Imum Mukim Gigieng, Muhammad Abubakar berbareng Kasubbag Program dan Keuangan Kantor Camat Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, Mustamar Arifina sedang mengontrol tanaman bawang merah di Desa Pulo Blang, Kecamatan Simpang Tiga.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)
PARA petani bawang merah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, terpaksa mengambil langkah untuk menunda masa panen mereka. Keputusan ini diambil menyusul merosotnya nilai jual bawang merah kering panen di tingkat petani dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan pantauan di lapangan selama tiga hari terakhir, khususnya di area Kecamatan Simpang Tiga, belasan hektare lahan bawang merah belum disentuh pemiliknya meski sudah memasuki masa panen. Secara teknis, tanaman tersebut telah berumur antara 52 hingga 60 hari, nan merupakan usia ideal untuk dipanen.
"Seharusnya sudah bisa dipanen. Biasanya pada usia 60 hari langsung kita panen. Tapi untuk kali ini saya tidak memanen dulu lantaran nilai sedang turun," ujar Muhammad Abubakar, Imum Mukim (tokoh adat) Gigieng, Kamis (30/7).
Muhammad menjelaskan bahwa dirinya berencana mengulur waktu panen hingga tanaman mencapai usia 70 hari. Strategi ini dilakukan dengan angan nilai bakal kembali membaik di masa mendatang. Selain itu, penundaan ini bermaksud agar umbi bawang merah menjadi lebih padat dan berisi, sehingga kualitasnya meningkat saat dijual nanti.
Rincian Penurunan Harga
Saat ini, nilai jual bawang merah kualitas terbaik di tingkat petani nan dijual ke pedagang pengumpul berada di nomor Rp24.000 per kg. Angka ini turun signifikan dibandingkan bulan lampau nan sempat menyentuh Rp35.000 per kg.
Kondisi serupa terjadi pada bawang merah kualitas standar. Harga nan biasanya mencapai Rp28.000 per kg, sekarang ambruk menjadi Rp20.000 per kg. Para petani sangat berambisi tren penurunan ini segera berhujung dan nilai kembali stabil di nomor nan menguntungkan.
Terkait kondisi ini, petani mendesak pemerintah wilayah maupun lembaga mengenai untuk turun tangan mengontrol nilai pasar. Langkah pengawasan dinilai krusial guna melindungi para petani dari potensi permainan nilai oleh oknum mafia pasar nan kerap memanfaatkan situasi panen.
Potensi Lahan di Simpang Tiga
Kasubbag Program dan Keuangan Kantor Kecamatan Simpang Tiga, Mustamar Atifina, mengungkapkan bahwa wilayahnya mempunyai potensi lahan bawang merah nan cukup luas, ialah sekitar 200 hektare. Sebagian besar lahan tersebut merupakan area persawahan nan dialihfungsikan untuk menanam bawang pada musim gadu (musim tanam kedua).
"Di sini area hilir, susah mendapatkan air dari sumber irigasi teknik. Karena itu, penduduk lebih suka menanam bawang merah. Selain harganya nan biasanya menjanjikan, usia panennya juga jauh lebih sigap dibandingkan padi," jelas Mustamar.
Penundaan panen menjadi pilihan dilematis bagi petani di Pidie demi menjaga nilai ekonomi komoditas unggulan wilayah tersebut di tengah perubahan nilai pasar. (H-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·