ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) mengungkap penyebab utama anjloknya nilai ayam hidup (live bird) di tingkat peternak.
Menurut Sekretaris Jenderal GOPAN Sugeng Wahyudi, turunnya nilai bukan disebabkan oleh tata kelola impor bahan baku pakan, melainkan lantaran pasokan ayam nan membanjiri pasar dan tidak diimbangi peningkatan permintaan.
Sugeng mengatakan, saat ini nilai ayam hidup di kandang peternak hanya berada di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per kilogram (kg). Angka tersebut jauh di bawah nilai pokok produksi (HPP) nan mencapai sekitar Rp20.000 per kg.
"Memang hari ini, suplay produksi ayam tidak diimbangi oleh peningkatan demand daging ayam. nan terjadi kemudian, nilai ayam hidup di kandang-kandang peternak tertekan," kata Sugeng kepada CNBC Indonesia, Selasa (30/6/2026).
"Kemarin nilai ayam hidup di kandang peternak di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per kg," sambungnya.
Ia menuturkan, kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Menurutnya, pola serupa juga sempat terjadi pada periode nan sama tahun lampau ketika nilai ayam hidup ikut mengalami penurunan akibat kelebihan pasokan.
"Kejadian ini berulang, dan seperti di tahun 2025, di bulan nan sama waktu itu, nilai ayam hidup juga mengalami penurunan," sebut dia.
Sugeng menegaskan, GOPAN tidak memandang anjloknya nilai ayam hidup dipicu oleh kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan impor bahan baku pakan oleh BUMN pangan Berdikari. Sebab, sebagian impor bahan baku tersebut tetap dapat dilakukan oleh perusahaan swasta.
"Oleh karenanya kami tidak memandang bahwa turunya nilai ayam hidup pengaruh dari kebijakan mengenai dengan dikelolanya material pakan oleh Berdikari, toh sebagian tetap bisa dikelola alias diimpor oleh swasta. Ini semata-mata pengaruh dari naiknya suplai ayam di pasar," jelas Sugeng.
Menurut dia, salah satu akar persoalan berasal dari tetap dominannya pemasaran ayam hidup oleh pelaku upaya besar. Padahal, pelaku upaya dengan kapabilitas produksi lebih dari 50 ribu ekor per minggu semestinya telah mempunyai rumah pangkas ayam, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.
"Sudah semestinya pelaku-pelaku nan mempunyai kapabilitas produksi lebih dari 50 ribu per minggu untuk memasarkan bukan ayam hidup, tetapi kudu mempunyai rumah pangkas ayam. Sesuai dengan Permentan 10/2024," katanya.
Sugeng mengatakan, saat ini nyaris seluruh pelaku industri mempunyai upaya budidaya ayam broiler. Sementara itu, pasar nan tetap bertumpu pada penjualan ayam hidup membikin tekanan nilai di tingkat peternak susah dihindari.
"Saat ini nyaris semua pelaku di industri mempunyai budidaya ayam broiler, tanpa terkecuali. Sementara pasar nan diandalkan pasar ayam hidup, nan terjadi kemudian nilai rendah di tingkat peternak tak terhindarkan," jelas dia.
Karena itu, dia mendorong pemerintah segera merealisasikan program hilirisasi nan selama ini telah dijanjikan. Menurutnya, penerapan hilirisasi dapat dilakukan melalui BUMN pangan Berdikari, agar penyerapan ayam tidak lagi berjuntai pada pasar ayam hidup.
"Hilirisasi seperti nan sering pemerintah janjikan, sudah saatnya untuk diimplementasikan, peralatan tentu melalui BUMN pangan nan dimiliki pemerintah, Berdikari dalam perihal ini," terang dia.
Selain itu, GOPAN juga meminta ekspansi upaya budidaya ayam hidup dibatasi, khususnya bagi pelaku upaya besar. Menurut Sugeng, banyak penanammodal baru masuk ke sektor budidaya tanpa memperhitungkan kondisi pasar sehingga memicu kelebihan pasokan.
"Termasuk ekspansi upaya di sektor budidaya final stock ayam hidup juga dibatasi, begitu banyak pelaku-pelaku baru investasi tanpa memperhitungkan pasar. Terutama pelaku-pelaku besar nan menguasai pakan dan DOC (Day Old Chick)," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, peternak rakyat sekarang kudu menanggung kerugian sekitar Rp5.000 per kg ayam nan dijual. Dengan biaya pokok produksi sekitar Rp20.000 per kg dan nilai jual hanya Rp14.000-Rp15.000 per kg, upaya peternakan ayam dinilai semakin tertekan.
(dce)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·