ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia dilaporkan kehilangan nyaris 40.000 personel militer hanya dalam satu bulan di tengah melambatnya laju serangan di Ukraina. Saat korban Rusia terus membengkak, serangan drone dan rudal Ukraina disebut telah memperlambat laju pasukan Moskow.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut kondisi tersebut sebagai bukti strategi pertahanan Kyiv mulai membuahkan hasil.
"Jika Putin mau mengirim satu juta tentaranya lagi untuk terus melawan tembok ini, maka satu juta penduduk Rusia nan belum dimobilisasi kudu memikirkan apa nan menanti mereka selanjutnya," kata Zelenskyy, merujuk pada perkiraan korban Rusia nan telah mencapai sekitar 1,4 juta sejak perang dimulai, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (4/7/2026).
Berdasarkan perkiraan militer Ukraina, Rusia kehilangan sekitar 39.490 personel sepanjang Juni. Angka itu jauh melampaui perkiraan kapabilitas perekrutan tentara baru Rusia nan diperkirakan hanya berkisar 24.000-30.000 orang per bulan.
Institute for the Study of War (ISW) juga mencatat korban Rusia sekarang mencapai sekitar 1.298 personel untuk setiap kilometer persegi wilayah nan sukses direbut pada Juni, melonjak dari 68 personel per kilometer persegi pada periode nan sama tahun lalu.
ISW melaporkan laju kemajuan Rusia di medan perang terus menurun. Sepanjang paruh pertama 2026, Rusia hanya menguasai sekitar 622 kilometer persegi wilayah Ukraina, turun drastis dari 2.190 kilometer persegi pada periode nan sama tahun sebelumnya. Bahkan, jika penyelundupan nan belum menghasilkan kendali wilayah dikeluarkan dari perhitungan, untung bersih Rusia hanya sekitar 97 kilometer persegi.
Pada Juni, pasukan Rusia rata-rata hanya bisa merebut 1,03 kilometer persegi wilayah per hari, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 16,6 kilometer persegi per hari pada enam bulan pertama 2025. Dengan laju tersebut, Rusia diperkirakan memerlukan sekitar 14 tahun untuk menguasai sisa sekitar 20% wilayah Donetsk nan tetap berada di bawah kendali Ukraina.
Zelenskyy mengatakan perlambatan Rusia tidak lepas dari peningkatan produksi drone dan rudal jarak jauh buatan Ukraina nan digunakan untuk menghantam jalur logistik Rusia, mulai dari penyimpanan amunisi, konvoi pasokan, jembatan, hingga gardu listrik di Krimea.
"Batalion bakal menerima sumber daya tambahan," ujarnya.
Sementara itu, Komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina, Robert "Magyar" Brovdi, menyatakan pasukannya menghancurkan alias merusak 50.147 sasaran militer sepanjang Juni dan menyerang sasaran Rusia rata-rata setiap 52 detik.
Di tengah tekanan di medan perang, Rusia kembali menyatakan terbuka terhadap mediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan proposal nan sebelumnya dibahas dengan Washington tetap dapat menjadi dasar penyelesaian. Senada, ahli bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Moskow tetap terbuka terhadap proses perdamaian.
Meski demikian, Presiden Vladimir Putin mengaku telah menolak dua usulan gencatan senjata dari Ukraina lantaran menilai operasi militer Rusia tetap memberikan untung strategis. Di sisi lain, Rusia juga menghadapi tekanan ekonomi setelah pendapatan minyak sepanjang Januari-Mei dilaporkan turun sekitar 30% dibandingkan periode nan sama tahun lalu, menurut Komisioner Kepresidenan Ukraina untuk Kebijakan Sanksi Vladyslav Vlasyuk.
Penurunan tersebut disebut dipicu kombinasi hukuman internasional dan serangan Ukraina terhadap prasarana daya Rusia nan mengganggu pengedaran minyak dan pasokan bahan bakar. Namun, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak membantah adanya krisis dan menegaskan pasokan bahan bakar domestik tetap mencukupi.
Putin juga menyatakan Rusia tetap mempunyai persediaan bensin sekitar 1,7 juta ton meski pemerintah tetap memperpanjang larangan ekspor solar untuk menjaga pasokan dalam negeri.
(dce)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·