Ikhtiar Sekolah Pinggir Hutan untuk Terus Berkelanjutan dengan Kemandirian

1 jam yang lalu 2
Ikhtiar Sekolah Pinggir Hutan untuk Terus Berkelanjutan dengan Kemandirian Para siswa Sekolah Pakis mempraktikkan agroforestri dengan menanam bibit kopi.(MI/LILIK DARMAWAN)

SEKITAR 5 kilometer (km) menuju Sekolah Pakis di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah jalanan menyempit. Meski sudah beraspal, tetapi di beberapa titik ada kerusakan. Sehingga jalan kudu pelan-pelan, apalagi menanjak. Setelah melewati rimba pinus, terlihat Telaga Kumpe nan berada di ketinggian 700 meter di atas pemukaan laut (mdpl). Di sebelah utara telaga nan berbatasan langsung dengan rimba lereng selatan Gunung Slamet itulah, Sekolah Pakis berdiri. Jarak dari pusat Kota Purwokerto sekitar 25 km. 

Awalnya, Sekolah Pakis berjulukan Madrasah Tsanawiah (MTs) Pakis. Nama Pakis sesuai dengan nama salah satu sayuran unik pegunungan. Pakis juga kependekan dari piety atau kesalehan, achievement alias prestasi, knowledge pengetahuan pengetahuan, integrity alias integritas, dan sincerity alias keikhlasan. Kini Sekolah Pakis tidak hanya menerima anak-anak jenjang setara SLTP saja, melainkan juga sampai ke Kelompok Belajar (Kejar) Paket C alias setara SLTA. Sekolah nan berdiri sejak tahun 2013 terus berupaya tegak berdiri untuk melayani pendidikan anak-anak tepi hutan. 

Sebagai sekolah alternatif, ruangan kelas kerap kosong. Para siswa seringnya belajar di luar ruangan, apalagi jika sudah berangkaian dengan agroferestri. Seperti nan terlihat pada awal pekan Agustus lalu. Setelah mendapatkan pelajaran di ruangan, mereka kemudian keluar. Murid-murid setingkat SLTP dan SLTA berada di sekitar Telaga Kumpe. “Kebetulan hari ini ada pelajaran mengenai budi daya kopi. Tadi sudah di dalam kelas, sekarang mempraktikkan di luar,”kata Reza Setiawan, 14, asal Dusun Karanggondang, Desa Sambirata nan merupakan tetangga desa Gununglurah. 

Tak hanya Reza, siswa Kejar Paket C dari Sambirata, Sefia Ramadhani, 18, juga ikut serta dalam pelajaran budi daya kopi tersebut. “Kami diajari gimana budi daya kopi mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan. Selain itu juga diajari pascapanen, ialah memproses biji kopi nan matang dengan sangrai alias roasting kopi. Ada macam-macam prosesnya mulai natural, fullwash dan honey,”ujar Sefia beberapa waktu lalu.

Keduanya memang terlihat sangat antusias ketika Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya alias BCTC (Banyumas Coffee Training Center) Edi Daryono berbagi pengalaman mulai dari budi daya sampai pemasaran. “Anak-anak dan penduduk di sini cukup antusias, lantaran mereka bakal langsung mempraktikkan di lapangan,”kata Edi aktivitas Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026 nan didukung CIMB Niaga nan berjalan pada Selasa (14/7) silam.

Menurut Edi, setelah memandang area di sekitar Sekolah Pakis, dia optimis bakal bisa mengembangkan budi daya kopi sehingga bisa menjadi penopang operasional sekolah sehingga dapat berkelanjutan. “Potensinya sangat baik, lantaran kopi bisa ditanam di sela-sela tanaman hutan. nan paling cocok ditanam di sini jenis kopi robusta, lantaran ketinggiannya di bawah 1.000 mdpl,”ujar Edi.

Kepala Sekolah Pakis Isrodin menambahkan pihaknya sudah mulai budi daya kopi sejak beberapa tahun lalu. Namun, lanjutnya, langkah budi daya belum terlalu maksimal. “Makanya dengan adanya Mas Edi datang ke sini, bakal menambah pengetahuan kami. Mulai dari langkah budi daya, pemeliharaan sampai pascapanen. Terutama gimana memproses kopi menjadi siap jual, ini nan belum mumpuni,”kata Isrodin.

Potensial dikembangkan

 Sebagai praktisi kopi, Edi memandang bahwa budi daya kopi robusta di area sekitar rimba dmemiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan sekaligus sumber pendapatan.  “Kondisi geografis, tekstur tanah, iklim, dan ketinggian wilayah menjadi aspek pendukung pengembangan tanaman kopi,”ujarnya.

Menurutnya, dengan pengelolaan nan baik, produktivitas kopi robusta di wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 6 kg per pohon per tahun. Bahkan, tanaman kopi robusta nan tumbuh optimal di dataran tinggi berpotensi menghasilkan12 kg per pohon. Tetapi roduktivitas tersebut tidak bisa dicapai sejak awal penanaman. Tanaman kopi memerlukan waktu beberapa tahun hingga mencapai produksi optimal. “Mulai tanam sampai produksinya meningkat menjadi sekitar 6 kg itu kurang lebih 4 tahun. Setelah usia 4 tahun sudah bisa mendapatkan hasil seperti itu,” ujarnya.

Edi menilai tanaman kopi juga mempunyai kelebihan dari sisi keberlanjutan. Kopi dapat menjadi bagian dari upaya konservasi lantaran mempunyai umur produktif nan panjang dan dapat ditanam di area nan berbatasan dengan hutan. “Kopi itu umurnya panjang, bisa 125 sampai 150 tahun. Jadi sangat cocok untuk area konservasi, terutama lahan-lahan hutan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan tidak cukup hanya dengan menanam kopi. Masyarakat juga perlu mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan, mulai dari teknik budidaya, pemeliharaan, panen, pascapanen, pengolahan hingga pemasaran. “Kalau dikelola secara maksimal alias intensif, saya kira lebih dari cukup. Lahan ada, SDM-nya ada. Tinggal diberikan pelatihan, mulai langkah tanam, pascapanen, pengolahan sampai langkah marketing,” jelasnya.

Menurut dia, nilai ekonomi kopi tidak hanya berasal dari biji kopi. Dalam pengembangan kebun kopi, masyarakat dapat memanfaatkan beragam tanaman pendamping nan mempunyai nilai ekonomi. “Turunannya banyak. Kebun kopi tidak hanya kopi. Bisa ada rempah-rempah seperti kapulaga dan kayu manis, kemudian tanaman buah, tanaman pelindung dan lainnya,” kata Edi.

Ia menambahkan, pola tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh sumber pendapatan nan lebih beragam sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem kebun. 

Edi menyebut nilai kopi robusta saat ini telah meningkat signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. “Robusta nan tiga tahun sebelumnya sekitar Rp20 ribu per kg, sekarang sudah Rp60 ribu,” ujarnya.

Tingginya nilai tersebut tidak terlepas dari karakter kopi sebagai komoditas nan mempunyai pasar global. Karena itu, peningkatan kualitas produksi dan pengolahan menjadi aspek krusial agar masyarakat tidak hanya menjual kopi sebagai bahan mentah. Dengan potensi tersebut, Edi menilai area pinggir rimba nan mempunyai kondisi agroklimat sesuai dapat dikembangkan menjadi sentra kopi berbasis masyarakat. Selain memberikan nilai ekonomi, keberadaan tanaman kopi juga dapat mendukung kegunaan konservasi kawasan

Sudah lima tahun

Isrodin menambahkan bahwa budi daya kopi telah dilaksanakan sejak 5 tahun silam. Pengembangan kopi dilakukan di sela-sela tanaman pinus pada area rimba nan dikelola melalui kerja sama dengan Perum Perhutani. Saat ini terdapat sekitar 2 ribu tanaman kopi nan ditanam di lahan seluas lebih dari dua hektare (ha). “Kurang lebih sudah ada 2 ribu pohon. Lahannya sekitar dua hektare lebih. Karena satu hektare kurang lebih seribu pohon,” ujarnya.

Isrodin mengatakan, kopi nan dibudidayakan terdiri atas tiga jenis, ialah robusta, arabika, dan liberika. Namun, robusta menjadi jenis nan lebih sesuai dengan kondisi wilayah lantaran letak kebun berada pada ketinggian sekitar 700 mdpl. “Arabikanya kurang bagus lantaran ketinggiannya. Di sini tetap sekitar 700 mdpl,” katanya.

Budi daya kopi dengan langkah agrofestri tersebut diarahkan untuk mendukung konservasi. Sehingga tidak hanya Sekolah Pakis dan para siswa nan membudidayakan, melainkan juga penduduk Dusun Pesawahan dan sekitarnya. “Masyarakat kami sorong untuk memperoleh faedah ekonomi dari rimba tanpa kudu melakukan pembalakan pohon. Kopi ditanam dengan memanfaatkan ruang di antara tanaman pinus. Selain kopi, masyarakat juga mempertahankan tanaman aren nan dinilai krusial untuk menjaga sumber mata air. Jadi mereka belajar konservasi hutannya,” tambahnya.

Dengan pola tersebut, kebun kopi tidak hanya menghasilkan satu komoditas lantaran ada tanaman  pendamping seperti aren, alpukat, kapulaga dan tanaman lainnya.

Pengembangan kopi di Pakis telah berjalan selama lebih dari 5 tahun sudah bisa menghasilkan. Dalam satu musim panen, produksi kopi basah saat ini berkisar 500-800 kg. Kemudian ada proses pengeringan, hasil kopi dapat mencapai sekitar 100-120 kg, tergantung kualitas bahan dan proses pengolahannya. “Kalau menjadi kering, rata-ratanya sekitar enam banding satu,” jelasnya.

Pada pascapanen, pihaknya mendapatkan support sarana pengolahan mulai dari pengupasan kulit hingga proses sangrai. Meski demikian, peralatannya tetap mempunyai kapabilitas terbatas. “Walaupun begitu,  pengolahan kopi dari hasil panen sudah bisa dilakukan sampai pada pengepakan hingga pemasaran produknya. Nama produknya adalah Igir Alas,”ujarnya.

Kopi nan dijual diklasifikasikan berasas kualitas alias grade. Produk kopi dikemas dalam ukuran 250 gram dan dipasarkan dengan nilai berbeda. Untuk kopi grade 2, nilai mencapai sekitar Rp50.000 per 250 gram, sedangkan grade 1 dipasarkan sekitar Rp60.000-Rp70.000 per 250 gram. 

“Nah dalam pengolahan hingga pengemasan sengaja dilakukan agar anak-anak dapat belajar mengenai proses kewirausahaan secara langsung. Kita menghitung agar ada proses nilai lebih. Anak-anak belajar kewirausahaannya, sampai menjual dan membikin packaging,” ujarnya.

Ke depan, Isrodin berambisi area Pakis dapat mempunyai warung kopi nan berada tidak jauh dari kebun. Apalagi Sekolah Pakis di pinggiran Telaga Kumpe nan indah. Dengan demikian, visitor dapat menikmati kopi sekaligus memandang langsung proses budidayanya. “Harapannya di Pakis kelak juga ada coffee shop, sehingga orang nan mau ngopi bisa langsung dekat dengan tanaman kopinya.”

Isrodin mengungkapkan budi daya kopi nan diinisiasi oleh Sekolah Pakis bermaksud untuk membangun kemandirian ekonomi nan muaranya pada keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak desa. Apalagi saat ini, Sekolah Pakis  tidak hanya menjalankan pendidikan tingkat MTs, tetapi juga program Kejar Pakec C nan setara SMA. 

Karena itu, upaya produktif seperti kopi diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan. “Mimpi besarnya Pakis adalah selain melayani mereka nan tidak bisa sekolah tanpa biaya, kita mau membangun kemandirian dengan usaha. Usaha ini harapannya betul-betul bisa membantu pendidikan nan gratis,”ujarnya.

Ia optimistis budidaya kopi dapat memberikan kontribusi lebih besar andaikan produksinya terus ditingkatkan. Sehingga perlu peningkatan kapabilitas pengolahan, sarana prasarana dan pendampingan berkelanjutan. “Jika produksinya banyak, untuk operasional saya percaya bisa mencukupi. Ini bagian krusial dari upaya keberlanjutan sekolah, ialah membangun kemandirian,” ujarnya.

Selain kopi, Isrodin membuka kesempatan pengembangan produk lokal lain seperti gula aren dan beragam hasil pertanian desa. Pengembangan tersebut juga dapat diintegrasikan dengan potensi ekowisata sehingga area Pakis mempunyai sumber ekonomi nan lebih beragam.

Jaminan keberlanjutan

Jaminan keberlanjutan Sekolah Pakis sangatlah penting, lantaran telah terbukti bisa untuk melayani masyarakat sekitar rimba untuk terus mengenyam pendidikan. Sejak awal berdirinya Sekolah Pakis telah diikhtiarkan untuk menurunkan nomor putus sekolah cukup tinggi. Anak laki-laki tidak bekerja dan memilih bekerja, sedangkan anak wanita menikah muda.

Bahkan, ketika awal berdiri ditemukan anak nan tidak berguru lantaran kudu bekerja menghidupi adik-adiknya. "Dari sinilah para pegiat pendidikan sepakat mendirikan sekolah pengganti di desa itu,"ujarnya.
Bukan hanya menghadirkan pendidikan, Isrodin juga bergerilya ke rumah-rumah agar orang tuanya mengizinkan anak-anaknya untuk sekolah. “Karena dusun terpencil, banyak anak terutama wanita selepas SD tidak melanjutkan sekolah. Ujungnya adalah menikah dini. Banyak kasus seperti ini, sehingga pelan-pelan kami mengubahnya. Supaya mereka tidak segera menikah dengan langkah bersekolah,”ungkapnya.

Ini adalah langkah mini nan tersus diusahakan, apalagi kasus pernikahan awal juga tetap terjadi di Banyumas. Data menyebut pada 2024 tercatat sebanyak 424 kasus perkawinan anak. Angka tersebut turun menjadi 285 kasus pada tahun 2025 alias berkurang sebesar 32,78 persen. Hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 130 kasus.

Terpisah, Ketua Jurusan Sosiologi Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Sulyana Dadan mengatakan bahwa Sekolah Pakis menjadi pengganti pendidikan bagi masyarakat nan belum terjangkau sepenuhnya oleh pendidikan formal. Dengan pola pembelajaran nan lebih elastis dan semangat pengelola serta peserta didik, sekolah tersebut bisa memperkuat di tengah beragam keterbatasan.

“Sekolah Pakis itu saya melihatnya sebagai oase bagi pendidikan nan selama ini mainstream. Model pendidikannya tidak terlalu terformat secara kaku dan iurannya juga tidak seperti sekolah pada umumnya,” kata Sulyana nan pernah mengadakan aktivitas pengabdian dari Kampus Fisip di Sekolah Pakis.

Menurut dia, keberadaan Sekolah Pakis tidak semata-mata ditopang oleh akomodasi maupun support kelembagaan. Semangat pengelola dan peserta didik menjadi salah satu aspek krusial nan membikin aktivitas pendidikan tetap berjalan. Ia memandang antusiasme para pengelola sangat kuat. Keterbatasan nan ada tidak terlihat mengurangi semangat mereka untuk mengembangkan pendidikan dan mendampingi anak-anak nan belajar di sana. “Yang membikin sekolah ini eksis adalah semangat pengelola dan anak didiknya. Mereka berjuang di tengah keterbatasan, tetapi antusias dan semangatnya luar biasa,” ujarnya.

Keberadaan Sekolah Pakis bisa menjadi sarana untuk menurunkan nomor pernikahan dini. Karena lembaga pendidikan terjangkau secara geografis. Peran krusial lainnya adalah membuka kembali kesempatan belajar bagi penduduk nan sebelumnya tidak memperoleh akses pendidikan secara memadai. Bahkan, Sekolah Pakis dapat menjadi media untuk mendorong masyarakat, termasuk perempuan, agar kembali mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan nan layak. “Sekolah Pakis itu bisa menjadi media bagi teman-teman, termasuk wanita nan mungkin sudah menikah, untuk kembali mengenyam pendidikan nan cukup,” katanya.

Dadan berambisi model pendidikan pengganti seperti Sekolah Pakis terus dikembangkan dan mendapatkan pendampingan dari beragam pihak. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat itu menunjukkan bahwa semangat belajar tetap dapat tumbuh meskipun berada dalam keterbatasan. “Sekolah seperti Pakis perlu terus ada dan bersambung untuk melayani pendidikan penduduk di pinggiran hutan,”tambahnya. (H-2)

Selengkapnya