ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Paus Leo XIV memilih memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) sekaligus momentum 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan Negeri Paman Sam dengan mengunjungi Pulau Lampedusa, Italia, Sabtu (4/7/2026).
Di tengah kebijakan pengetatan imigrasi nan diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump, paus kelahiran Amerika Serikat itu datang untuk mendoakan para migran nan tewas saat berupaya mencapai Eropa dan memimpin misa bagi para pendatang baru.
Dalam suratnya kepada rakyat Amerika nan dirilis bertepatan dengan peringatan tersebut, Leo XIV menegaskan, penghormatan terhadap kehidupan manusia tidak hanya berfaedah melindungi mereka nan belum lahir, tetapi juga menyambut dan melindungi para migran.
"Menerima mereka dengan belas kasih dan kemurahan hati bukan hanya tindakan amal, tetapi juga pengakuan atas martabat nan melekat pada setiap manusia," tulis Leo XIV, seperti dikutip Reuters.
Kunjungan itu menjadi pesan simbolis nan kuat, baik bagi Amerika Serikat maupun Eropa. Leo XIV menegaskan bahwa negara asalnya dibangun oleh para imigran, sehingga penghormatan terhadap martabat manusia, terutama golongan paling rentan, merupakan bagian dari nilai-nilai nan kudu dijaga.
Lampedusa sendiri merupakan pulau mini di Laut Mediterania nan letaknya lebih dekat ke Afrika dibanding daratan Italia. Selama bertahun-tahun, pulau ini menjadi pintu masuk utama bagi ratusan ribu imigran nan menyeberang dari Libya dan Tunisia, sekaligus menjadi simbol krisis migrasi nan dihadapi Eropa.
Setibanya di Lampedusa, Leo XIV dijadwalkan berkunjung ke pemakaman migran, meresmikan plakat penghormatan bagi Paus Fransiskus di dermaga utama, lampau memimpin misa di alun-alun kota. Sebelumnya, bulan lalu, dia juga mengunjungi Kepulauan Canary di Spanyol untuk menyerukan agar para pemimpin Eropa tidak menutup mata terhadap penderitaan para migran serta mengecam jaringan penyelundup manusia.
Kunjungan Leo XIV sekaligus mengikuti jejak Paus Fransiskus nan menjadikan rumor migran sebagai salah satu prioritas utama kepausannya.
Pada Juli 2013, dalam perjalanan pertamanya di luar Roma setelah terpilih menjadi paus, Fransiskus mengunjungi Lampedusa, melempar karangan kembang ke laut untuk mengenang para migran nan meninggal, serta mengecam apa nan dia sebut sebagai "globalisasi sikap tidak peduli" terhadap penderitaan para pengungsi.
Kepala Misi Italia dan Malta untuk Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Salvatore Sortino, mengatakan jumlah kehadiran migran melalui rute Mediterania tengah memang menurun tahun ini. Namun, jumlah korban jiwa justru tetap tinggi secara proporsional.
"Itu menunjukkan kerentanan nan tetap tetap ada. Karena itu, kunjungan paus ke tempat semua ini terjadi menjadi pengingat nan sangat penting," katanya.
Menurut IOM, lebih dari 35.000 migran dilaporkan lenyap alias meninggal di Laut Mediterania sejak 2014, meski jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar lantaran banyak kapal karam nan tidak pernah tercatat.
Sementara itu, Komite Penyelamatan Internasional (IRC) memperkirakan sekitar 118 juta orang di seluruh bumi mengalami pengungsian paksa sepanjang tahun ini.
Di saat nan sama, Uni Eropa baru mulai menerapkan patokan migrasi baru nan mempercepat proses pemeriksaan di perbatasan dan pemulangan pencari suaka nan ditolak, kebijakan nan menuai kritik dari golongan pembela kewenangan asasi manusia lantaran dinilai berpotensi mengurangi kewenangan untuk memperoleh perlindungan internasional.
(dce)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·