ARTICLE AD BOX
Ilustrasi--Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi(AFP)
KETEGANGAN di Semenanjung Arab kembali memanas setelah milisi Houthi di Yaman mengeklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Arab Saudi pada Senin (13/7). Aksi ini memicu kekhawatiran dunia bakal berakhirnya masa deeskalasi nan telah terjaga sejak tahun 2022.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi bahwa sasaran utama operasi tersebut adalah Bandara Internasional Abha nan terletak di wilayah selatan Arab Saudi, berbatasan langsung dengan Yaman.
Saree menyebut serangan ini sebagai jawaban atas tindakan Arab Saudi nan dianggap melakukan agresi terhadap prasarana penerbangan di Yaman.
"Menanggapi agresi pidana Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer nan menargetkan Bandara Internasional Abha, menggunakan sejumlah rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak," ujar Saree dalam pernyataan video nan dilansir pada Selasa (14/7).
Pemicu Eskalasi: Insiden Bandara Sanaa
Pihak Houthi mengeklaim serangan ke Abha merupakan respons langsung atas dugaan serangan Saudi terhadap landasan pacu Bandara Internasional Sanaa. Kelompok tersebut juga mengeluarkan peringatan keras kepada maskapai penerbangan internasional agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi selama pengepungan terhadap Bandara Sanaa tetap berlangsung.
Di sisi lain, pemerintah Yaman nan diakui secara internasional, dengan support koalisi Arab Saudi, membenarkan adanya operasi di landasan pacu Bandara Sanaa. Namun, mereka memberikan argumen berbeda mengenai tujuan operasi tersebut.
| Milisi Houthi | Membalas agresi Saudi terhadap Bandara Sanaa dan menuntut penghentian pengepungan wilayah udara. |
| Pemerintah Yaman (Pro-Saudi) | Mencegah pesawat Iran nan membawa delegasi Houthi dari pemakaman Ayatollah Ali Khamenei mendarat lantaran melanggar kedaulatan. |
Ancaman Terhadap Stabilitas Kawasan
Insiden ini menandai titik kembali nan mengkhawatirkan bagi stabilitas kawasan. Sejak gencatan senjata informal diberlakukan pada Maret 2022, intensitas serangan lintas pemisah antara Houthi dan Arab Saudi sempat menurun drastis. Namun, dengan adanya serangan ke Bandara Abha, Houthi secara definitif menyatakan bahwa periode de-eskalasi tersebut telah berakhir.
Houthi menakut-nakuti bakal terus menargetkan bandara-bandara Saudi dan aset vital lainnya jika Riyadh kembali melancarkan serangan serupa alias melanggar wilayah udara Yaman. Hingga saat ini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim serangan rudal maupun tuduhan nan dilontarkan pihak Houthi.
Konteks Konflik Yaman
Perang kerabat di Yaman telah berjalan sejak 2015, ketika koalisi militer ketua Arab Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan pemerintahan sah nan digulingkan oleh Houthi. Saat ini, peta kekuatan di Yaman terbagi menjadi dua wilayah utama:
- Utara (Termasuk Sanaa & Hodeidah): Dikuasai oleh milisi Houthi nan didukung oleh Iran.
- Selatan (Berpusat di Aden): Dikuasai oleh pemerintah Yaman nan diakui internasional dengan support Arab Saudi dan negara Teluk.
PBB terus memperingatkan bahwa bentrok berkepanjangan ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, nan menyebabkan jutaan orang mengungsi dan kehancuran prasarana nan masif di seluruh negeri. (Z-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·