IPB Berhasil Rakit Cabai Habanero Lokal Pertama di Indonesia

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX
IPB Berhasil Rakit Cabai Habanero Lokal Pertama di Indonesia Ilustrasi(Dok IPB University)

AHLI pemuliaan tanaman IPB University, Prof Muhamad Syukur, sukses merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia, ialah Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Jenis cabe super pedas ini menjadi varietas habanero pertama nan resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).

“Pada dasarnya cabe habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan nan terdaftar. Jadi, nan mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” kata Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Syukur dalam keterangannya, Selasa (14/7).

Tokoh di kembali pemuliaan cabe habanero lokal ini mengatakan, salah satu daya tarik utama dari penemuan ini adalah tingkat kepedasannya luar biasa nan diukur menggunakan skala scoville heat units (SHU), bisa lima kali lipat lebih pedas dari rawit biasa. Masing-masing varietas mempunyai karakter warna dan tingkat kepedasan nan berbeda.

“Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan ekstrem mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Margi 2 IPB mempunyai warna peach dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Oranye IPB nan berwarna oranye dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Kuning IPB nan berwarna kuning juga mempunyai tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU,” beber Prof Syukur.

Selain menang di tingkat kepedasan, kelebihan utama habanero rakitan IPB University ini terletak pada daya adaptasinya. Cabai habanero impor umumnya mempunyai daya penyesuaian nan rendah di suasana tropis, sementara varietas IPB University ini dirancang unik agar handal dan tahan hama/penyakit keriting kuning.

Benih keempat varietas tersebut telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga, sehingga sudah bisa diakses secara massal oleh para petani di Indonesia. Prof Syukur berambisi varietas cabe baru ini dapat berkembang di petani maupun industri. Ia memandang varietas ini mempunyai potensi serapan pasar domestik maupun global. 

“Di dalam negeri kebutuhan bakal cabe dengan kepedasan tinggi sangat besar lantaran dapat mengurangi jumlah cabe nan digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor nan berkeinginan untuk mengembangkan cabe serbuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, potensi besar juga untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membikin hot pack nan digunakan saat musim dingin,” jelas dia.

Tim peneliti telah memulai proses perakitan varietas ini sejak tahun 2020. Ia mengungkapkan, selama 6 tahun perjalanan riset, tim peneliti menghadapi beragam tantangan di lapangan.

“Pertama tentu biaya nan berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, akomodasi pendukung seperti perangkat untuk kajian kepedasan nan mahal,” pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya