Intelijen Tiongkok Curigai Keterlibatan Mossad dalam Krisis Migrasi Ceuta

2 jam yang lalu 3
Intelijen Tiongkok Curigai Keterlibatan Mossad dalam Krisis Migrasi Ceuta Imigran di Ceuta.(Al Jazeera)

BEIJING memandang krisis migrasi nan melanda kota otonom Spanyol, Ceuta, bukan sekadar masalah perbatasan biasa, melainkan melalui lensa geopolitik dan perang hibrida. Muncul teori di kalangan akademisi dan lingkaran intelijen Tiongkok bahwa gelombang besar migran tersebut merupakan bagian dari operasi intelijen nan didorong oleh Maroko dan Israel untuk mendestabilisasi Spanyol.

Pakar politik Mesir sekaligus mahir politik Tiongkok dan hubungan Sino-Israel, Nadia Helmy, memaparkan tesis ini dalam tulisan di Modern Diplomacy. Helmy berdasar bahwa laporan dari Beijing menafsirkan peristiwa di Ceuta sebagai operasi perang hibrida nan bermaksud meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sánchez. Dalam interpretasi ini, Mossad--dinas intelijen Israel--diduga terlibat lantaran kepentingan untuk mempromosikan kampanye destabilisasi terhadap Spanyol.

Ketegangan Diplomatik dan Peran Mossad

Analisis pusat intelijen Tiongkok menyoroti eskalasi ketegangan diplomatik antara Madrid dan Tel Aviv. Memburuknya hubungan bilateral, nan dipicu oleh kritik keras pemerintah Spanyol terhadap situasi di Jalur Gaza dan pengakuan negara Palestina, dianggap menjadi motif bagi Mossad untuk memperburuk krisis migrasi antara Maroko dan Spanyol.

Seorang diplomat mencatat bahwa sejak normalisasi hubungan pada 2020, Maroko dan Israel memperkuat kerja sama pertahanan dan intelijen. Teori ini juga mendapat support dari luar Tiongkok, termasuk Presiden Kolombia Gustavo Petro nan secara terbuka menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas krisis di Ceuta sebagai corak tekanan terhadap pemerintah nan mempertanyakan kebijakan Timur Tengah-nya.

Perspektif Media Tiongkok: Media resmi seperti CGTN dan Xinhua lebih konsentrasi pada pengerahan tentara Spanyol dan implikasinya terhadap perbatasan luar Uni Eropa. Namun, Global Times menyoroti bahwa krisis ini mengekspose kelemahan reformasi migrasi Uni Eropa pasca-2015.

Kepentingan Strategis Tiongkok di Maroko

Di luar dimensi migrasi, Beijing memandang krisis ini dari perspektif geostrategis nan lebih luas. Ceuta dianggap sebagai bidak dalam papan catur Mediterania barat, wilayah rute maritim esensial, prasarana pelabuhan, dan kehadiran ekonomi Tiongkok nan signifikan bertemu.

Meskipun Spanyol merupakan mitra krusial Tiongkok di Uni Eropa, Maroko menjadi mitra strategis utama Beijing di Afrika. Dalam lima tahun terakhir, hubungan ekonomi Rabat dan Beijing menguat pesat melalui proyek prasarana besar. Maroko sekarang diposisikan sebagai gerbang utama Tiongkok menuju pasar Afrika dan Eropa.

Maroko sebagai Vietnam di Afrika

Bagi Beijing, Maroko memainkan peran serupa dengan Vietnam di Asia, platform industri untuk memasok pasar Barat guna menghindari halangan perdagangan nan memengaruhi ekspor langsung dari Tiongkok. Investasi miliaran dolar dari perusahaan Tiongkok mengalir ke sektor komponen kendaraan listrik dan baterai di Maroko, memanfaatkan persediaan fosfat nan melimpah, dan letak strategis nan hanya berjarak 14 kilometer dari Eropa.

Keterlibatan perusahaan negara Tiongkok dalam proyek kereta api, energi, dan pelabuhan--terutama pelabuhan Tanger Med--menjadikan stabilitas Maroko sangat krusial bagi rantai pasok Tiongkok. Oleh lantaran itu, setiap krisis nan meletus di Ceuta alias Maroko utara bakal dinilai secara mendalam oleh Beijing mengenai dampaknya terhadap kepentingan ekonomi strategis mereka nan terus berkembang. (El Mundo/I-2)

Selengkapnya