Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol untuk bulan Agustus 2026 sebesar Rp 11.695 per liter. Harga tersebut terpantau meningkat dibandingkan dengan bulan lampau sebesar Rp 10.933 per liter.
Adapun, besaran HIP BBN Bioetanol Agustus 2026 efektif bertindak mulai 1 Agustus 2026.
"Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk Biodiesel dan Bioetanol bulan Agustus 2026 telah resmi ditetapkan," tulis akun IG resmi @djebtke, dikutip Kamis (6/8/2026).
Penetapan nilai menggunakan formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/liter) + 0,25 US$/liter.
Adapun rata-rata nilai tetes tebu KPB periode 15 Januari 2026 sampai 14 Mei 2026 tercatat sebesar Rp 1.748 per kilogram. Sedangkan nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juni 2026 sampai 14 Juli 2026 sebesar Rp 17.931.
RI Punya BBM Bioetanol
Presiden RI Prabowo Subianto saat ini gencar menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol. Bahkan, Indonesia ditargetkan bisa mengikuti jejak India dan Brasil dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Prabowo mengatakan Indonesia saat ini telah mempunyai keahlian menuju penerapan E10 alias bensin dengan campuran 10% etanol. Bahkan, Indonesia berpotensi meningkatkan kadar campuran etanol hingga E20.
"Saya memandang pameran tadi sudah bisa menuju E10, etanol 10, jadi bensin kelak dicampur 10% etanol tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya nan kita miliki baru 1 pabrik tadi saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik jika perlu sampai 50 pabrik," katanya pada aktivitas Panen Raya tersebut.
Prabowo kemudian membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil apalagi telah menggunakan E100 alias bahan bakar berbasis etanol murni.
"India sudah E20, India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? bisa? bisa," katanya.
Di tengah upaya menuju E10 tersebut, Indonesia sendiri sejatinya sudah menerapkan bahan bakar E5 (campuran bensin dengan 5% bioetanol) secara komersial melalui produk Pertamax Green 95 (setara RON 95) di SPBU Pertamina.
Adapun nilai Pertamax Green 95 sendiri saat ini dibanderol sebesar Rp16.600 per liter per 1 Agustus 2026, turun dari Rp17.000 per liter pada periode Juli 2026.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·