Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'

3 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

loading...

Umar Idris, Alumnus Pasca Sarjana FEB UI, pengamat kebijakan publik dan ketenagakerjaan, serta pegiat media di Indonesian Institute of Journalism. Foto: Istimewa

Umar Idris
Alumnus Pascasarjana FEB Universitas Indonesia, Pemerhati kebijakan publik dan ketenagakerjaan, dan Pegiat media di Indonesian Institute of Journalism

BEBERAPA waktu lalu, jagat digital Indonesia dikejutkan oleh video viral seorang pengemudi ojek online (ojol) berjulukan Sulis di area Jatinegara, Jakarta Timur. Sulis menangis histeris, memohon, hingga memanjat mobil pikulan Dinas Perhubungan demi mempertahankan sepeda motornya nan hendak disita.

Di atas permukaan, peristiwa tersebut adalah persoalan pelanggaran parkir biasa. Namun, jika kita menggunakan pisau kajian sosial-ekonomi, tangis panik itu adalah sebuah kejadian kerentanan ekstrem (precarity) nan sedang mencengkeram jutaan pekerja informal dan kelas menengah di Indonesia.

Secara ekonomi, histeria tersebut sangat logis jika dibedah dengan menggunakan analisa kepemilikan modal. Bagi seorang pekerja gig economy, sepeda motor bukan sekadar perangkat transportasi, melainkan satu-satunya perangkat produksi (means of production) untuk menyambung hidup. Detik di mana motor seorang ojol diangkut alias disita, detik itu pula terjadi total income loss (kehilangan pendapatan 100%).

Sektor ini menjebak pekerjanya dalam skema pendapatan harian nan memaksa mereka hidup dari hari ke hari (hand-to-mouth window). Kehilangan ruang kerja satu hari saja berfaedah runtuhnya ketahanan domestik secara instan: sewa rumah menunggak, susu anak tak terbeli, hingga bayang-bayang penyitaan permanen oleh pihak leasing.

Lebih jauh lagi, model upaya platform digital ini melahirkan apa nan disebut sebagai asimetri risiko. Melalui narasi "kemitraan", perusahaan aplikator sukses memindahkan seluruh beban akibat operasional—mulai dari penyusutan aset, biaya bensin, perawatan kendaraan, hingga akibat hukuman norma di jalanan—ke pundak pekerja. Sementara itu, korporasi aplikator tetap mengonsolidasikan untung dari potongan aplikasi tanpa kudu memikirkan alas finansial (financial cushion) bagi mitranya ketika modal kerja mereka terganggu.

Secara sosiologis, peristiwa ini merefleksikan kerasnya perjuangan kelas menengah rentan dalam menikmati kue ekonomi di perkotaan. Dalam perebutan ekonomi tersebut, kewenangan mereka atas akomodasi kota (Right to the City) tetap terabaikan. Kota metropolitan seperti Jakarta tidak seramah jasa nan diberikan kepada korporasi dan kelas menengah-atas melalui mal, gedung pencakar langit, dan area steril. Di sisi lain, ruang transisional untuk pekerja sektor informal—seperti tempat tunggu ojol alias shelter kurir—hampir-hampir tidak tersedia di setiap gedung pencakar langit dan kawasan.

Ketika abdi negara melakukan penertiban secara kaku dan hitam-putih tanpa memandang konteks ruang nan timpang ini, tindakan tersebut sebagai perpanjangan tangan dari kekerasan struktural (structural violence). Tangis panik dan tindakan nekat memanjat mobil petugas adalah corak resistensi terakhir nan tak berdaya—apa nan disebut James C. Scott sebagai the weapons of the weak—ketika ruang negosiasi verbal penduduk kelas bawah sudah ditutup rapat oleh otoritas.

James C. Scott (1936–2024) adalah seorang intelektual politik dan antropolog legendaris dari Yale University, Amerika Serikat. Fokus risetnya adalah mempelajari gimana masyarakat kelas bawah (petani, buruh, masyarakat adat) memperkuat hidup dan melawan penindasan tanpa kudu melakukan revolusi berdarah.

Analisis Scott sangat unik lantaran dia tidak memandang sejarah dari kacamata penguasa alias kaum elit, melainkan dari perspektif pandang masyarakat nan terpinggirkan (subaltern). Konsep The Weapons of the Weak (Senjata Kaum Lemah) lahir dari kitab terkenalnya nan terbit tahun 1985, berasas penelitian mendalam selama dua tahun di sebuah desa di Kedah, Malaysia.

Scott menemukan bahwa masyarakat miskin alias kelas bawah jarang sekali melakukan pemberontakan terbuka, demonstrasi besar, alias revolusi bersenjata. Mengapa? Karena akibat fisiknya terlalu besar—mereka bisa dipenjara, ditembak, alias kehilangan mata pencaharian seketika.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan resistensi sehari-hari nan sunyi, tidak kasat mata, namun konstan. Bentuk-bentuk "senjata" tersebut antara lain mengerjakan pekerjaan dengan sengaja diperlambat (foot-dragging), dan gunjingan alias rumor di belakang punggung penguasa (slander/gossip).

Kaitannya dengan tangis panik ojol adalah: ketika ruang negosiasi verbal sudah tertutup lantaran patokan birokrasi nan kaku, dan sang ojol tidak mempunyai kekuatan politik alias norma untuk melawan balik, histeria, air mata, dan tindakan nekat memanjat mobil adalah corak weapons of the weak nan beralih bentuk menjadi teatrikal. Tubuh dan emosinya adalah satu-satunya kapital nan tersisa untuk melawan otoritas.

Selengkapnya