan Infantino. Sejumlah asosiasi sepak bola terkemuka seperti Inggris dan Wales secara resmi mencabut support mereka, sementara Skotlandia dikabarkan mengambil sikap serupa.
Di sisi lain, tekanan politik juga datang dari Yordania, di mana Presiden Asosiasi Sepak Bolanya, Pangeran Ali Bin Al Hussein, secara terbuka menuduh FIFA melakukan praktik pemerasan mengenai penggalangan suara.
Badai internal ini turut memicu gesekan di level ketua tertinggi. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, dalam pesan internal kepada para stafnya, mengakui bahwa para pegawai terjebak dalam "gejolak nan susah dipahami dan diterima." Situasi ini semakin runyam setelah pengunduran diri penasihat senior Carlos Cordeiro pekan lalu, serta pernyataan terbuka Kepala Operasional FIFA Kevin Lamour nan menyebut para staf telah "dikelabuhi" oleh sang presiden.
Kendati demikian, support bagi Infantino belum sepenuhnya runtuh. Kawasan Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania diprediksi tetap bakal berdiri di belakangnya. Sementara itu, blok Asia, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, dan Lebanon, menjadi penentu krusial bagi kelangsungan masa depan kepemimpinannya di tengah perpecahan bunyi nan kian tajam.
Di lini hukum, tekanan terhadap Infantino kian nyata. Tim kuasa norma UEFA dikabarkan telah memerintahkan jejeran petinggi FIFA untuk segera mengamankan seluruh arsip mengenai proyek FFE sebagai persiapan langkah norma lanjutan. Apabila kubu oposisi di Dewan FIFA sukses menggalang kebanyakan 19 bunyi untuk meminta pertanggungjawaban alias melancarkan "boikot tata kelola" nan melumpuhkan operasional organisasi, masa depan kepemimpinan Gianni Infantino di bangku nomor satu FIFA sekarang berada di periode keruntuhan.
(Espn/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·