Medan, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) berbareng pemerintah bakal memperkuat langkah pengendalian inflasi pangan nan hingga sekarang tetap menjadi sumber tekanan utama terhadap inflasi. Upaya tersebut bakal dibahas langsung dalam pertemuan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) berbareng Presiden Prabowo Subianto pada 5 Agustus 2026.
Gubernur sementara BI Destry Damayanti mengatakan pertemuan tersebut bakal membahas pertimbangan sekaligus strategi untuk menjaga stabilitas nilai pangan di tengah tetap tingginya inflasi golongan volatile food.
"5 Agustus kami bakal mengadakan pertemuan dengan Presiden untuk membahas capaian dan langkah-langkah Tim Inflasi Pusat dan Daerah dalam menjaga stabilitas inflasi pangan," ujar Destry dalam media briefing secara daring, Jumat (31/7/2026).
Destry mengakui inflasi pangan tetap menjadi perhatian utama BI. Hingga Juni 2026, inflasi golongan volatile food tercatat mencapai 5,58%, lebih tinggi dibandingkan sasaran inflasi nasional nan berada di kisaran 3,5% ±1%.
"Untuk core inflation relatif kondusif dengan inflasi total sebesar 3,5% pada posisi terakhir. nan memang menjadi perhatian kita adalah inflasi pangan nan tetap berada di atas 5%," katanya.
Menurut Destry, tingginya inflasi pangan lebih banyak dipicu oleh hambatan dari sisi pasokan dibandingkan permintaan. Karena itu, pengendaliannya tidak dapat hanya mengandalkan instrumen moneter, termasuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.
BI, kata dia, bakal terus berkoordinasi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID untuk memperkuat beragam langkah pengendalian pasokan dan pengedaran pangan, termasuk melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
"Karena inflasi pangan ini khususnya berasal dari sisi supply, ketersediaannya memang tetap terbatas. Tapi kami optimistis dapat mengatasinya melalui sinergi TPIP dan TPID," ujar Destry.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

4 jam yang lalu
8







English (US) ·
Indonesian (ID) ·