ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) punya tiga jurus dalam mendorong pengembangan bahan bakar hijau dalam negeri. Cara ini dijalankan demi RI mencapai kemandirian daya sekaligus menekan biaya produksi daya terbarukan agar lebih kompetitif untuk masyarakat.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan berupaya melakukan diversifikasi sumber daya dalam memperkuat ketahanan daya nasional di tengah dinamika geopolitik global. Menurutnya, pengembangan daya baru tidak boleh hanya terpaku pada satu metode, melainkan kudu melibatkan beragam penemuan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, nan kedua adalah multi-generation, nan ketiga adalah multi-region," katanya dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Selasa (30/6/2026).
Strategi pertama nan dilakukan melalui multi-feedstock, perihal itu dilakukan dengan memanfaatkan beragam jenis bahan baku nabati agar tidak terjadi persaingan dengan kebutuhan pangan nasional. Saat ini, Pertamina mengoptimalkan tetes tebu alias molase sebagai bahan baku etanol dan mulai menjajaki penggunaan singkong hingga sorgum manis di wilayah Lampung.
"Kenapa multi-feedstock? Karena nan paling mature dan mungkin tidak terlalu bersaing dengan food sekarang adalah tebu. Jadi tetes tebu itu adalah disebut side product nan sudah tidak bisa jadi gula, molasses. Nah ini ya nggak bersaing dengan gula gitu kan," ujarnya.
Strategi kedua adalah pengembangan teknologi lintas generasi alias multi-generation dengan merambah pengolahan limbah menjadi bahan bakar nabati generasi kedua. Inovasi tersebut menyasar pemanfaatan sisa batang sorgum serta limbah kelapa sawit (POME) nan ketersediaannya sangat melimpah untuk dikonversi menjadi biometanol dengan nilai nan lebih murah.
"Kenapa kita lari ke second generation? Karena nan di first generation kan nilai feedstock-nya bersaing dengan makanan kadang-kadang dan itu mahal. Itu nan membikin tidak ekonomis. Nah, sedangkan jika second generation itu dari waste. Sehingga feedstock-nya bisa murah," paparnya.
Strategi terakhir adalah strategi multi-region nan difokuskan pada pembangunan akomodasi produksi di letak nan dekat dengan sumber bahan baku. Pertamina berencana menambah minimal lima pabrik pengolahan baru nan tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, hingga Sulawesi guna menjamin efisiensi rantai pasok dan logistik.
"Multi-region kenapa? Karena tiap wilayah itu berbeda-beda potensinya. Jadi ada nan potensi jagung, ada potensi tebu, jadi kita bakal ke sana," tandasnya.
Melalui ketiga strategi tersebut, perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan keberagaman daya melalui beragam proyek percontohan nan terukur keekonomiannya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·