ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Akhir pekan kemarin, kedua belah pihak saling serang, memperburuk gencatan senjata nan rapuh.
Diketahui pada Jumat, AS mengatakan bahwa Iran menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz. Hal ini terjadi usai lembaga PBB, IMO, mengaku melakukan pemindahan kapal-kapal ke Selat Hormuz, namun tak diakui Iran nan menakut-nakuti melakukan serangan.
Sabtu di media sosialnya Truth Social, Presiden AS Donald Trump kemudian me-warning serangan ke Iran. Ia mengatakan AS mungkin terpaksa mengambil tindakan militer lebih lanjut jika Teheran terus melancarkan serangan.
Meski begitu, Senin waktu AS, Trump mengatakan bakal ada potensi pertemuan AS dan Iran di Doha, Qatar Selasa ini. Ia mengatakan "Iran telah meminta pertemuan" di media sosialnya.
Lalu gimana pembaruan AS-Iran kini? Berikut rangkuman CNBC Indonesia Selasa (30/6/2026) siang, dari beragam sumber.
1.Iran Mengatakan Tak Ada Pembicaraan Doha
Iran mengatakan bahwa tidak ada pertemuan negosiasi nan dijadwalkan dengan AS, di mana pun dalam beberapa hari mendatang. Teheran ujarnya, tetap konsentrasi pada penerapan nota kesepahaman (MOU) nan sudah ditandatangani kedua belah sebelumnya, alih-alih beranjak ke pembicaraan baru.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dan tim negosiasinya, mengatakan prioritas Iran saat ini adalah memastikan penerapan ketentuan MOU. Ia menekan tuntutan berasas kesepakatan terealisasi.
Meski begitu merujuk lembaga penyiaran Teheran, Republik Islam Iran (IRIB), Baghaei mengatakan AS telah mengeluarkan izin nan diperlukan mengenai dengan Klausul 10, nan mencakup penjualan minyak, dan Iran sedang menindaklanjuti implementasinya. Ia mengatakan penerapan Klausul 11, nan mengenai dengan pelepasan aset Iran nan dibekukan, juga sedang diupayakan.
"Dalam konteks itu, delegasi mahir dari Iran bakal melakukan perjalanan ke Doha akhir pekan ini," katanya.
Baghaei juga menegaskan Iran dan AS belum memasuki tahap negosiasi perjanjian akhir. Berdasarkan Klausul 13 memorandum tersebut, katanya, pembicaraan tentang perjanjian akhir hanya dapat dimulai setelah penerapan Klausul 1, 4, 5, 10, dan 11 dimulai, dan ketentuan-ketentuan tersebut terus dilaksanakan.
Perlu diketahui berikut keterangan komplit soal poin 1,4,5, 10 dan 11 AS-Iran sesuai MOU nan ditandatangani virtual 18 Juni.
Poin 1:
Amerika Serikat dan Republik Islam Iran serta sekutunya dalam perang saat ini, dengan menandatangani MOU ini, menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, dan berjanji mulai sekarang untuk tidak memulai perang alias operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, dan menahan diri dari ancaman alias penggunaan kekuatan terhadap satu sama lain dan memastikan integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon. Kesepakatan akhir bakal mengkonfirmasi penghentian perang secara permanen di semua lini, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dalam paragraf ini.
Poin 4:
Segera setelah penandatanganan MOU ini, Amerika Serikat bakal mulai menghapuskan blokade lautnya dan segala gangguan alias halangan terhadap Republik Islam Iran, dan bakal mengakhiri blokade laut sepenuhnya dalam waktu 30 hari. Selama periode ini, lampau lintas kapal bakal sebanding dengan jumlah lampau lintas sebelum perang nan dipulihkan oleh Republik Islam Iran. Amerika Serikat selanjutnya berjanji untuk menarik pasukannya dari wilayah Republik Islam Iran dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan akhir.
Poin 5:
Setelah penandatanganan MOU ini, Republik Islam Iran bakal melakukan pengaturan dengan upaya terbaiknya untuk jalur nan kondusif bagi kapal-kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari hanya dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya. Lalu lintas kapal komersial bakal segera dimulai, dan mengingat kebutuhan untuk menghilangkan halangan teknis dan militer serta penghapusan ranjau oleh Republik Islam Iran, bakal diberlakukan dalam waktu 30 hari. Republik Islam Iran bakal melakukan perbincangan dengan Kesultanan Oman untuk menentukan pemerintahan masa depan dan jasa maritim di Selat Hormuz, dalam obrolan dengan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya sejalan dengan norma internasional nan bertindak dan kewenangan kedaulatan negara-negara pesisir Selat Hormuz.
Poin 10:
Amerika Serikat berjanji bahwa segera setelah penandatanganan MOU ini dan hingga berakhirnya sanksi, Departemen Keuangan AS bakal mengeluarkan keringanan untuk ekspor minyak mentah Iran, produk minyak bumi dan turunannya, serta semua jasa terkait, termasuk transaksi perbankan, asuransi, transportasi, dan lain-lain.
Poin 11:
Amerika Serikat berjanji untuk menyediakan sepenuhnya biaya dan aset Republik Islam Iran nan dibekukan alias dibatasi penggunaannya. Setelah MOU ini diimplementasikan, Amerika Serikat dan Republik Islam Iran bakal saling menyepakati prosedur mengenai pencairan biaya tersebut selama negosiasi. Dana tersebut, baik nan disimpan di rekening awal alias ditransfer, bakal dapat digunakan sepenuhnya untuk pembayaran kepada penerima akhir nan ditunjuk oleh bank sentral Republik Islam Iran. Amerika Serikat berjanji untuk mengeluarkan semua lisensi dan otorisasi nan diperlukan.
2.Lalu Lintas Selat Hormuz
Lebih dari dua lusin kapal komersial transit di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, menurut info MarineTraffic, merujuk CNN International. Kapal-kapal tersebut termasuk enam kapal tanker dan delapan kapal kargo nan keluar dari Teluk Persia dan lima kapal tanker dan enam kapal kargo nan memasukinya.
Angka-angka ini konsisten dengan tingkat penyeberangan nan terlihat dalam beberapa hari terakhir, lantaran laju pelayaran terus melambat. Sebelum perang, rata-rata sekitar 110 kapal melintasi selat tersebut setiap hari.
Beberapa bulan setelahnya, selat tersebut telah mengalami spoofing GPS nan intens- suatu corak gangguan sistem navigasi nan menyebabkan posisi siaran kapal muncul di letak nan salah. Spoofing telah mereda secara nyata dalam beberapa minggu terakhir.
3.Utusan Khusus AS Dilaporkan Terbang ke Qatar
Di tengah penolakan Iran terhadap adanya pembicaraan di Doha har ini, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dilaporkan sekarang sedang dalam perjalanan ke Qatar. Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN International.
"Belum jelas apakah Witkoff pergi dengan menantu Trump, Jared Kushner," lapor laman itu.
Trump sendiri mengatakan pada Senin pagi bahwa AS bakal berjumpa dengan Iran di Doha hari ini. Sementara itu, seorang pejabat senior AS mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan teknis mengenai MOU 18 Juni, melangkah sesuai rencana, meskipun terjadi baku tembak baru-baru ini.
4.Harga Minyak Jatuh
Harga minyak bumi kembali turun lantaran penanammodal konsentrasi pada kemungkinan pembicaraan AS-Iran di Doha, Qatar. Minyak mentah Brent nan jadi patokan internasional misalnya, turun untuk perjanjian Agustus menjadi US$72,51 per barel, sekitar 22% lebih rendah dari penutupan bulan lalu.
5.Kesepakatan Baru Iran-Oman soal Hormuz
Iran dan Oman mengadakan pertemuan pertama komite campuran di Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan nan krusial bagi daya dunia, terletak diapit Iran dan Oman.
Merujuk laporan Al-Jazeera, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kedua pihak berganti pandangan mengenai pengelolaan masa depan selat tersebut.
Gharibabadi kemudian mengatakan kepada media pemerintah Iran bahwa Teheran dan Muscat telah mencapai "pemahaman nan sama" mengenai pengelolaan jalur air tersebut.
Dia mengatakan bahwa Oman pun mendukung keterlibatan dalam pengaturan ini sebagai negara pantai nan mempunyai kewenangan berdaulat, apalagi percaya bahwa biaya kudu dipungut sebagai hadiah atas jasa nan diberikan. Gharibabadi juga mengatakan komite teknis bakal dibentuk antara kedua negara.
"Para mahir bakal memulai obrolan unik dalam waktu tujuh hingga delapan hari untuk menyiapkan naskah dan menegosiasikan rute pengiriman," tegasnya.
Masa depan Selat Hormuz telah menjadi persoalan utama antara Iran dan AS. Teheran mau mengenakan biaya jasa bagi nan melalui selat tersebut berkoordinasi dengan Oman, sementara Washington menentang pungutan apa pun.
Posisi Oman tetap ambigu. Pekan lalu, Iran dan Oman bersama-sama mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan biaya nan mengenai dengan pengelolaan selat tersebut, namun Oman kemudian mengatakan bahwa tidak ada "biaya perjalanan" nan direncanakan, dan mengumumkan "koridor maritim sementara" nan dikoordinasikan oleh PBB di dekat pantainya.
6.Israel Serang Negara Arab Baru: Suriah
Israel kembali menyerang negara Arab baru. Setelah Gaza, Palestina dan Lebanon, sekarang Israel menyerang Suriah.
Pemerintah Suriah mengutuk serangan Israeldi wilayah selatannya Minggu. Akibat serangan tersebut masyarakat di dekat Dataran Tinggi Golan nan diduduki Israel, terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Kementerian Luar Negeri Suriah dengan tegas mengutuknya dan menyebut serangan itu "agresi Israel". Ia mengatakan Israel telah melakukan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah".
Serangan terbaru terjadi di Abdin, sebuah desa di provinsi Deraa barat, di mana masyarakat berupaya untuk menghalangi majunya unit tentara Israel.
Pasukan Israel kemudian menembakkan peluru artileri di dekat rumah-rumah penduduk sipil, dengan keluarga-keluarga melarikan diri ke desa-desa tetangga pada malam hari.
"Peluru (kemudian) jatuh di dekat rumah-rumah," kata Mahmoud Mouaffak, seorang tokoh desa.
"Pasukan Israel mundur, memungkinkan kembalinya ketenangan dan kembalinya masyarakat pada Senin pagi," tambahnya.
Israel telah mengintensifkan serangan dan penyusupannya ke Suriah selatan sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024. Israel telah memindahkan pasukan ke area penyangga nan dipantau PBB nan memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan, nan diduduki Israel sejak 1967, dan lebih jauh ke dalam wilayah Suriah.
Israel mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah membunuh "beberapa teroris bersenjata" sehari sebelumnya, tanpa memberikan angka, menentukan lokasi, alias bukti apa pun. Israel secara rutin menggambarkan penduduk Suriah nan melawan pendudukan mereka sebagai "teroris".
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·