Inggris Masih Punya Luka Bertanding dengan Tim Elite Dunia

3 hari yang lalu 9
Inggris Masih Punya Luka Bertanding dengan Tim Elite Dunia Timnas Inggris(Instagram/@england)

PELATIH Inggris Thomas Tuchel mengakui kekalahan dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 meninggalkan luka nan bakal terus membekas bagi timnya. Menurutnya, Inggris juga tetap mempunyai pekerjaan besar untuk mengejar level tim-tim terbaik dunia.

The Three Lions kandas melaju ke final setelah menyerah 1-2 dari Argentina. Sempat unggul melalui Anthony Gordon, Inggris kehilangan kendali permainan sebelum kebobolan dua gol pada menit-menit akhir lewat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Hasil tersebut memaksa Inggris ke laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Miami, Minggu (19/7) awal hari pukul 04.00 WIB.

Dalam konvensi pers jelang pertandingan, Tuchel kembali mendapat pertanyaan mengenai keputusannya melakukan pergantian pemain memperkuat saat menghadapi Argentina. Pelatih asal Jerman itu menegaskan seluruh keputusan diambil demi membantu tim meraih kemenangan.

Dia tidak menampik hasil akhir membikin keputusannya dipertanyakan. Namun, sebagai pelatih, dia siap memikul tanggung jawab penuh.

"Saya mencoba membantu dan mendukung tim. Saya membikin sejumlah keputusan berasas insting, intuisi, pengalaman, dan semangat kompetitif saya. Semua keputusan diambil di tengah tekanan dan berjalan saat pertandingan berjalan," kata Tuchel.

"Kami tidak mendapatkan hasil nan diinginkan, jadi saya bertanggung jawab atas keputusan-keputusan itu," ujarnya.

Tuchel mengatakan kekalahan tersebut lebih menyakitkan bagi para pemain dan staf dibanding kritik nan datang dari luar.

"Kami nan kudu hidup dengan kekalahan ini. Ini adalah rasa sakit kami, rasa sakit saya dan para pemain. Luka ini bakal terus kami bawa. Kekalahan ini sangat menyakitkan dan kami kudu menerimanya terlebih dahulu, bukan memikirkan kritik alias komentar orang lain," ucapnya.

Pelatih berumur 52 tahun itu juga menilai Inggris tetap tertinggal dari negara-negara nan dalam beberapa tahun terakhir konsisten bersaing di level tertinggi, ialah Argentina, Spanyol, dan Prancis.

Menurut Tuchel, ketiga negara tersebut mempunyai budaya juara nan dibangun dalam waktu lama, sesuatu nan tetap kudu dikejar Inggris.

"Jarak itu ada lantaran Argentina, Prancis, dan Spanyol mempunyai tradisi juara sebagai tim nasional. Mereka membangun fondasi itu selama bertahun-tahun berbareng para pembimbing dan pemain. Kami tetap kudu menutup sedikit jarak tersebut," jelasnya.

Meski demikian, Thomas Tuchel optimistis Inggris bakal bangkit dari kegagalan ini. Ia berambisi laga melawan Prancis menjadi awal respons positif timnya.

"Kami bakal bangkit, kami bakal belajar dari pengalaman ini, dan kami bakal memberikan respons. Semuanya dimulai dari pertandingan besok. Kami sadar tetap ada jarak nan kudu dikejar dan itulah konsentrasi kami sekarang," pungkasnya.

(AFP/H-4)

Selengkapnya