Hamas.(Al Jazeera)
KELOMPOK Hamas menyatakan pada Sabtu (8/8/2026) bahwa mereka tetap siap untuk melanjutkan rencana perdamaian Jalur Gaza, Palestina, nan didukung oleh Amerika Serikat (AS). Hamas juga mendesak ada tekanan internasional terhadap Israel, nan hingga sekarang bersikeras belum menyetujui bagian terbaru dari kesepakatan tersebut.
Hamas menginformasikan kepada Dewan Perdamaian (Board of Peace) buatan Presiden AS Donald Trump bahwa mereka tetap berpegang pada tahap terbaru dari rencana tersebut. Dalam poin kesepakatan itu, golongan militan tersebut bersedia menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina nan baru dibentuk di wilayah nan hancur akibat perang tersebut.
"Hamas dan faksi-faksi lain mengonfirmasi kepada mediator mengenai kesiapan mereka untuk mulai mengimplementasikan perjanjian dan beranjak ke fase kedua, asalkan mendapat persetujuan Israel dan Israel mulai melaksanakan perjanjian tersebut," ujar seorang pejabat Hamas kepada AFP dengan syarat anonim.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa Hamas mendesak pemerintahan AS untuk memberikan tekanan kepada Israel agar mematuhi perjanjian dan segera melangkah ke fase kedua.
Sikap Keras Netanyahu
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada Selasa lampau bahwa Israel belum menyetujui draf yang dipresentasikan oleh Dewan Perdamaian. Netanyahu saat ini tengah menghadapi pertarungan pemilihan ulang nan sengit pada Oktober mendatang dan mendapat penolakan luas dari pedoman sayap kanannya mengenai kesepakatan Gaza.
Pekan lalu, Donald Trump sempat memuji kesediaan Hamas untuk melakukan pelucutan senjata sebagai terobosan. Dewan Perdamaian menyatakan bahwa sebagai imbalannya, Israel bakal melakukan penarikan pasukan secara berjenjang dari sebagian besar wilayah Gaza.
Namun, situasi menjadi rumit setelah Netanyahu berjumpa dengan perwakilan tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov, pada Senin. Mladenov dilaporkan menarik pernyataannya dan menyebut bahwa Israel hanya bakal menarik diri setelah pelucutan senjata penuh oleh Hamas dilakukan.
Situasi di Lapangan
Militer Israel berjanji untuk terus menggempur Hamas, nan bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Meski demikian, intensitas operasi militer Israel di Gaza dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir.
Pada Sabtu, Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis melaporkan tiga orang terluka akibat tembakan tentara Israel. Berdasarkan info kementerian kesehatan di wilayah tersebut, operasi militer Israel menewaskan 1.257 penduduk Palestina sejak Oktober tahun lalu, ketika kedua pihak menyepakati gencatan senjata nan didukung Trump. PBB menganggap angka-angka dari kementerian tersebut dapat diandalkan. Sementara itu, tentara Israel melaporkan lima kematian di jejeran mereka selama periode nan sama. (AFP/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·