Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin.(Dok. PAM Jaya)
AKSELERASI untuk mengejar sasaran cakupan pelayanan air perpipaan hingga 100% di Jakarta dikebut. Hingga saat ini, cakupan jasa PT Air Minum Jaya/PAM JAYA (Perseroda) telah mencapai 82,6% seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna secara signifikan.
Pencapaian tersebut menjadi injakan krusial untuk mempercepat penyambungan bagi penduduk nan selama ini belum terlayani. Strategi ekspansi jaringan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembangunan pipa utama hingga sambungan langsung ke rumah-rumah pelanggan.
“Dari nan 900 ribu (pelanggan), sekarang sudah 1,2 juta nan menikmati air bersih dari PAM,” ungkap Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin saat berbincang dengan Media Indonesia di Kantor PAM JAYA, Jakarta Pusat, Selasa (11/8).
Ekspansi jaringan saat ini berjalan paling garang di Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Sejumlah area nan sebelumnya belum tersentuh layanan, seperti Marunda, Cilincing, Kebon Kosong, hingga Rusun Marunda, sekarang mulai terhubung dengan jaringan perpipaan air bersih.
Guna memperkuat pasokan, PAM JAYA mengandalkan suplai air baku dari Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran 3. Langkah ini difokuskan untuk memperkuat keandalan pasokan, khususnya di wilayah timur dan utara Jakarta. Nantinya juga bakal dibangun reservoir komunal untuk meningkatkan cakupan air bersih.
Sebaliknya, area Jakarta Barat tetap menghadapi tantangan tersendiri. Pembangunan prasarana pendukung dari Bendungan Karian, Banten, menuju Jakarta nan belum rampung membikin percepatan jasa di wilayah tersebut belum selaju area timur dan utara.
Arief menekankan, pemenuhan sasaran jasa 100% tidak sebatas menambah jaringan sambungan baru. PAM JAYA pun kudu memastikan pemerataan tekanan air agar seluruh pengguna mendapatkan pelayanan nan optimal.
PAM JAYA juga dihadapkan pada tantangan membenahi jaringan perpipaan nan berumur uzur. Dari total sekitar 13 ribu kilometer jaringan pipa nan ada, beberapa segmen di antaranya telah berumur hingga 104 tahun.
Program rehabilitasi jaringan pun telah disiapkan. Kendati demikian, PAM JAYA memilih mendahulukan ekspansi sambungan baru guna menghindari tumpang-tindih antara proyek pembangunan jaringan baru dan penggantian pipa lama.
Mengingat besarnya cakupan pekerjaan, PAM JAYA berupaya menerapkan teknologi mutakhir nan memungkinkan proses pembangunan dan rehabilitasi jaringan melangkah dengan pengaruh gangguan minimal terhadap aktivitas warga. Pasalnya, bentangan pipa PAM berada di bawah akses jalan vital serta area permukiman padat.
Langkah ini sekaligus ditujukan untuk menekan ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Perluasan cakupan perpipaan dipandang krusial dalam meredam pemanfaatan air tanah nan menjadi salah satu pemicu utama penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta.
Untuk mengikis sisa 17,4% demi mencapai cakupan 100%, Arief mengakui dibutuhkan pembangunan prasarana berskala masif, koordinasi erat antarutilitas, serta kesabaran dari masyarakat. “Memang tantangan menyelesaikan 100% pelayanan ini tidak mudah. Tapi ketika kita selesai semua itu bakal kemudian semua bahagia. Karena air menjadi kebutuhan dasar nan tidak bisa disubstitusi,” tukas Arief.
FLUKTUASI AIR BAKU
Di sisi lain, PAM JAYA sekarang bersiap merespons ancaman penurunan ketersediaan air baku akibat berfluktuasinya muka air Waduk Jatiluhur. Arief mengungkapkan, muka air Waduk Jatiluhur saat ini berada pada posisi 99 meter di atas permukaan laut (mdpl), menyusut dari kondisi rata-rata normal di level 110 mdpl. “Walaupun itu tetap garis aman. Alert-nya ketika di 85 mdpl,” terang Arief.
Sebagai antisipasi darurat andaikan suplai air baku utama tertekan, PAM JAYA menyiagakan teknologi pengolahan air bergerak alias mobile water treatment plant (WTP). Teknologi ini memfasilitasi pengambilan air dari sumber-sumber pengganti nan tersedia untuk kemudian diolah seketika menjadi air siap minum.
Proses pengolahan dengan mobile WTP tergolong singkat, berkisar antara 30 menit hingga maksimal dua jam. Unit ini sebelumnya juga teruji membantu krisis air bersih saat penanggulangan musibah di luar daerah. Arief memastikan pengedaran air bersih untuk penduduk Jakarta sejauh ini tetap melangkah normal tanpa adanya kondisi kekeringan nan mengharuskan pengerahan armada mobil tangki secara rutin.
Sementara itu, peneliti Jakarta Public Service (JPS) Rahmat Hidayat, menilai transformasi jasa PAM JAYA merupakan fondasi kokoh untuk menghadirkan akses air minum perpipaan nan modern, profesional, dan berorientasi pada publik. “Pemenuhan jasa air bersih adalah salah satu pemenuhan kebutuhan dasar, tentu ini kudu didukung bersama," katanya.
Ia menilai pembenahan komprehensif mulai dari percepatan penanganan kebocoran, digitalisasi layanan, pembangunan prasarana baru, hingga penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance) menjadi modal utama pemenuhan jasa nan merata.
Selain mematok sasaran jasa 100% pada 2029, PAM JAYA juga tengah menyiapkan langkah strategis menuju penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2027 guna memperkuat struktur pendanaan ekspansi.
“Kita memandang gimana perusahaan ini tidak hanya konsentrasi memperluas jaringan perpipaan, tetapi juga serius membenahi persoalan mendasar seperti kebocoran jaringan nan selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar,” tutup Rahmat. (Far/Ant/P-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·