Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru nan bergeser dari medan militer ke sektor ekonomi. Washington bersiap meluncurkan paket hukuman baru nan disebut sebagai serangan finansial terbesar nan pernah dikerahkan terhadap Iran, sementara Teheran menakut-nakuti bakal menghentikan seluruh ekspor minyak dari area Teluk jika tekanan ekonomi tersebut terus berlanjut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konvensi pers pada Senin (24/8/2026) pukul 13.00 waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Bessent diperkirakan mengumumkan langkah-langkah ekonomi baru nan menargetkan mitra jual beli Iran.
Bessent sebelumnya telah memberikan gambaran mengenai skala tindakan tersebut. Dalam opini nan diterbitkan Financial Times pada Minggu, dia menyebut langkah Washington sebagai serangan ekonomi nan belum pernah terjadi sebelumnya.
"Fajar menyingsing dan dimulailah D-Day ekonomi, serangan finansial tunggal terbesar nan pernah dikerahkan terhadap seorang lawan," tulis Bessent dalam tulisan tersebut.
Bessent sebelumnya juga telah mendesak China untuk bekerja sama dengan Washington.
China menjadi perhatian krusial lantaran mempunyai hubungan perdagangan minyak nan besar dengan area Teluk. Bessent sebelumnya mencatat bahwa secara historis China menerima separuh dari impor minyaknya dari area tersebut.
Namun, Beijing menyerukan pendekatan diplomatik. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan bahwa "sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah", sembari menyerukan diplomasi.
Sementara itu, hukuman baru tersebut bakal diarahkan tidak hanya kepada Iran, tetapi juga negara-negara nan tetap mempertahankan hubungan perdagangan dan finansial dengan Teheran.
Iran merespons ancaman tersebut dengan peringatan keras. Teheran menyatakan dapat menghentikan seluruh ekspor minyak dari area Teluk andaikan "perang ekonomi" nan dipimpin AS terus berlangsung.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, menyampaikan ancaman tersebut melalui unggahan di media sosial pada Minggu.
"Jika perang ekonomi berlanjut, tidak setetes pun minyak bakal diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk Persia," tulis Rezaei, dilansir Reuters.
Ia juga memperingatkan negara-negara nan membantu Washington menjalankan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Sanksi baru AS juga bakal diterapkan ketika kondisi perekonomian Iran sebenarnya sudah berada di bawah tekanan besar akibat hukuman internasional nan telah berjalan selama bertahun-tahun.
Iran telah menghadapi hukuman ekonomi internasional sejak periode Revolusi Islam 1979.
Sebelum serangan AS dan Israel, perekonomian Iran sudah menghadapi beragam persoalan, termasuk inflasi tinggi, pelemahan mata uang, kekurangan energi, hukuman dan kelemahan struktural nan mendalam.
Perang kemudian memperburuk situasi tersebut. Infrastruktur Iran mengalami kerusakan, perdagangan terganggu, produksi menurun dan pemerintah kudu menghadapi biaya pembangunan kembali.
Meski pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap menantang secara terbuka, sejumlah pejabat Iran telah memperingatkan bahwa balasan ekonomi tambahan dapat semakin memperburuk kondisi masyarakat, memicu kembali kerusuhan dan semakin mengikis legitimasi Republik Islam.
Dengan tekanan tersebut, perang ekonomi berpotensi menambah persoalan nan sudah dihadapi Iran apalagi sebelum bentrok militer berlangsung.
Ancaman Iran untuk menghentikan seluruh ekspor minyak dari area Teluk juga menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai titik krusial dalam eskalasi konflik.
Iran tetap mempunyai keahlian untuk menakut-nakuti kapal tanker minyak nan melintasi selat tersebut. Aktivitas pelayaran di jalur strategis itu telah mendekati kondisi terhenti akibat konflik.
Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan terhadap lampau lintas kapal di area tersebut dapat memberikan tekanan lebih luas terhadap pasar energi.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·