Ibadah Haji Ikut Gerakkan Ekonomi RI, Nilainya Rp 8,78 T

54 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontribusi penyelenggaraan ibadah haji pada 2026 mencapai Rp8,78 triliun alias sebesar 0,13 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, jumlah tersebut tetap bisa ditingkatkan dengan mendorong pengeluaran jamaah Haji di dalam negeri.

Amalia menjelaskan, dari total Rp29,25 triliun Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan pengeluaran pribadi jamaah Haji sebagian besar adalah konsumsi impor, tepatnya mencapai Rp20,48 triliun alias 70 persen.

Sementara untuk duit pengeluaran alias konsumsi nan beredar di dalam negeri hanya sebesar Rp8,78 triliun alias 30 persen dari keseluruhan.

"Seluruh jemaah haji pada 2026 ini pengeluarannya mencapai Rp29,25 triliun. Dari total pengeluaran tersebut kami memperkirakan sekitar Rp8,78 triliun alias 30 persen merupakan konsumsi di dalam negeri, ialah konsumsi peralatan dan jasa nan diproduksi di Indonesia alias menggunakan bahan baku dari Indonesia," kata Amalia saat konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta pada Kamis (6/8/2026).

Amalia menilai kontribusi haji terhadap PDB bisa ditingkatkan jika porsi konsumsi domestik di tingkatkan menjadi 50 hingga 60 persen.

"Kalau proporsi nan 30 persen ini naikkan menjadi 50 persen alias 60 persen, maka kontribusinya kelak terhadap PDB bakal lebih meningkat dan multiplier effect-nya terhadap ekonomi Indonesia pun bakal menjadi lebih banyak. Jadi peluangnya ada di sini," kata Kepala BPS.

Jika dihitung pengeluaran domestik untuk keperluan Haji mencapai 50 hingga 60 persen, maka kontribusi ke perekonomian bisa mencapai Rp14,63 triliun sampai Rp17,55 triliun.

Kepala BPS menjelaskan komponen konsumsi domestik saat ini sudah berkembang tidak hanya dari aktivitas ekonomi di dalam negeri saja, namun barang-barang Indonesia juga digunakan di Arab dalam mendukung penyelenggaraan Haji.

"Ada juga nan sudah dicek oleh para petugas dan pengawas haji kami. Waktu mereka mengecek ke dapur, bumbu-bumbu nan mereka gunakan juga sudah dari Indonesia sehingga ini sudah kami masukkan di dalam kalkulasi nan 30 persen," katanya.

Di sisi lain, sebanyak 70 persen nilai konsumsi merupakan pengeluaran untuk peralatan dan jasa di Arab Saudi, termasuk shopping dari kantong pribadi.

Mengutip info BPS, jumlah pengeluaran pribadi jamaah Indonesia saat ibadah Haji 2026 mencapai Rp4,25 triliun, mencakup Haji Reguler sebesar Rp3,39 triliun dan Haji Khusus sebesar Rp857,3 miliar.

Adapun peserta Haji asal Indonesia menghabiskan Rp1,96 triliun alias 46,1 persen dari total pengeluaran pribadi untuk shopping oleh-oleh dari Tanah Suci pada 2026, menurut info Badan Pusat Statistik.

Selain shopping oleh-oleh, pengeluaran pribadi jamaah Haji Indonesia juga untuk membeli makanan tambahan alias jajanan dan minuman nan totalnya mencapai Rp542,6 miliar.

Adapun pengeluaran besar seperti bayar DAM (720 SAR) dan obat-obatan lainnya, masing-masing mencapai Rp559,9 miliar dan Rp743,3 miliar.

Selanjutnya ada juga keperluan transportasi, di mana para jamaah Haji mengeluarkan biaya sebesar Rp257,4 miliar selama ibadah di Tanah Suci pada 2026.

Sementara untuk membeli paket info alias internet, total jamaah Haji Indonesia pada 2026 mengeluarkan Rp86,2 miliar dari kantong pribadinya.

Amalia mencatat bahwa sebagian besar pengeluaran tersebut Bapak Ibu dilakukan di Arab Saudi selama penyelenggaraan ibadah Haji. Misalnya saja pembayaran DAM sepenuhnya dilakukan di Arab Saudi lantaran berangkaian dengan penyelenggaraan ketentuan ibadah haji. Begitu juga dengan shopping oleh-oleh nan dilakukan di sana.

"Artinya kita juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonominya Arab Saudi Bapak lantaran kita shopping di sana," imbuh Amalia.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya