ARTICLE AD BOX
Donald Trump.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump tampaknya mulai merasakan perlawanan sengit dari Iran nan menggunakan strategi diplomasinya sendiri. Pada Senin (13/7/2026), Trump mengeluhkan bahwa Republik Islam tersebut tidak dapat dipercaya untuk menghormati kesepakatan. Teguran ini ironis mengingat rekam jejaknya sendiri dalam menarik diri dari beragam perjanjian internasional.
"Itu kesepakatan nan sudah selesai, lampau mereka melanggarnya. Mereka selalu melanggarnya," ujar Trump kepada Fox News merujuk pada nota kesepahaman (MOU) nan sempat menghentikan perang secara singkat. Kritik ini memicu sorotan tajam, mengingat Trump pernah menarik AS keluar dari Kesepakatan Iklim Paris dan membatalkan kesepakatan nuklir Iran era Obama pada masa kedudukan pertamanya.
Sindiran Art of the Deal dari Teheran
Ketegangan meningkat ketika Trump menyatakan niatnya untuk mengenakan biaya (tol) bagi kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz. Menanggapi perihal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membalas dengan nada sarkastik melalui platform X, menyebut bahwa Trump secara tidak langsung melegitimasi posisi Teheran untuk memungut biaya di jalur perairan vital tersebut.
"POTUS sepenuhnya benar," tulis Araghchi. Ia menambahkan dengan nada mengejek bahwa tarif 20% nan diwacanakan terlalu tinggi. Iran bakal bersikap lebih adil dalam menentukan harga, sindiran langsung terhadap reputasi Trump sebagai penulis kitab Art of the Deal.
Realitas Perang nan tidak Terelakkan
Meskipun Trump sempat mengeklaim telah membawa perdamaian di Timur Tengah melalui penandatanganan MOU beberapa minggu lalu, dia sekarang mengubah narasinya. Dalam wawancara radio dengan Hugh Hewitt, Trump menyebut kesepakatan itu hanyalah tes nan kandas dipenuhi oleh Iran dan menganggapnya tidak berfaedah banyak.
Runtuhnya MOU ini mempertegas realitas pahit bagi Washington: Iran tetap mendikte dinamika bentrok dengan memanfaatkan kelebihan geografis di Selat Hormuz. Tim negosiator Trump, nan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, dinilai kandas mengantisipasi celah dalam bahasa norma MOU nan memungkinkan Iran mendapatkan pengaruh baru.
Catatan Krisis: Kegagalan diplomatik ini berakibat langsung pada ekonomi global. Harga minyak mentah dan perjanjian berjangka diesel melonjak tajam pada Senin menyusul kekhawatiran bakal blokade total di Selat Hormuz.
Peluang Diplomasi di Tengah Ketegangan
Meski konfrontasi bentuk kembali terjadi, termasuk serangan drone AS di Pangkalan Angkatan Laut Bandar Abbas pada 12 Juli 2026, beberapa analis memandang tetap ada ruang untuk menghindari perang total. Trump sejauh ini belum menunjukkan kemauan untuk melakukan invasi darat ke pusat produksi minyak Iran di Pulau Kharg, nan diprediksi bakal menyantap banyak korban jiwa di pihak AS.
Di sisi lain, Iran juga menjaga pemisah eskalasi dengan tidak menyerang prasarana sipil secara membabi buta, meskipun satu serangan salah sasaran dari pihak AS dilaporkan menewaskan 168 anak-anak di sekolah Iran awal tahun ini.
Danny Citrinowicz, peneliti senior di Institute for National Security Studies Israel, menyatakan kepada CNN bahwa ruang diplomasi tetap ada meskipun serangan jawaban terus terjadi. Namun, dia memperingatkan bahwa situasi bisa lepas kendali jika tindakan saling balas ini terus bersambung setiap malam tanpa patokan main nan jelas.
Kini, setelah nyaris lima bulan terjebak dalam bentrok nan dia klaim telah dimenangkannya, Trump menghadapi pertanyaan besar nan belum terjawab: Bagaimana langkah dia keluar dari perang ini tanpa kehilangan muka secara politik maupun strategis? (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·