Hamas Tegaskan Pelucutan Senjata hanya jika Pasukan Israel Mundur dari Gaza

1 jam yang lalu 3
Hamas Tegaskan Pelucutan Senjata hanya jika Pasukan Israel Mundur dari Gaza Ilustrasi - Hamas.(Anadolu)

PEJABAT senior Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan bahwa pihaknya tidak bakal mengambil langkah apa pun mengenai pelucutan senjata sebelum pasukan Israel sepenuhnya mundur dari Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan Hamad pada Jumat, merespons dinamika kesepakatan nan tengah berlangsung.

Hamad, nan merupakan personil delegasi negosiasi Hamas, menjelaskan bahwa rumor pelucutan senjata mempunyai keterkaitan erat dengan dua syarat utama: penarikan total pasukan Israel dari wilayah Gaza dan dimulainya proses rekonstruksi besar-besaran di wilayah tersebut. Dalam wawancaranya dengan saluran Al Jazeera, dia menekankan bahwa Israel tidak bakal mempunyai peran dalam proses pelucutan senjata tersebut.

Menurut Hamad, sistem pelucutan senjata nantinya bakal dikelola secara berdikari oleh sebuah badan nasional Palestina. Ia menegaskan kembali posisi Hamas bahwa tidak bakal ada langkah deeskalasi persenjataan selain Israel terlebih dulu memenuhi seluruh tanggungjawab nan tertuang dalam kesepakatan nan telah dicapai.

Negosiasi nan Sulit dan Berat

Hamad menggambarkan proses perundingan nan sedang melangkah sebagai proses nan "sulit dan berat". Meski demikian, dia menyatakan bahwa Hamas tetap berkomitmen untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan berupaya memperoleh hasil terbaik dari meja perundingan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Mesir, Qatar, dan Turki atas peran mediasi mereka dalam memfasilitasi kesepakatan ini.

Pernyataan dari pihak Hamas ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tercapainya kesepakatan mengenai pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas dan golongan bersenjata lainnya di Gaza. Dalam rencana tersebut, penarikan pasukan Israel dijadwalkan dilakukan secara bertahap.

Rencana 20 Poin dan Pasukan Internasional

Presiden Trump menyebut kesepakatan ini sebagai "terobosan bersejarah" nan dimediasi melalui rencana 20 poin untuk Gaza di bawah pengawasan Dewan Perdamaian. Implementasi kesepakatan ini direncanakan melibatkan Pasukan Stabilisasi Internasional nan bakal bekerja sama dengan kepolisian Palestina nan baru untuk menjaga keamanan di wilayah kantong tersebut.

Namun, situasi di lapangan tetap tegang. Meskipun gencatan senjata secara resmi mulai bertindak pada 10 Oktober 2025, laporan menunjukkan bahwa serangan tetap terus terjadi. Sejak tanggal tersebut, serangan harian dilaporkan telah menewaskan 1.214 penduduk Palestina dan melukai 3.977 lainnya, nan kebanyakan merupakan wanita dan anak-anak. (Anadolu/Ant/I-1)

Konteks Konflik:

Perang di Gaza telah menyebabkan akibat kemanusiaan nan sangat besar. Data menunjukkan lebih dari 73.000 penduduk Palestina tewas dan 174.000 lainnya luka-luka. Selain itu, sekitar 90 persen prasarana di Jalur Gaza dilaporkan telah hancur akibat eskalasi bentrok tersebut.

Selengkapnya