Harga Cabai Masih Pedas, Warga Batam Kurangi Jumlah Pembelian

1 jam yang lalu 3
Harga Cabai Masih Pedas, Warga Batam Kurangi Jumlah Pembelian Harga cabe di Batam tetap memperkuat tinggi. Kondisi ini membikin sebagian penduduk membeli cabe dalam jumlah lebih sedikit.(MI/HENDRI KREMER)

HARGA cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Batam tetap memperkuat di level tinggi. Kondisi ini membikin masyarakat kudu menyesuaikan pengeluaran rumah tangga dengan mengurangi jumlah pembelian, sementara pedagang berambisi pasokan dari wilayah sentra produksi segera meningkat agar nilai kembali normal.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia nilai pangan di Batam, Kamis (6/8), nilai cabe merah berada di kisaran Rp68.000 hingga Rp69.000 per kilogram, sedangkan cabe rawit dijual sekitar Rp60.000 hingga Rp61.000 per kilogram. Harga tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan nilai normal nan umumnya berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, tergantung jenis cabai.

Di Pasar Mitra Raya, aktivitas jual beli tetap berjalan seperti biasa. Namun, pedagang mengaku pola shopping masyarakat mulai berubah sejak nilai cabe memperkuat tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya pembeli tidak ragu membeli satu kilogram, sekarang sebagian besar hanya membeli separuh kilogram, apalagi seperempat kilogram.

Salah seorang pedagang, Rina, 32, mengatakan nilai cabe belum mengalami penurunan nan berfaedah lantaran pasokan nan masuk ke Batam tetap terbatas. Sebagian besar cabe nan dijual berasal dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Pulau Jawa.

"Pasokan memang terus datang, tetapi jumlahnya belum banyak. Akibatnya nilai tetap tinggi. Pembeli tetap ada, hanya saja sekarang lebih banyak membeli sedikit-sedikit," katanya, Kamis (6/8).

Menurutnya, tingginya nilai membikin omzet pedagang tidak otomatis meningkat. Meski nilai jual naik, volume penjualan justru menurun lantaran masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.

"Kalau dulu satu orang bisa beli satu kilogram, sekarang rata-rata hanya separuh kilogram. Bahkan ada nan hanya seperempat kilogram untuk kebutuhan sehari alias dua hari," ujarnya.

Ia berambisi pengedaran cabe dari wilayah penghasil semakin lancar sehingga pasokan di Batam bertambah dan nilai berangsur turun.

"Kalau pasokan banyak, nilai biasanya ikut turun. Kami sebagai pedagang juga lebih mudah menjual lantaran pembeli tidak ragu membeli dalam jumlah banyak," tambahnya.

Kondisi serupa dirasakan para pembeli. Warga Batam, Siti Rahma, 22, mengaku kudu menyusun ulang anggaran shopping rumah tangga agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi meski nilai sejumlah bahan pangan, termasuk cabai, tetap tinggi.

"Harga cabe sekarang lumayan mahal. Biasanya saya beli satu kilogram untuk stok seminggu, sekarang cukup separuh kilogram saja. Pengeluaran kudu diatur agar tetap bisa membeli kebutuhan lainnya," ujarnya.

Pembeli lainnya, Andi, mengatakan cabe merupakan bahan nan nyaris selalu digunakan dalam masakan keluarga. Karena itu, meski harganya mahal, dia tetap membeli dengan jumlah nan disesuaikan.

"Mau tidak mau tetap beli lantaran nyaris setiap hari dipakai. Paling sekarang dikurangi jumlahnya, alias memilih jenis cabe nan harganya sedikit lebih murah," katanya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Endri Sanopaka, menilai tingginya nilai cabe di Batam tidak lepas dari ketergantungan wilayah terhadap pasokan dari luar Kepulauan Riau. Gangguan cuaca di wilayah sentra produksi maupun pengedaran dapat langsung memengaruhi nilai di tingkat konsumen.

"Batam tetap berjuntai pada pasokan dari luar daerah. Ketika produksi berkurang alias pengedaran terganggu akibat cuaca maupun biaya logistik nan meningkat, dampaknya bakal langsung terasa di pasar," ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah wilayah perlu memperkuat koordinasi dengan pemasok serta menjaga kelancaran pengedaran agar pasokan tetap tersedia. Selain itu, pengembangan budidaya cabe di wilayah Kepulauan Riau juga dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Sementara itu, pedagang berambisi nilai cabe dapat berangsur turun dalam beberapa pekan mendatang seiring meningkatnya pasokan dari wilayah penghasil. Mereka optimistis penurunan nilai bakal kembali mendorong daya beli masyarakat dan meningkatkan volume transaksi di pasar tradisional. (H-2)

Selengkapnya